13. My Self

1780 Kata
Raksa baru saja menyelesaikan urusannya di ruang OSIS. Namun, saat dirinya tengah membereskan berkas-berkas yang berserakan di meja tiba-tiba Alga datang dengan napas terengah-engah. "RAKSA!" panggilnya dengan suara keras. Raksa menoleh. Mengangkat sebelah alisnya, seakan bertanya ada apa. "Senja berantem sama kakak kelas!" jawabnya. "Di mana?" tanya Raksa. "Di gudang sekolah!" Raksa dengan cepat langsung keluar dari ruang OSIS. Ia berjalan lebih dulu dari pada Alga untuk menuju gudang sekolah. Tapi saat sampai di sana, kerumunan ternyata sudah perlahan bubar. Raksa celingukan melihat ke dalam gudang. Sama sekali ia tak menemukan gadis itu. Hanya kekacauan yang ia lihat di sana. Raksa menoleh kearah lain. Dagunya mengeras ketika melihat keberadaan Senja bersama Aster di pinggir lapangan basket. Cewek itu tengah di obati karena beberapa luka di wajahnya. Tatapannya menajam kearah mereka. Selalu saja ia kalah cepat oleh Aster. Dan ia tidak terima akan hal itu. Alga yang melihat gelagat Raksa semakin yakin, bahwa temannya itu mulai memiliki perasaan terhadap Senja. Hanya saja perasaan itu terhalangi oleh rasa gengsi yang mendarah daging. Alga sama sekali tak membuka suara. Ia takut Raksa jadi makin emosi. Lebih baik ia diam saja. "Awh! Sakit!" ringis Senja. Sebuah kapas yang di tetesi obat merah menyentuh sikutnya. Lukanya di mana-mana akibat perkelahian tadi. Sampai-sampai wajahnya pun harus menjadi korban. "Tahan bentar!" titah Aster. Setelah selesai dengan kegiatannya mengobati setiap luka di tubuh Senja, Aster membereskan kotak P3K di tangannya. "Kenapa lo harus berantem sama Vania segitunya?" tanya Aster. Senja memegang hidungnya yang terpasang plester. "Cuma masalah kecil kok," jawabnya. "Dasar bandel!" Senja mengerucutkan bibirnya. "Wajar'kan kalo adek-kakak berantem?" "Kalo sampe babak belur gini tuh gak wajar namanya!" Senja tak lagi membalas perkataannya. Dia tidak ingin Aster tahu masalahnya. Jika cowok itu tahu, dia takut Aster akan memarahi Vania. Dan masalah akan melebar ketika itu terjadi. "Ja!" panggil Aster. Kini ekspresi wajahnya menjadi serius. Senja mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa?" "Gue mau tanya sesuatu. Dan lo harus jawab!" Senja mengangguk. "Apa?" "Gue liat-liat, hubungan lo sama si kembar selalu gak baik. Kenapa?" Senja yang sibuk melihat luka di sikutnya tiba-tiba terdiam. Gelagat anehnya terlihat oleh cowok itu. Dia menoleh pada Aster. "Gak baik gimana?" tanya baliknya. "Hubungan kalian gak kayak saudara. Gue gak ngerti kenapa kalian kayak gitu." Senja menjatuhkan tatapannya ke segala arah. "Hubungan kita baik-baik aja kok. Mereka cuma lagi kesel aja sama gue, jadi gitu deh." Aster tak berhenti menatap Senja walaupun yang di tatapnya tak menatap balik. Ia yakin, saat ini cewek itu tengah berbohong. Terlihat dari cara Senja yang mengalihkan tatapan darinya. "Oke kalo lo gak mau cerita, Ja. Kapanpun gue terbuka untuk jadi tempat lo numpahin semuanya," ucap Aster. Ekspresi Senja kini berubah. Tidak ada senyuman sama sekali di bibirnya. Wajahnya jadi terlihat muram. Kini dia menoleh lagi pada Aster. "Jangan mau dengerin cerita kelam gue. Nanti lo nyesel." Senja tiba-tiba bangkit dari duduknya. Saat dia hendak meninggalkan Aster, dia berbalik sebentar untuk mengatakan sesuatu. "Makasih udah obatin gue." Setelah itu Senja pergi meninggalkan Aster yang menatapnya heran. Cewek itu bersikap aneh. Seakan-akan dia tidak mau ada yang menyentuh masalalunya. Hati Senja menjadi tidak tenang. Dia takut Aster akan menghindar saat tahu masa lalunya. Memangnya siapa yang akan menerimanya sebagai pembunuh? Dia yakin tidak akan ada. Ketika dia melewati koridor Vano tiba-tiba menghadangnya. Senja mendongak, terlihat kedua mata kakaknya itu memancarkan kemarahan. "Ikut gue!" Senja mengikuti langkah Vano. Dan mereka terhenti di tempat yang lumayan sepi. Orang lain jarang melewatinnya. PLAK! Senja memejamkan matanya saat merasakan perih menjalari pipinya karena tamparan Vano. Sakitnya bertambah berkali-kali lipat. Bukan hanya wajahnya, hatinya pun ikut sakit. Vano ternyata sudah berani main fisik padanya. Padahal sudah jelas Senja adalah adiknya, tapi tetap saja selalu kasar. "Apa yang lo lakuain sama Vania?" tanya Vano. Senja terdiam. Hanya untuk mengeluarkan suara saja sangat susah. Ditambah lagi kepalanya kembali pening. "Jawab pertanyaan gue?!" sentak Vano. Senja kembali meringis ketika tangan kakaknya itu mencengkram kedua bahunya dengan keras. "Kak Vania yang mulai duluan," jawab Senja memberanikan diri. "Gue denger dari temannya Vania, lo yang jambak dia duluan!" "Tapi kak Vania sebut aku pembunuh, kak. Dan aku gak terima!" salak Senja. "Lo emang pembunuh! Kenapa lo gak terima?" Hatinya remuk seketika mendengar pernyataan Vano. Bukannya mengkhawatirkannya, kakaknya itu malah menambah beban di hatinya. Hidupnya memang begitu miris. "Aku minta maaf!" Senja menyerah. Ini yang harus dia lakukan, meminta maaf dengan tulus. Vano mendengus keras. "Dasar pengacau. Seharunya lo mati aja!" ucapnya menusuk. Hingga akhirnya Vano pergi meninggalkan Senja yang masih menunduk dengan ketakutan. Selepas kepergian Vano, Senja tak sama sekali mendongakkan wajahnya. Dia terus menunduk sampai bahunya bergetar karena menangis. "Hiks... Apa hidupku begitu merugikan untuk kalian? Kenapa kalian kasih aku hukuman sekejam ini!" lirihnya. *** Hari ini adalah jadwal Senja untuk pergi ke dokter. Dengan seragam yang sudah kusut, dia duduk di depan dokter Sam, dokter yang menangani penyakitnya. Dokter Sam mengernyitkan wajahnya di kala melihat wajah Senja yang terdapat plester dan beberapa goresan kecil. "Wajah kamu kenapa?" "Oh, saya tadi berantem sama temen sekolah, tapi gak papa kok, dok," jawab Senja. Dokter Sam mengangguk kecil. Kini tangannya sibuk dengan berkas yang ia baca. Dapat Senja duga itu adalah detail riset penyakitnya. "Jadi gimana, dok?" tanya Senja ragu. Dokter Sam menghela napas berat. "Saya butuh orang tua kamu untuk membicarakan hal ini." Senja mengatupkan bibirnya. Mendengar ucapan Dokter Sam membuatnya ragu untuk memberitahukan kepada orang tuanya tentang penyakit yang ia derita itu. "Kamu harus segera melakukan perawatan yang lebih intensif. Jika terus seperti ini, sel abnormal di otak kamu akan lebih cepat menyebar, atau bahkan menyebar ke semua bagian otak," terang dokter Sam. "Apakah saya akan hidup lebih lama jika melakukan perawatan?" Dokter Sam mengangguk. "Mungkin saja, tapi itu tidak menjamin. Perawatan hanya akan mengurangi gelaja dan mempertahankan kekebalan tubuh." "Seberapa parah penyakit saya sekarang, dok?" "Dari gelaja yang sering kamu rasakan, penyakit ini sudah memasuki stadium 4." Senja tertegun mendengar penuturan pria paruh baya di depannya itu. Dia tidak menyangka penyakitnya akan separah itu. "Sampai kapan saya akan bertahan jika saya tidak melakukan perawatan?" Dokter Sam menatap Senja dengan tatapan yang sulit di artikan. Mungkin pria itu heran kenapa dia bertanya seperti itu. "Sekitar 12 bulan? Jika hanya mengandalkan obat, itu akan mempercepat resiko kematian. Tapi takdir tidak ada yang tahu. Bisa saja kamu sembuh dari kanker dengan perawatan. Jadi, pikirkan baik-baik apa yang saya katakan tadi. Saya membutuhkan konsultasi dengan orang tua kamu terlebih dahulu." Tangan Senja bertaut dengan gelisah. Sejujurnya dia ingin bertahan, tapi biaya dan keadaan keluarganya yang tidak memungkinkan. Apakah orang tuanya akan mengasihaninya jika saja dia memberitahukan hal ini? Senja tidak yakin. Mereka semua berharap dia tidak ada di dunia ini. Mungkin mereka akan sangat bersyukur dirinya mengalami penyakit kanker. Mereka akan menganggapnya sebagai hukuman. Yang Senja alami adalah penyakit kanker otak atau tumor otak. Penyakit itu tidak mudah untuk di sembuhkan. Persentasenya kesembuhannya sangat kecil. Apakah bisa dia menjadi orang beruntung yang sembuh dari penyakitnya? Hidupnya sekarang benar-benar sendiri. Lalu siapa yang akan memberinya dukungan? Tidak ada. Sia-sia jika dia mengharapkan hal itu. Setelah berkonsultasi dengan dokter Sam. Senja pulang ke Apartemen Aster. Tapi langkahnya terhenti ketika dia melihat seekor kucing yang ada di dekat gedung Apartemen. Dengan perlahan Senja mendekatinya. Dia jongkok di samping kucing itu. Tangan lentiknya mengelus kepala binatang menggemaskan itu dengan lembut. "Meow... Meow...." Kucing itu seakan nyaman dengan elusan tangan Senja. Sampai-sampai kepala kucing itu meliuk-liuk untuk menerima kasih sayang darinya lebih banyak. "Kamu kesepian ya?" tanya Senja. "Meow...." "Kalo gitu kita sama. Tapi sayang banget, aku gak bisa pelihara kamu." Senja ingat. Di tasnya masih ada roti yang belum dia makan. Dengan cepat dia mengeluarkan roti dari tasnya dan memberikannya pada kucing putih itu. Dengan lahap dia memakan roti pemberian Senja. Tak berlangsung lama, Senja ikut duduk di sana. Biarkan bajunya kotor, toh bajunya sudah kotor dari awal. "Kamu pasti kelaparan. Makan yang banyak ya!" ucapnya. Senja terdiam. Dia terus memperhatikan kucing itu. Tapi sebenarnya fokusnya bukanlah pada kucing itu. Pikirannya sibuk dengan hal lain. *** Raksa pulang ke rumah dengan wajah masam. Mood-nya berantakan sejak tadi akibat melihat kedekatan Senja dan Aster. Hatinya bertanya-tanya, apakah Senja mulai berpaling darinya? Raksa berdecih. Jika itu benar, berarti rasa suka Senja hanyalah lelucon. Dan itu artinya Senja tengah mempermainkannya. Bagaimana bisa ia percaya pada cewek itu? "Kenapa tuh muka?" tanya Shaletta yang baru memasuki kamarnya. "Ngapain lo kesini?" tanya balik Raksa. Belum juga Raksa mengganti seragamnya, Shaletta masuk ke kamarnya tanpa permisi. Lihatlah, adiknya itu sekarang sudah rebahan di atas kasur miliknya. "Gue mau pinjem buku lo!" jawab Shaletta. "Keluar dulu. Gue mau ganti baju. Bisa nanti'kan?" Shaletta yang awalnya leha-leha di atas kasur langsung bangkit berdiri. "Sekarang! Gue butuh banget buat ngerjain PR matematika." Mereka adalah keluarga matematika. Dari kakek-nenek sampai cucu-cucunya semuanya jago matematika. Jadi tidak heran jika Raksa ahli dalam bidang satu ini. Bahkan sejak SMP sampai sekarang, ia sering kali memenangkan medali olimpiade. "Cari aja di rak buku gue!" titah Raksa. Shaletta manggut. Dia langsung menghampiri rak yang berisi buku-buku tebal milik kakaknya. Sedangkan Raksa sekarang sudah masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat asik memilih buku, Shaletta menemukan benda aneh di sana. Benda itu adalah Botol kecil yang berisi beberapa butir obat. Saat membaca tulisan di botol itu, dia langsung melebarkan matanya kaget. Shaletta tidak pernah menyangka kakaknya itu mengkonsumsi obat tidur. Pintu kamar mandi terbuka. Kakaknya itu rupanya sudah selesai mandi. Shaletta berbalik. "Ini apa?" Dia memperlihatkan benda itu pada Raksa. Raksa awalnya kaget, tapi ekspresinya ia normalkan kembali. "Ngapain lo pegang barang gue?" Nada bicara Raksa yang ketus tidak membuat Shaletta takut. Justru dia jadi terbiasa dengan itu. "Gue tanya ini apa?" Wajah Shaletta kini menantang. "Itu obat tidur," jujur Raksa. "Kenapa lo konsumsi obat ini, Bang?" "Karena gue butuh tidur." "Lo bisa pergi ke psikiater kalo lo masih inget kejadian waktu itu." Raksa terdiam. Ia masih berdiri di tempatnya dengan kaus polos dan celana selutut yang membalut tubuhnya. "Cepat ambil buku yang lo butuh, terus keluar dari kamar gue! Gue mau istirahat." dalihnya. Raksa tidak ingin mengingat kembali kenangan buruknya. Ia hanya ingin hidupnya tenang. Dan dengan obat tidur itu, ia bisa tidur tenang. Shaletta masih diam di tempatnya dengan tatapan tajam kearah kakaknya itu. Dia sejujurnya khawatir dengan keadaan Raksa. Dia kira, kakaknya sudah melupakan kejadia di masa lalunya. Ternyata hal itu masih membekas di hati kakaknya sekarang Raksa membuka pintu kamarnya lebar-lebar. "Keluar!" Dengan langkah kasar Shaletta keluar, tapi matanya masih terus menatap Raksa. "Jangan sering makan obat itu, gak baik!" ucapnya. "Jangan kasih tahu bunda atau ayah!" Shaletta menghela napasnya kasar. "Oke. Tapi lo harus janji jangan terlalu sering makan obat itu." Raksa mengangguk ringan. Ia menutup pintu rapat-rapat. Setelahnya ia meraih obat tidur itu dan meminumnya satu butir. Hanya dengan cara ini ia bisa tidur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN