Sudah bermenit-menit Senja habiskan waktunya hanya dengan sekedar melamun. Bahkan guru yang tengah menerangkan di depan kelas hanya jadi piguran di matanya. Fokusnya bukan lagi pada pelajaran.
Senja memikirkan perkataan dokter Sam beberapa hari yang lalu. Dia bingung, memilih antara bertahan atau menyerah dengan keadaannya yang seperti ini.
Jika Senja bertahan, apakah mungkin orang tuanya akan mendukung? Dia yakin tidak. Bahkan untuk melihat wujud dirinya saja, mereka sudah berpaling. Apa kabar jika dia memberitahukan hal ini.
Bel istirahat berbunyi. Tapi Senja masih bergeming. Elijah yang sudah membereskan alat tulisnya lantas memandang temannya itu dengan heran.
"Ja? Ngelamun mulu dari tadi. Kenapa sih?" tanya Elijah.
Senja yang tersadar langsung menoleh. Dia menggeleng. "Gak papa kok. Gue cuma pengen ngelamun aja."
Elijah menggeleng-geleng pelan. "Ada-ada aja lo."
"Eh, Ijah. Gue mau cerita."
"Cerita apa?"
"Kan gue punya temen. Temen gue tuh punya penyakit, gak taulah penyakitnya apa gue lupa. Dia pengen cerita ke orang tuanya, tapi hubungan sama orang tuanya itu gak baik. Anggap aja mereka itu jarang banget komunikasi. Menurut lo, dia mendingan cerita ke orang tuanya atau diem aja?"
Elijah sempat berpikir sesaat sebelum menjawab. "Menurut gue sih mendingan ngomong aja ke orang tuanya. Kan hubungan mereka gak baik. Ya namanya orang tua'kan pasti khawatir sama anaknya. Siapa tau'kan kalo dengan dia ngomong, hubungan mereka jadi membaik. Bener gak?"
"Bener juga sih." Senja manggut-manggut mendengar pendapat Elijah.
Apakah itu akan berlaku untuk dirinya juga? Senja perlu mencobanya. Dia akan mencoba berbicara kepada orang tuanya. Siapa tahu orang tuanya akan kembali bersikap hangat.
Setelah perbincangan itu. Senja dan Elijah pergi ke kantin. Kebetulan sekali di sana ada Raksa. Cowok itu sekarang jadi sering pergi ke kantin, entah apa alasannya.
Namun, hati Senja kembali nyelekit saat melihat ada Amara di antara Raksa, Alga, dan Ervin. Untung saja di sana masih ada tempat duduk kosong. Jadi Senja dan Elijah masih bisa bergabung.
Sebelum menghampiri meja Raksa, Senja terlebih dahulu membeli s**u kotak kesukaan cowok itu. Dia menjadikan itu sebagai percobaan terakhirnya.
Jika cowok itu meminumnya berarti Senja harus bertahan. jika tidak, dia harus menyerah. Percuma saja dia mempertahankan perasaannya untuk Raksa yang hatinya entah untuk siapa.
"Sa. Gue beliin ini buat lo." Senja meletakan kotak s**u itu di depan Raksa.
Senja berusaha untuk menyingkirkan Alga dari tempat duduknya. Jadi sekarang dengan leluasa dia bisa duduk di samping Raksa.
Raksa mengacuhkan Senja. Ia sama sekali tak melirik s**u kotak yang ada di depannya.
Dalam hati, Senja berharap Raksa akan meminumnya. Itu artinya dia masih bisa mencoba untuk menggapai cowok itu.
"Plis, Sa. Gue gak mau nyerah secepat ini. Tapi ini mungkin jadi usaha terakhir gue. Kasih gue kepastian walaupun itu samar," batin Senja.
"Buat lo, Ga."
Senyum di wajah Senja luntur seketika saat Raksa memberikan s**u kotak itu pada Alga. Alga yang menerimanya jadi tak enak hati saat melihat ekspresi Senja yang berubah seketika.
Amara tersenyum culas melihat adegan yang terjadi di depan matanya. Pintu untuk masuk ke dalam lingkaran hidup Raksa semakin terbuka untuknya. Dia yakin, mana mungkin cowok itu menyukai Senja.
Elijah langsung memberikan pelototan tajam pada mantannya itu. Seakan-akan memperingatinya untuk tidak menerima itu.
"Gue gak mau, Sa. Lo minum aja, sayang'kan kalo dibuang," tolak Alga.
"Kalo gitu sini buat gue aja," timpal Ervin yang hendak merebut s**u kotak itu. Tapi dengan cepat Alga menepis. Ia menatap tajam Ervin dan menunjuk wajah Senja dengan dagunya.
Ervin yang menyadari ekspresi Senja yang tidak mengenakan langsung mingkem. Sementara Raksa dengan tenang masih menyantap makanannya.
"Kalo gitu kasih aja ke Amara," ucap Raksa setelah menyelesaikan kunyahannya.
Amara langsung berbinar, dengan cepat dia mengambil s**u kotak itu. "Makasih, Sa."
Raksa mengangguk ringan. Sedangkan Senja sudah mengepalkan tangannya menahan kesal.
Dengan kasar Senja merebutnya dari tangan Amara. Jelas Amara tidak terima dengan itu.
"Apaan sih, Ja? Balikin gak?" kesal Amara.
"Ini punya gue!" Senja langsung menusukkan sedotan pada lubang yang tersedia di s**u kotak itu, dia meneguknya habis. Tak menghiraukan tatapan marah Amara.
Elijah yang melihat aksi Senja lantas tersenyum. Temannya itu memang paling bisa membalikkan suasana. Dia yang tersenyum, tapi malah Alga yang salah tingkah melihat senyumnya itu.
"Si babi kenapa nih?" tanya Ervin heran melihat gelagat aneh temannya.
"Mantan gue kalo senyum manisnya gak ketulungan," celetuk Alga.
Elijah yang mendengar itu langsung menoleh. "Apa lo liat-liat?" tanyanya Sengit.
"Eh buset! Ngegas mulu heran gue," balas Alga.
"Segitu keselnya lo sama Alga, Jah?" tanya Ervin.
"Benci banget gue sama orang yang demen sama banyak cewek," sindir Elijah.
Alga yang menjadi objek sindiran lantas tak terima. "Gue udah jelasin kalo dulu itu salah paham. Kenapa sih lo masih ungkit-ungkit masa lalu?"
Elijah berdecih. "Jelaslah harus diungkit. Biar lo gak berharap lagi sama gue. Ngaca dong mas, anda setampan apa sampai pengen balikan sama mantan yang udah di selingkuhin!" cercahnya.
Alga semakin berkobar. "Lo juga ngaca dong. Waktu kita pacaran lo deket sama Rayyan. Deket banget lagi!'
"Tapi kita cuma temenan!" debatnya.
"Gue waktu itu juga cuma temenan sama Nadia!"
"Temenan apa sampe pap tete segala?"
Pertanyaann Elijah membuat semuanya menatap Alga tak percaya. Yang merasa terintimidasi langsung menggeleng dengan cepat.
"OMAYGAT!" kaget Senja heboh. Dia meresa terhibur sekarang karena mereka.
"Dia yang kirim sendiri. Padahal gue gak minta!" sangkalnya.
"Gue gak nyangka lo kayak gitu, Ga. Lo laknat banget jadi makhluk," ucap Senja.
"Ngadi-ngadi lo, Ga!" timpal Ervin.
Alga mengacak rambutnya frustasi. "Sumpah. Cuma sekali gue liat kek gituan!"
"Sekali apanya? Lo sering nonton bokep di rumah gue, sat!"
Celetukan Ervin semakin memberatkan argumentasinya. Sekarang Elijah jadi tambah sengit menatapnya. Usaha Alga untuk balikan hancur seketika karena aib sialan itu.
"Nah'kan, lo yang selingkuh!" tekan Elijah.
"Tapi'kan itu gak sengaja, Jah."
Elijah mendengus keras. "Emang ada selingkuh gak sengaja? Heh, mikir dong! Lu pikir gue t***l apa?" murkanya.
Alga menghela napas dengan kasar. Dia meneguk air putih miliknya dengan sekali teguk. Emosinya tersulut. Ternyata debat dengan perempuan sama dengan bunuh diri namanya.
Ervin menepuk bahu Alga berkali-kali. "Sabar bro! Yok, semangat yok!"
Sementara Senja, Raksa dan Amara yang masih di sana hanya diam dan menyimak pertikaian yang terjadi di antara mereka.
Alga menepis tangan Ervin yang semakin keras menepuknya. "Capek gue, Vin!" adunya.
"Segitu aja udah capek. Gue yang dulu lo selingkuhin lebih capek nanggepin sikap lo yang cem babi!" kelakar Elijah.
Alga kembali menoleh, tak terima disebut babi. "Jangan manggil babi dong, Jah. Lo juga dulu pernah suka sama gue!"
Elijah mengangguk. "Iya, dulu gue pernah suka sama lo. Dan gue nyesel!"
"Lah kok gitu? Lo'kan yang dulu manggil-manggil gue sayang dichat?"
"Lo juga manggil gue sayang, bahkan sampe sekarang. Idih najong lu!" dengus Elijah.
"Apaan sih nih dua makhluk bikin gue pusing aja!" dumel Senja.
Senja kembali fokus pada Raksa. Tak lagi menghiraukan dua cecunguk yang tengah berdebat itu.
"Sa. Pulang sekolah nanti barengan, ya?" pinta Senja.
Raksa masih tak menganggap keberadaannya. Bahkan sama sekali tak menoleh. Tapi tidak apa-apa. Setidaknya ucapannya masih bisa di dengar.
"Kalo gitu gue pamit dulu. Babai my love!"
Senja bangkit, dan dia langsung menarik Elijah untuk pergi dari tempat itu. Bahkan sebelum keluar dari kantin pun tatapan sengit antara mereka berdua masih berlanjut.
"Udah, ayok. Makin panas lo nanti kalo lama-lama di sini!" ucap Senja yang semakin membawa Elijah menjauh.
Mereka belum sempat makan di kantin. Tapi untungnya mereka membeli roti untuk mengganjal perut.
***
Senja sudah mondar-mandir di depan ruang OSIS, menunggu Raksa keluar dari sana. Sudah satu jam cowok itu memimpin rapat OSIS. Walaupun bosan, Senja tak sama sekali pergi dari tempat itu.
Tak berlangsung lama. Raksa keluar dari ruangan itu dengan tergesa-gesa. Hanya cowok itu, sedangkan anggota OSIS yang lain masih di dalam.
Dengan cepat tubuh ramping Senja menghadang sosok jangkung itu. Raksa langsung menghentikan langkahnya. Lalu menatap cewek itu dengan tatapan jengkelnya.
"Sa. Gue udah satu jam nunggu di sini. Ayo kita pulang bareng!" ajak Senja.
"Suruh siapa lo nunggu?" tanyanya dengan nada kesal.
"Kan gue udah bilang, pulang sekolah kita pulang bareng."
"Gue gak bilang iya."
"Tapi'kan lo diem. Jadi gue anggap lo setuju!" kukuh Senja.
"Minggir! gue sibuk!" Raksa menyingkirkan tubuh Senja dari hadapannya.
"Tapi Sa-"
Raksa langsung berbalik. "Jangan ganggu gue dulu, gue masih ada urusan, mending lo pulang!" usirnya. Setelah itu Raksa pergi meninggalkan Senja entah kemana.
Senja langsung mengerucutkan bibirnya. "Padahal'kan gue kangen sama lo, Sa. Udah lama gue gak ganggu lo."
Raksa semakin hilang dari pandangannya. Sedangkan Senja tengah menimbang-nimbang, haruskah dia menunggu cowok itu selesai dengan urusannya atau pulang saja?
Tapi bukan Senja namanya jika menyerah begitu saja. Dia langsung mengejar Raksa yang sepertinya pergi menuju ruang guru.
Saat Senja sampai di sana, Raksa kebetulan baru keluar dari ruang guru dengan membawa map di tangannya. Dia yakin itu pasti berkas penting.
Senja tersenyum pada Raksa. "Sa. Lo butuh bantuan gue, gak?"
Raksa yang menghentikan langkahnya langsung memandang Senja dengan jengah. Helaan napas kasar terdengar dari mulutnya.
"Sampai kapan lo mau ganggu gue?" tanya Raksa.
"Gue cuma pengen bantuin lo kok. Siapa tau lo butuh bantuan."
Raksa tak lagi memperdulikan Senja lagi. Ia berjalan dengan langkah cepat untuk kembali ke ruang OSIS, rapatnya belum tuntas. Masih ada yang harus ia diskusikan dengan anggota yang lain.
Langkah Raksa tak pernah lepas dari perhatian Senja. Cewek itu rupanya masih mengikutinya.
Amara tiba-tiba hadir di depan Ruang OSIS. Senja mendelik tajam ketika melihat keberadaan rivalnya itu. Bahkan setelah sekolah sepi, Amara masih ada di sana.
"Sa. Kemarin lo bilang butuh bantuan gue. Gue sekarang free, kok!" ucap Amara.
Raksa mengangguk. "Masuk, Ra. Gue butuh bantuan lo di dalem."
Senja mengernyit heran. Lebih tepatnya tidak terima. Raksa pilih kasih padanya. Giliran Amara yang menawarkan bantuan dia mau, tapi kenapa bantuan dirinya tidak ia gubris?
"Sa. Lo kok-" Ucapan Senja tak sepenuhnya tersampaikan. Sebab, Raksa dan Amara keburu masuk ke dalam ruang OSIS dengan menutup pintu terlebih dahulu.
Senja menatap datar pintu yang tertutup itu. Sebenarnya dia penasaran, apa yang di bahas oleh mereka di dalam sana?
Untuk beberapa saat Senja masih berdiri di sana. Dia harus menelan kekecewaan lagi karena Raksa menganggapnya seperti hantu. Kalian pasti tahu wujud hantu, tidak terlihat. Seperti itulah wujud Senja di depan cowok itu.
Perasaan Senja seperti di tarik ulur. Terkadang Raksa baik, dan terkadang juga cowok itu acuh. Lalu sampai kapan dia bertahan dengan kebingungan ini?
"Lo makin sulit buat gue gapai, Sa. Apa gue nyerah aja, ya?"