11. Dipecat

1543 Kata
Hujan sering kali turun membasahi bumi. Sekarang memang musimnya. Hujan sering kali membatasi gerak manusia, tapi anehnya hujan bisa turun dengan begitu indahnya. Karena tahu sore ini akan turun hujan, Senja membawa payung ke sekolahnya. Dengan membuka payungnya, dia mampu berjalan menembus hujan. Tapi langkahnya terhenti ketika Raksa baru keluar dari ruang OSIS. Sekilas dia melirik arlojinya. Masih ada waktu untuknya mengganggu Raksa sebentar. Setelahnya dia berlari menghampiri cowok itu. "Sa. Mau numpang sama gue buat ke parkiran gak?" tawar Senja. "Gak," tolak Raksa mentah-mentah. Senja memberenggut. "Padahal'kan kalo pun numpang ke payung gue gak bakalan basah baju lo." Raksa tak memperdulikam celotehan Senja lagi. Ia berlari menembus hujan tanpa payung atau apapun. Dengan sigapnya Senja mengejar dan mendadak langkah Raksa jadi terhenti karena cewek itu berdiri tepat di hadapannya. Senja mendongak karena tubuh Raksa lebih tinggi darinya, memperlihatkan senyuman manisnya. Dia dengan sukarela memayungi Raksa di tengah hujan walau sebagian tubuhnya ikut basah. Beberapa saat Raksa terpaku. Seketika waktu terasa berhenti karena sekarang mereka begitu dekat. Seperkian detik ia tersadar dan berdecak keras. "Kenapa lo halangin jalan gue?" "Gue pokoknya mau payungin lo!" kukuh Senja. "Tapi gue gak perlu payung," tandas Raksa. Senja menggeleng. "Lo perlu payung!" "Nyusahin," dengus Raksa. Ia langsung ikut memengang payung dan merangkul Senja. Kemudian dia berlari membawa cewek itu ke parkiran. Senja terpaku dibuatnya. Dia melirik tangan Raksa yang menyelimuti tangannya di gagang payung. Hatinya senang bukan main bisa satu payung dengan Raksa. Mereka berhenti tepat di depan pintu mobil Raksa. "Udah'kan?" Senja mengangguk berkali-kali. "Makasih!" Raksa mengernyit. "Harusnya gue yang bilang makasih." "Gak papa. Gue aja. Makasih udah mau gue payungin." "Aneh, lo!" decihnya. Senja malah tertawa ringan. Dia menatap Raksa dengan terang-terangan membuat cowok itu jadi salah tingkah. "Gue harus pulang," pamit Raksa. Senja mengangguk sebagai jawaban. "Hati-hati, Sa." Tanpa kata lagi Raksa masuk ke dalam mobilnya. Sedangkan Senja masih tetap di posisinya. Tadinya dia ingin pulang numpang pada Raksa. Tapi tidak jadi karena ingat sekarang dirinya mempunyai pekerjaan. Senja melambaikan tangannya ketika mobil itu mulai melaju keluar dari area sekolah. Senyum tak pernah lepas dari bibirnya. Hatinya buncah seketika di kala dirinya masih merasakan tangan hangat Raksa di punggung tangannya. Dengan langkah riang, dia juga meninggalkan area sekolah dan pergi ke kedai yang tak jauh dari sana. Rutinitasnya sekarang berubah. Setiap hari dia harus pergi untuk bekerja. Senja bekerja tanpa hambatan apapun. Seperti biasa, mengantarkan pesanan setelahnya dia mencuci piring dan mengepel lantai jika kedai sudah lumayan sepi. Seperti sekarang ini, dirinya tengah mengelap satu persatu meja kedai. Matanya jatuh pada tayangan iklan di televisi yang menampilkan wajah ibunya. Ajeng, ibunya, adalah brand ambassador sebuah produk yang lumayan terkenal. Ketika di rumah, jarang sekali dia menemui wanita itu. Tapi sekalinya bertemu, Ajeng tidak sama sekali menyapanya. Itu lebih menyakitkan dari pada ucapan pedas yang sering kali si kembar lontarkan padanya. "Ma, aku kangen sama Mama. Kapan aku bisa peluk mama lagi?" ucapnya Sendu. Wajah Senja yang awalnya muram, kini dia paksakan untuk tersenyum. "Jaga kesehatan ya, Ma." "Senja!" Panggilan itu mengalihkan perhatiannya. Kania memanggilnya untuk mengantarkan pesanan pada seseorang yang tengah duduk di pojok. Dengan hati-hati Senja meletakan kopi panas di meja yang di tempati oleh seorang pria paruh baya dengan pakaian rapi. Namun tiba-tiba- PRANG! "Arrghh!" Senja terperanjat kaget ketika gelas itu tumpah dan mengenai tangan pelanggan. Tangannya mendadak mati rasa. Orang itu langsung bangkit dari duduknya. Menatap Senja dengan penuh amarah. "PEGAWAI MACAM APA KAMU INI?" sentaknya. Senja tersentak. "Maaf, Pak. Saya gak sengaja!" "GAK SENGAJA KAMU BILANG? TANGAN SAYA JADI TERLUKA AKIBAT KOPI PANAS ITU!" hardik sang pelanggan. Senja menunduk ketakutan karena suara keras itu. Beberapa pelanggan yang lain sampai menoleh karena keributan yang tercipta di sana. "SAYA TIDAK MAU TAHU, SAYA MINTA GANTI RUGI! PANGGIL MANAJER KAMU SEKARANG!" Senja tambah ketakutan. Dia takut akan di pecat dari pekerjaannya. Dan tanpa di panggilpun manajer kedai itu datang menghampiri mereka. "Ada apa ini?" tanya Pak Budi, manajer kedai. "Tangan saya terluka karena ulah dia!" tunjuk orang itu pada Senja yang masih menunduk ketakutan. "Saya tidak sengaja, Pak!" elak Senja. Terlihat jelas kemarahan dari raut wajah Pak Budi. Ia pasti marah pada Senja saat ini. "Saya minta maaf atas kelalaian pegawai saya," ucap pak Budi. "Saya minta ganti rugi karena tangan saya terluka!" Senja melirik tangan orang itu. Memang benar, tangannya jadi memerah seperti luka bakar. Tapi dia bersumpah, dia melakukannya dengan tidak sengaja. "Saya akan panggilkan ambulan. Biar pihak kami yang bertanggung jawab!" "Saya ingin orang yang tidak becus ini dipecat!" Senja langsung mendongak kaget. "Saya benar-benar gak sengaja, pak. Tolong jangan pecat saya!" mohonnya pada sang manajer. Pak Budi langsung menelpon ambulan, tak lagi memperdulikam permohonan Senja. Tak lama ambulan datang, membawa pria tua itu untuk di tangani di rumah sakit. "Kamu ikut saya!" titahnya pada Senja. Senja menurut. Dia mengikuti pak Budi ke ruangannya. Ketika sudah di dalam ruangan manajer, pak Budi berbalik. Menatap Senja dengan kemarahan. "Saya sudah mempercayai kamu untuk bekerja di sini, itu artinya kamu tidak boleh lalai sedikitpun!" murkanya. Senja menunduk mendengarkan murkaan manajernya itu. Tangannya saling bertautan, mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri. "Lalu apa tadi? Pelanggan saya marah karena ulah kamu! Sekarang kamu di pecat, jangan pernah datang lagi ke kedai ini! Dan kamu tidak akan menerima gajih!" Senja mendongak, dia tidak percaya dengan apa yang pria itu katakan. "Pak, tapi saya di sini sudah kerja satu minggu. Saya berhak menerima gaji atas kerja keras saya!" bantahnya. "Kerja keras kamu bilang? Kerja keras dengan ketidakbecusan itu? Iya?" cercah pak Budi. "Saya berhak menerima gaji!" tekan Senja, kali ini dia lebih berani. "Pergi kamu dari kedai ini, dan jangan pernah lagi datang kesini untuk bekerja!" usir pak Budi dengan kasar. "Saya tidak akan pergi sebelum anda memberikan saya gajih! Saya di sini sudah bekerja keras!" "Pergi saya bilang! Kamu sudah di pecat." Senja menggeleng. Dia kini menggertakan giginya menahan amarah. Dia tidak terima jika harus di perlakukan seperti itu. Dengan heboh, Senja melempar segala barang yang ada di ruangan itu. Dia akan berulah untuk membalas perbuatan manajernya itu. Pak Budi langsung kaget karena Senja melemparkan benda-benda yang ada di ruangan itu. PRANG! BRAK! "APA-APAAN KAMU?" *** "Bagi rokoknya, Ndu," pinta Noah pada Pandu yang kini tengah mengisap rokoknya. Pandu dengan sukarela memberikan satu batang rokok miliknya. Noah pun mulai menghipas rokok pemberian temannya itu. Mereka kini tengah berkumpul di sebuah warung kopi. "Kemarin gue ketemu sama Vania di klinik tante gue, dia kenapa, No?" tanya Pandu. Vano yang merasa ditanya lantas menjawab, "Ada masalah sama mentalnya." Pandu menatap Vano dengan kaget. "Kenapa sampe kayak gitu? Gue gak nyangka kalo ternyata Vania sakit." "Sejak kepergian Mentari dia jadi depresi karena nyokap sama bokap jadi sibuk dengan urusan masing-masing," jelas Vano. Pandu dan Noah mengangguk mengerti. Mereka berdua sudah tahu masalah keluarga Vano. Temannya itu seringkali bercerita. Sedikit-sedikit mereka tahu apa yang terjadi di keluarganya. Mereka hanya mengetahui tentang kematian Mentari, adiknya Vano, tidak dengan penyebabnya. Mereka tidak tahu karena temannya itu tidak pernah menceritakan hal itu. Aster yang tidak tahu apa-apa hanya menyimak. Ia jarang mendengar cerita tentang keluarga Vano. Jadi, ia tidak tahu tentang kematian Mentari. Tapi setelah mengenal Senja, dirinya jadi penasaran akan keluarga temannya itu. Ia merasakan ada yang ganjil, Vano sama sekali tidak pernah mengungkit masalah tentang Senja. Temannya itu seperti menganggap Senja tidak ada. "Oh ya. Gue baru sadar, lo belum pernah ungkit tentang Senja, adik lo," ucap Aster tiba-tiba. Pandu dan Noah mengangguk setuju dengan perkataan Aster. Vano terdiam. Ia tak menjawab. Lebih tepatnya, ia tidak mau membahas tentang Senja. Entalah, Vano tidak mau membuka rasa sakit di hatinya ketika nama adiknya itu di sebut. Ia masih memendam kebencian pada Senja setelah kepergian Mentari. "Gue gak mau bahas tentang dia," jawabnya. Aster, Pandu dan Noah saling tatap. Memberikan kode agar mereka tidak lagi membahas tentang Senja. Aster malah sibuk dengan pikirannya sendiri. Keterdiaman Vano tadi jelas mengundang keanehan dalam dirinya. Sebenarnya ada apa dengan mereka? "Udah beberapa hari Senja nginep di apartemen gue," ucap Aster. Vano langsung menoleh kemudian berdecih. "Kenapa lo gak usir aja?" Aster tak percaya dengan perkataan Vano. "Maksud lo?" "Dia bakal nyusahin lo, mendingan lo usir dia sebelum cewek itu keenakan tinggal di apartemen lo." "Kenapa lo berfikir kayak gitu?" tanya Aster heran, "Dia adik lo, No. Seharusnya lo khawatirin dia." Vano mendengus tidak suka. "Gue gak pernah anggep dia sebagai adik lagi." Ucapan Vano membuat kening Pandu dan Noah berkerut. Mereka heran kenapa temannya itu terkesan seperti tidak suka pada Senja. Padahal jelas-jelas mereka bersaudara. Deruan napas Aster mengeras, perkataan Vano membuatnya emosi. "Apa masalah lo sama Senja, No?" Vano menatapnya tajam. "Lo gak perlu tahu. Lo bukan siapa-siapanya Senja. Dari pada lo nyesel, mendingan lo gak usah lagi berhubungan sama cewek itu, dia gak baik buat lo." "Apa yang buat lo segitu marahnya sama Senja?" Aster terus bertanya. Pandu dan Noah sudah merasakan aura ketegangan di antara kedua temannya itu. Mereka khawatir Vano dan Aster berkelahi. Pasalnya mereka kini sudah saling melemparkan tatapan tajam. "Lo gak perlu tahu." Vano langsung bangkit dari duduknya meninggalkan mereka yang menatapnya heran. Terutama Aster, ia semakin penasaran dengan apa yang terjadi di keluarga Vano. Vano berjalan menghampiri motornya. Namun, tiba-tiba benda pipi yang ada di celananya bergetar. Saat melihat layar, tertera nomor yang tidak ia ketahui di sana. "Hallo?" "Kak, ini Senja. Bantuin aku, Kak. Aku di kantor polisi."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN