10. Diusir

1801 Kata
"PERGI LO DARI SINI!" "Kak, jangan lempar barang-barang aku!" "LO GAK BOLEH LAGI TINGGAL DI RUMAH INI. PAPA SAMA MAMA SELALU BERANTEM GARA-GARA SIAPA? GARA-GARA LO!" Teriakan Vania membuat Senja meringis pelan. Barang-barang miliknya sudah tergeletak di halaman rumah. Kakaknya itu dengan sembarangan melempar baju-baju milik Senja. Dengan sabar, Senja memasukan setiap bajunya ke dalam tas yang tadi di lemparkan juga oleh Vania. Bahkan buku pelajaran pun ikut mengenaskan. "Pergi!" usir Vania. "Aku masih anggota keluarga kalian di sini!" bantah Senja. "Keluarga lo bilang? GUE GAK PUNYA KELUARGA PEMBUNUH KAYAK LO!" Senja hendak masuk, namun dihadang oleh Vania. "Kak, ini udah malem. Aku harus istirahat!" Vania mendorong kasar tubuh Senja hingga tersungkur di lantai. "Jangan berani-berani lagi lo masuk ke rumah ini!" ancamnya tajam sebelum dia masuk dan mengunci pintu rumah. Dug! Dug! Dug! "KAK, BUKA PINTUNYA! BIARIN AKU MASUK!" Senja berkali-kali menggedor pintu dengan keras. Dia tidak bisa jika harus tidur di luar. Dan ia juga cukup tahu bahwa Vania tidak akan membiarkannya masuk. Hari sudah begitu gelap. Setelah pulang dari kedai bersama Raksa, Senja langsung disuguhkan dengan kemarahan Vania tanpa alasan yang jelas. Vania yang masih berdiri di depan pintu lantas tersenyum puas mendengar Senja terus yang menggedor pintu. "Gue udah bilang, jangan pernah deket-deket sama Aster. Rasain sekarang akibatnya," gumamnya. Vano datang menghampiri Vania. "Kenapa lo usir Senja, Nia? Kalo Papa tau gimana?" "Meskipun dia mati dan mayatnya gak ditemukan, Papa gak bakalan peduli," ketus Vania. "Tapi tetap aja, dia masih adik kita. Gak perlu lo kasih dia pelajaran sampe kayak gitu!" Vania langsung menatap Vano dengan tatapan tak percaya. "Lo bela Senja?" "Gue cuma kasihan." "SEJAK KAPAN HATI LO LULUH SAMA PEMBUNUH KAYAK DIA?" bentak Vania tiba-tiba. Vano jelas kaget karena Vania bereaksi berlebihan seperti itu. Namun, ia tak memperlihatkan keterkejutannya. "Buka sekarang pintunya, Nia!" Vania menggeleng tegas. "Gak!" "Nia!" "Lo pilih gue atau Senja?" "Kalian berdua saudara gue, mana mungkin gue bisa milih salah satunya!" "Lo udah gak peduli sama gue!" "Gak gitu, Nia. Gue sayang sama lo lebih dari apapun!" "LO GAK SAYANG SAMA GUE!" jerit Vania. Vano panik karena depresi Vania kambuh lagi. Ia langsung memeluk kembarannya itu yang sudah memukul-mukul kepalanya. "Nia, gue sayang sama lo. Papa dan Mama juga sayang sama lo!" ucap Vano mencoba untuk meredakan kemarahan Vania. Vania menangis sejadi-jadinya. Dalam pelukannya, Vania menggeleng lemah. "Setelah kepergian Mentari, Papa jadi berubah. Papa gak sayang lagi sama gue!" raungnya. "Papa mungkin lagi sibuk, Nia. Gak mungkin kalo beliau gak sayang sama anaknya." Senja mendengar percakapan mereka di balik pintu. Hatinya perih, dia juga ingin diperlakukan seperti itu oleh Vano. Tapi sekarang, tidak ada lagi celah baginya untuk bisa masuk ke dalam lingkaran mereka. Dengan berat hati Senja pergi dari rumah itu. Langkahnya tak berarah. Berjalan tanpa tujuan, hingga ia tak sadar akan langkahnya sendiri. Mungkin ini waktunya ia berhenti menjadi benalu untuk mereka. Langkahnya sampai di halte bus. Senja duduk di sana dengan pikiran kosong. Putus asa. Itu yang dia rasakan sekarang. Entah kemana dia harus pergi. Tidak ada tempat untuknya tidur. Senja bingung harus menghubungi siapa di saat seperti ini. Pasalnya, hari sudah sangat larut. Tidak mungkin dia numpang di rumah Elijah, orang tuanya pasti kerepotan. Senja tidak ingin merepotkan mereka. Lalu Raksa? Apakah cowok itu akan membantunya? Senja rasa tidak mungkin. Pasti Raksa sudah tidur, Senja tidak ingin mengganggu cowok itu juga. *** Sorak demi sorak terdengar di setiap penjuru jalan yang dijadikan sirkuit balap liar. Suara heboh itu terdengar di kala Aster melewati finish lebih dulu dari peserta balap yang lainnya. Setelah motor sport hitam Aster berhenti, ia melepaskan helm, dan bertos ria dengan teman-temannya. "Gila, bro! Gak pernah main-main lo kalo di jalanan!" puji Noah. "Secara'kan Aster penguasa jalan, jadi gak mungkinlah dia kalah dengan mudah!" timpal Pandu. Aster tersenyum mendengar perkataan kedua temannya itu. "Vano mana? Bukannya dia mau dateng?" tanyanya. "Tadi dia telpon gue, katanya malem ini dia gak bisa dateng," jawab Noah. Aster melirik arlojinya. Ternyata sudah tengah malam, ia harus pulang. "Lo bisa terima uangnya'kan, Ndu?" tanya Aster. Pandu mengangguk. "Tenang aja, aman." Aster menang. Itu artinya ia akan menerima uang yang dijadikan taruhan. Tidak main-main, jumlah uang itu begitu banyak. Sampai puluhan juta, dan Aster selalu membaginya dengan Noah, Pandu, serta Vano agar adil. "Kalo gitu, gue balik ya?" pamit Aster. Noah dan Pandu mengangguk, mereka mundur untuk memberi jalan. Setelah Aster memakai helm, ia menarik gas motornya dengan kecepatan di atas rata-rata. Di tengah perjalanan, Aster berhenti di depan minimarket. Ia masuk ke sana untuk memberi satu bungkus rokok. Selesai dengan itu, ia duduk sebentar di depan minimarket untuk menikmati satu batang rokok. Tatapannya tiba-tiba jatuh pada seseorang yang begitu familiar di sebrang jalan. Cewek itu duduk di sebuah halte bus dengan memeluk tubuhnya sendiri. Ia yakin itu pasti Senja, tapi kenapa cewek itu ada di sana di saat hari sudah malam? Dengan langkah cepat Aster menghampiri perempuan yang ia yakini adalah Senja. "Senja?" panggilnya. Senja menoleh dengan tatapan kaget. "Aster? Lo ngapain di sini?" "Gue yang harusnya tanya, ngapain duduk di sini tengah malem? Sendirian lagi. Gak takut emangnya?" Senja tidak menjawab, bola matanya tak bisa diam untuk mencari alasan yang logis. Sedangkan Mata Aster jatuh pada tas yang ada di samping Senja. "Tas apaan tuh?" tunjuknya. "Aster," panggil Senja tiba-tiba. Aster kembali menoleh dengan alis terangkat. "Gue boleh minta tolong? Gue kedinginan, boleh ya gue nginep di tempat lo? Satu malam aja," pinta Senja. Aster jadi tidak tega melihat Senja yang menggigil kedinginan. Ia tidak tahu apa masalah cewek itu, tapi yang jelas Senja tengah membutuhkan pertolongan. Aster terlihat menimbang-nimbang. Sekilas ia melihat motornya yang terparkir di minimarket, kemudian tatapannya jatuh pada Senja yang kini tengah memelas padanya. Tanpa basa-basi, Aster mengambil tas Senja. Lalu ia menghentikan taksi yang lewat pada saat itu. "Ayo!" ajaknya. Senja masih terdiam sebelum akhirnya dia masuk ke dalam taksi bersama Aster. Bersamaan dengan itu, Aster menyebutkan alamat yang akan mereka tuju pada sopir. "Lo kesini bawa motor'kan?" tanya Senja. Aster yang duduk di sampingnya lantas mengangguk. "Terus motor lo gimana?" "Gampang. Gue bisa suruh temen buat bawa pulang." Senja mengangguk paham. Setelahnya mereka sama-sama diam, hingga mereka tiba di depan gedung apartemen elit. Senja tahu karena gedung itu begitu terang. Ketika mereka sudah menuruni taksi, Senja mengikuti langkah Aster dari belakang. Mereka sampai di apartemen milik Aster. Awalnya Senja ragu untuk masuk kesana karena tempatnya begitu mewah. Tapi Aster menyuruhnya untuk cepat masuk. "Ada kamar kosong di sebelah sana. Lo bisa tempatin kamar itu," tunjuk Aster pada salah satu pintu kamar. Lagi-lagi Senja hanya mengangguk. Entah kemana bibirnya yang rutin mengeluarkan kata-kata setiap detik itu. "Cepet ganti baju. Nanti lo masuk angin," titah Aster ketika ia mengembalikan tas itu ke pemiliknya. Saat melihat wajah Senja yang pucat, Aster tambah khawatir. "Makasih," ucap Senja nyirung karena hidungnya sudah meler. "Lo utang penjelasan sama gue. Sekarang lo mandi, terus abis itu tidur. Dan besok lo harus ngomong sama gue." Untuk kesekian kalinya, Senja hanya mengangguk. Setelah itu, ia pergi ke kamar yang ditunjuk oleh Aster. Dia menutup kamar itu rapat-rapat. Tubunya langsung ambuk di lantai saat itu juga. Senja tak kuasa lagi menahan sakit di kepalanya. Rasa sakit itu menyerang secara tiba-tiba dan tak tanggung-tanggung. Senja sampai harus menahan rintihannya agar tak terdengar sampai keluar. "Gue mohon. Jangan sekarang," lirihnya. Mata Senja terpejam menahan sakit. Sampai berkali-kali dia memukul kepalanya berharap rasa sakit itu hilang. Sekarang tubuhnya malah semakin menggigil dengan tangan gemetar. Dengan gerakan cepat, Senja meraih obat yang ada di dalam tasnya. Dia meminum obat itu dengan sekali telan. Ia yakin pasti sakitnya akan sedikit berkurang. Setelah satu jam menahan sakit, Barulah Senja bisa bernapas lega karena sakit itu perlahan menghilang. Dia bangkit untuk membersihkan tubuhnya. Lalu dia tertidur. Besoknya, Senja kembali bangun dengan wajah yang kembali ceria. Untung saja ini hari minggu, jadi ia tidak perlu pergi ke sekolah. Senja merenggangkan seluruh ototnya ketika dia keluar dari kamar. Aster tengah meneguk air minumnya dengan pakaian olahraga. Sepertinya ia habis lari pagi. "Udah bangun?" tanya Aster. Senja mengangguk. "Gue laper. Boleh... minta makan gak?" tanyanya ragu. Aster terkekeh ringan. "Sejak kapan lo jadi sungkan gini, Ja?" "Gue gak enak udah banyak repotin lo." "Lo yang bilang kita temen'kan? Gak perlu gak enakan. Kesannya gue kek orang asing di mata lo." "Sorry." "Lo boleh makan sepuasnya, tadi pagi pembantu di rumah orang tua gue nganterin makanan. Makan gih!" Aster menunjuk makanan yang tersaji di meja makan. Senja langsung menghampiri makanan itu dan wangi masakan menelusup tanpa izin ke hidungnya. "Wah, enak kayaknya!" Aster mengernyit. "Lo belum cuci muka?" Dengan polosnya Senja menggeleng. "Belum." "Astaga, Ja. Jijik banget sih, cuci muka dulu sana!" Senja nyengir tanpa dosa, ia kemudian pergi ke kamar mandi sebelum akhirnya ia kembali lagi ke tempat tadi untuk memenuhi panggilan perutnya. Sedangkan Aster kini tengah duduk di sofa dengan pakaian yang belum ganti. "Lo gak makan?" tanya Senja. "Nanti. Lo aja duluan. Buruan makan, lo harus ngomong sama gue." Senja mengangguk, sebelum akhirnya ia menyantap makanannya dengan lahap. Jika dia tidak mengingat Aster pasti makanan itu sudah habis. Setelah selesai makan, Senja duduk di samping Aster. Dia ikut fokus menonton berita di televisi. "Jadi, lo pergi dari rumah atau diusir?" tanya Aster, memulai pembicaraan. "Gue pergi dari rumah," jawab Senja. Jelas ia berbohong karena tidak ingin Aster mengetahui masalahnya. Aster menoleh dengan kerutan samar di dahinya. "Kenapa lo pergi dari rumah?" "Gue lagi berantem sama kakak gue." "Apa lo harus pergi dari rumah gara-gara itu?" Senja mengangguk yakin. "Gue pergi dari rumah sampai kakak gue gak marah lagi sama gue." "Kalo semalem gak ada gue, lo mau tidur di mana?" Senja memicingkan matanya untuk berpikir. Detik selanjutnya, dia menatap Aster dengan tatapan haru. "Lo pahlawan gue...." "Habis ini lo mau kemana?" tanya Aster. Senja menggeleng. "Gak tau. Gue boleh kerja di sini gak?" "Hah? Kerja? Kerja jadi apa?" "Kan di sini gak ada yang kerja sebagai pembantu, gimana kalo gue aja yang jadi pembantu di sini?" usul Senja dengan semangat. "Gue gak butuh. Tiap hari pembantu dari rumah orang tua gue dateng kesini buat beresin apartemen," tukas Aster. "Atau engga, gue jadi pesuruh lo aja, gimana? Lo gak perlu bayar, lo tinggal kasih gue tumpangan buat tidur dan makan aja udah cukup." Katakan saja Senja tak tahu malu. Jika bukan Aster, siapa lagi yang akan menolongnya? Aster menghela napasnya, kemudian dia mengangguk. "Oke kalo gitu, lo boleh jadi pekerja di rumah ini." Wajah Senja langsung berbinar. Dia senang bukan main. "Beneran? Makasih, Aster!" Dengan spontan Senja memeluk cowok itu. Aster sebagai korban menjadi speechless akibat ulahnya. Mungkin bagi cewek itu hal ini biasa saja, tapi tidak bagi Aster. Jantungnya mendadak tidak baik-baik saja. "Gue seneng banget!" seru Senja. Aster kembali tersadar dari keterdiamannya. Namun, ia kembali terpaku dengan senyuman Senja yang tak pernah lepas dari wajah cantik itu. Ada getaran aneh di hatinya saat ini. "Gak mungkin gue suka sama dia."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN