12. Berkelahi

1612 Kata
Senja mengikuti Vano keluar dari kantor polisi. Setelah memberikan jaminan untuk tuntutan yang pak Budi laporkan, akhirnya Senja bisa bebas dengan cara damai. Itupun Vano yang harus memohon maaf dan ganti rugi atas kerusakan barang-barang pria tua itu. Saat keluar dari kantor polisi, Vano enggan untuk melirik ke arah Senja. Seakan-akan dia adalah objek yang menjijikan untuk di pandang. Langkah Vano tiba-tiba berhenti. Ia berbalik menghadap Senja yang kini menundukkan wajahnya. "Kenapa lo telpon gue?" tanya Vano. Senja mendongak. "Karena aku gak tau harus telpon siapa lagi selain kak Vano." "Lo tau? Lo itu nyusahin!" Vano berucap dengan nada menusuk. Senja kembali menunduk. "Aku minta maaf, kak. Aku janji, setelah ini aku gak bakalan ganggu kak Vano lagi." "Apa yang lo lakuin itu bikin gue malu! Lo pikir bisa mendapatkan uang dengan cara memalukan itu? Dengan mengacau di tempat orang lain? Itu yang lo maksud?" cercah Vano. "Tapi aku butuh uang itu." Vano mendengus kesal. "Kalo lo butuh uang, kenapa lo gak jual diri aja?" Senja tertohok dengan perkataan Vano. Bisa-bisanya kakaknya sendiri menyuruhnya untuk melakukan hal berdosa itu. Senja menatap Vano dengan tajam. "Aku gak semurahan itu untuk jual diri, kak!" bantahnya. "Gak murahan gimana? Jelas-jelas lo tinggal di tempat Aster. Dia cowok, gak mungkin lo gak berikan tubuh lo dengan sukarela. Secarakan lo gak punya uang untuk bayar sewa." "KAK! AKU BILANG AKU BUKAN CEWEK MURAHAN!" jerit Senja. Tetesan air sudah di pelupuk matanya sekarang. Vano menatapnya dengan tajam. "Oh ya? Lalu kenapa lo masih tinggal di rumah Aster? Lo mau jadi beban orang lain? Lo mau nyusahin temen gue? Iya? Sampai kapan lo mau nyusahin semua orang dengan hidup lo yang kayak gini?!" sentaknya. Senja terdiam. Dia menggertakkan giginya menahan amarah. Perkataan Vano begitu menyakitkan. Tangannya pun ikut mengepal. Vano mengeluarkan dompetnya, mengeluarkan beberapa lembar uang dari sana. "Lo butuh uang'kan?" tanyanya. "Gue harap ini lebih dari cukup!" Vano langsung melemparkan uang itu ke wajah Senja. Perih rasanya diperlakukan seperti itu oleh kakaknya sendiri. Setelah itu Vano berbalik meninggalkan Senja yang masih berdiri di tempatnya. "Kalian mau aku menghilang dari dunia ini'kan? Oke kalo gitu. Mulai sekarang, anggap kehadiranku tidak ada, itu akan lebih baik. Aku harap kalian bahagia!" seru Senja tiba-tiba. Langkah Vano sempat terhenti beberapa saat sebelum akhirnya kembali melangkah menghampiri motornya yang terparkir. Dengan kilat ia meninggalkan Senja yang sekarang sudah jongkok dengan menangis sesegukkan. "Aku gak minta apa-apa. Aku hanya ingin kalian kembali memelukku sewaktu dulu, sebelum Mentari meninggal," lirihnya. Tak dapat di pungkuri, Senja juga membutuhkan uang. Jadi dia memungut uang yang tergeletak mengenaskan di atas tanah. Sayang jika dia tinggalkan uang sebanyak itu di sana. *** Pagi-pagi sekali Senja sudah bangun. Ia membersihkan setiap sudut apartemen Aster. Tidak lupa juga ia memasak untuk sarapan cowok itu. Setelahnya ia berangkat ke sekolah dengan langkah riang. Senja sengaja berangkat lebih dulu. Karena jika dia berpapasan dengan Aster, dia akan dipaksa untuk pergi ke sekolah bersama. Dan Senja tidak mau merepotkan cowok itu lebih banyak. Setelah turun dari angkutan umum, Senja melangkah dengan riang memasuki gedung sekolah. Terlihat mobil Raksa yang sudah terparkir di parkiran sekolah, dan itu membuat hatinya semakin senang. Saat di koridor Senja melihat Raksa yang keluar dari ruang OSIS. Senyumnya semakin mengembang, tangannya hendak melambai. Namun, tangannya melayang di udara bersamaan dengan senyumnya yang luntur ketika melihat Raksa mengelus puncuk kepala Amara. Cemburu. Senja sekarang sangat cemburu. Raksa tak pernah semanis itu padanya, tapi saat bersama Amara dengan sukarela cowok itu bersikap manis. Senja langsung berbalik. Tidak mau menambah sakit hatinya dengan melihat kedekatan mereka. Kali ini dia tidak akan melarang. Karena dia sudah berjanji untuk tidak melarang Raksa dekat dengan siapun. "Senja!" panggil Aster. Senja menoleh. "Lo udah dateng ternyata?" Senja memaksakan senyumannya. Aster sekilas melirik jauh kearah Raksa dan Amara. Ia mengerti dengan perasaan Senja sekarang. "Anter gue ke kantin, ayok!" ajaknya. Senja yang sudah dirangkul oleh Aster tidak bisa menolak. Mau tak mau dia menurutinya. "Ngapain sih? Bukannya lo udah sarapan ya?" tanya Senja. Aster menggeleng. "Belum." "Masakan gue belum lo makan ya?" desahnya kecewa. Aster mengernyit bingung, alisnya bertaut. "Emang lo masak buat gue?" Senja mengangguk sebagai jawaban. "Gue gak tahu. Tadi gue buru-buru! Dahlah, nanti pulang sekolah gue makan. Sekarang anter dulu gue ke kantin." Raksa yang melihat kedekatan Senja dan Aster mengepalkan tangannya kesal. Kenapa juga lelaki itu harus merangkulnya? "Sa. Nanti malem jadi'kan?" tanya Amara. Raksa mengalihkan perhatiannya. Ia mengangguk. "Gue tunggu di toko buku." Amara tersenyum senang. Nanti malam dia akan mencari buku bank soal matematika untuk persiapan olimpiade mereka. Yang membuatnya senang adalah, akhirnya dia bisa berduaan dengan cowok yang disukainya. "Kalo gitu gue ke kelas dulu," pamit Raksa. Amara mengangguk sebagai jawaban. Tanpa kata lagi Raksa pergi ke ke kelasnya. Di kantin, Senja dan Aster duduk bersampingan. Untung saja kantin masih sepi dan hanya ada beberapa siswa, jadi Senja bisa leluasa duduk dengan Aster. "Gue dipecat dari kedai kemarin," ucap Senja tiba-tiba. "Uhuk! Uhuk!" Aster yang tengah melahap nasi goreng tiba-tiba tersedak saat mendengar perkataan Senja, buru-buru ia menegak air minum yang ada di depannya. "Kenapa dipecat?" tanyanya. "Kemarin gue numpahin kopi ke pelanggan." Aster menepuk bahu Senja. "Gak papa. Nanti gue temenin lo nyari pekerjaan lain." Wajah Senja tiba-tiba muram. "Sorry, gue udah banyak nyusahin lo." Aster berdecak. "Bosen gue denger kata-kata itu. Mana Senja yang seenaknya? Mana Senja yang ceria? Lo kenapa sih? Ada masalah? Cerita sama gue, Ja." Senja terdiam. Menatap Aster yang kini menatapnya jengah. Namun, seperkian detik dia menampilkan senyumnya yang ceria. "Nah gitu dong. Senja yang gue kenal, gak pernah lepas dari senyum cerianya," ucap Aster. *** Beberapa menit yang lalu bel istirahat berbunyi. Tapi Senja enggan untuk pergi ke kantin ataupun ke kelas Raksa. Dia sedang ingin sendiri, padahal Elijah sedari tadi memaksanya pergi ke kantin. Senja sedang malas untuk bertemu dengan Raksa. Jika dia melihat cowok itu, sakit hatinya akan bertambah. Dan sekarang dia akan menenangkan hatinya terlebih dahulu. Sebut saja dia sedang memulihkan luka. Dengan langkah pelan Senja berjalan di koridor yang lumayan sepi. Namun tiba-tiba tangannya ditarik paksa oleh seseorang untuk masuk ke gudang sekolah. Tubuh Senja terhempas hingga tersungkur di lantai. Dia meringis pelan ketika merasakan perih di telapak tangannya. Ketika mendongak, ternyata di depannya saat ini adalah Vania bersama teman-temannya. "Sekali-kali lo harus dikasih pelajaran!" ucap Vania sinis dengan besidekap d**a. "Kak, ini apa-apaan?" tanya Senja. Vania memutarkan bola matanya jengah. "Lo gak pernah kapok ternyata. Gue udah usir lo dari rumah, dan sekarang lo malah tinggal di apartemen Aster? Lo gak malu?" cercahnya. Senja bangkit. Dia menghadap ketiga orang di depannya itu. "Dia cuma bantu aku, Kak!" salaknya. "Lo yang gak tahu malu!" Vania menunjuk wajah Senja dengan telunjuknya. "Sekarang mau kakak apa?" sentak Senja. Dia sudah tidak tahan dengan perlakuan kakaknya itu. "Gue mau lo mati! Jangan pernah ada di dunia ini lagi! Gue berharap gak pernah punya adik kayak lo!" tekan Vania menusuk. Senja terdiam. Matanya hampir berkaca-kaca. Sebisa mungkin dia tidak ingin menangis. "Kenapa?" lirih Senja. "Karena lo pembunuh!" Tatapan Senja menajam. Dia mulai berani menatap Vania secara terang-terangan. Tangannya mengepal, menahan amarah yang mulai tersulut. "AKU BUKAN PEMBUNUH!" jerit Senja tiba-tiba. Vania dan teman-temannya sempat tersentak. Mereka mendengus keras. "Lo berani sama gue?" tanya Vania. Deruan napas Senja mengeras. Dia tidak ingin diklaim lagi sebagai pembunuh. Hidupnya sudah cukup hancur, dan untuk mencapai ke titik ini bukanlah hal yang mudah. Vania mendekati Senja. "Bagaimanapun lo tetep pembunuh!" bisiknya dengan kekehan ringan. Senja menatapnya dengan sengit sebelum akhirnya dia langsung menjambak rambut Vania dengan keras. Yap, anggap saja dia sudah gila. "AKH!" ringis Vania. "VANIA!" teriak kedua temannya. "GUE BILANG GUE BUKAN PEMBUNUH!" teriak Senja. Tak sampai dengan itu. Vania ikut menjambak rambut Senja. Dan mereka sekarang saling jambak. Bahkan kedua teman Vania pun ikut membantu. Terciptalah keributan di gudang. "JANGAN KASIH DIA AMPUN!" teriak Vania pada kedua temannya. Senja menggunakan kedua tangannya untuk menjambak rambut Vania dan kedua temannya. Sebisa mungkin dia mengalahkan mereka. Namun, rasa perih terasa di pipinya. ternyata salah satu dari mereka mencakarnya. Senja tidak mau kalah. Dia melayangkan kakinya ke segala arah hingga terdengar beberapa jeritan dan ringisan dari mereka. "AKH!" "SIALAN LO!" "LEPASIN!" "GAK BAKALAN GUE LEPASIN SEBELUM KALIAN LEPASIN GUE JUGA!" "AWAS LO, JA!" PLAK! BUGH! BRAK! Gudang yang semulanya rapi, kini menjadi berantakan akibat ulah mereka. Ruangan itu menjadi berisik. Ada beberapa orang yang melihat keributan itu. "WOI ADA YANG BERANTEM!" teriak seseorang dari luar. Semakin lama siswa-siswi semakin mengerubuni gudang sekolah. Tapi pertikaian di antara mereka belum juga mereda. BUGH! "AKH!" Suara debuman keras dan rintihan seseorang membuat mereka terhenti seketika. Sontak mereka semua kaget saat melihat Vania yang sudah tersungkur di lantai dengan memegang perutnya. Senja yang meresa menendang Vania langsung menutup mulutnya. Dengan cepat dia langsung menghampiri kakaknya itu. "Kak, aku gak sengaja maafin aku," ucap Senja cemas. Vania tak menghiraukan Senja. Dia terus merintih karena perutnya kesakitan. Tendangan Senja cukup membuatnya tumbang seketika. Senja yang tengah duduk di samping Vania langsung terdorong oleh seseorang yang tiba-tiba datang. Ternyata orang itu adalah Vano. "Lo gak papa'kan, Nia?" tanya Vano cemas. Hati Senja langsung tak tenang ketika melihat tatapan tajam Vano yang meliriknya sekilas. Pasti dia akan membuat kakaknya itu marah lagi. Tanpa kata, Vano langsung menggendong Vania menuju UKS. Di ikuti teman-temannya Vania yang sudah perpenampilan kacau. Senja langsung menunduk di kala Vano meliriknya lagi dengan tatapan yang lebih menusuk. Dia harus menyiapkan mental untuk menerima kemarahan Vano. Perlahan kerumunan itu merenggang. Terdengar celetukan-celetukan yang menjatuhkan Senja. Tapi dia tak sama sekali menghiraukan itu. Aster tiba-tiba datang dengan napas yang terengah-engah. Ia kini berdiri di hadapan Senja dengan kecemasan di wajahnya. "Ja, lo gak papa'kan?" tanyanya. Senja tersenyum ceria dan menggeleng dengan cepat. "Gue gak papa." Aster berdecih. "Dasar pembohong."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN