15. Lampu Hijau

1954 Kata
Senja sampai di keputusan untuk menyampaikan perihal penyakitnya pada orang tuanya. Dia harus mencobanya. Setidaknya ia akan tahu, apakah ia harus bertahan atau membiarkan penyakitnya makin parah. Senja masuk ke rumah mewah milik orang tuanya. Bagian rumah yang dia masuki sepi, tapi ketika ia melangkah lebih dalam, tiba-tiba ia melihat sosok Ajeng yang menghampirinya. Senja tersenyum manis. Hendak menyapa ibunya itu. "Ma, Senja ka-" "Kenapa kamu datang lagi kesini? Bukannya kamu sudah dengan sukarela keluar dari rumah ini?" tanya Ajeng tidak mengenakan. Senyum Senja tetap dipaksakan walaupun hatinya sakit ketika mendengar ucapan pedas Ajeng. Padahal ia mengharapkan sapaan hangat dari ibunya itu. "Tapi Senja kesini mau memberitahu mama tentang satu hal." Ajeng menghela napas dengan malas. "Saya sudah tidak ingin mendengar tentang kamu! Sekarang terserah kamu mau melakukan apapun. Walaupun kamu matipun saya tidak akan peduli!" Senja diam seribu bahasa. Tak tahu harus membalas ucapan ibunya dengan apa. Hatinya tertohok di kala perkataan menyakitkan itu masuk ke telinganya. Wanita cantik itu duduk di sofa. Tak lagi menghiraukan Senja yang masih terdiam di tempatnya. Walaupun umur Ajeng sudah 40 tahun, tapi kecantikkannya tak termakan usia. Dia tetap cantik. "Saya dengar, kamu tinggal dengan lelaki. Dan lelaki itu adalah orang yang Vania sukai. Kenapa harus tinggal dengan dia?" tanya Ajeng. Tangannya sibuk membolak-balikan majalah. "Senja gak sama sekali suka sama Aster kok, Ma. Kita cuma teman, jadi mama gak perlu khawatir Senja rebut Aster dari Vania. Dan soal Senja yang tinggal di sana, Senja juga bayar pake tenaga kok," jawab Senja. Ajeng mendengus. "Kamu pikir, kamu bisa selalu menjadi beban orang lain? Kamu akan terus hidup seperti itu Senja? Menjadi benalu untuk orang-orang di sekitarmu? Iya?" Senja menunduk takut karena tatapan tajam Ajeng hampir menghunus matanya. "Saya sangat tidak ingin melihat wujud kamu walaupun kamu anak saya. Setelah Mentari terbunuh oleh kamu, kamu bukan lagi bagian dari keluarga ini!" Ajeng berbicara dengan santai, namun di setiap katanya penuh penekanan. Senja sekarang sadar. Ajeng bukan lagi ibunya yang dulu. Ibunya yang dulu selalu memanggilnya sayang sekarang tidak lagi menganggapnya sebagai anak. Coba bayangkan bagaimana rasanya tak di anggap sebagai anak! Sakit bukan? "Pergi saja kemanapun yang kamu mau. Saya sudah tidak mau lagi mengurus urusan kamu!" Setelah mengucapkan itu, Ajeng bangkit dari duduknya dan meninggalkan Senja. Senja menatap sendu punggung Ajeng yang perlahan menghilang. Bibirnya tersenyum pahit. "Aku sakit, Ma. Aku butuh dukungan mama. Bisakah mama memelukku walaupun hanya sebentar?" lirihnya pelan. Dengan langkah berat, Senja meninggalkan rumah itu. Dia berdiri tepat di depan rumah itu. Mengingat potongan-potongan memori yang terukir di ingatannya. Teringat ketika Senja bermain kejar-kejaran dengan kedua kakak dan adiknya di halaman rumah itu. Bahkan ayahnya sengaja membuat taman bermain untuk mereka. Senja tersenyum kala mengingat dulu dia senang sekali jika digentong oleh Vano. Sementara Vania sering memberikannya mainan. Kakak kembarnya itu selalu membelanya ketika ada orang yang menjaili Senja. Sepertinya kenangan indah itu tak akan lagi bisa ia temui di tempat ini. Keluarganya sudah terlanjur membencinya. Tak mau terlalu larut dalam kenangan itu, Senja segera pergi dari sana. Sekarang hatinya tidak lagi bimbang. Dia akan membiarkan saja penyakitnya semakin parah. Melakukan perawatanpun tidak ada artinya. Mungkin dengan ketidakadaannya di dunia akan membuat keluarganya bahagia. Senja ikhlas jika harus membuat keluarganya bahagia dengan cara itu. Senja sampai di apartemen Aster dengan angkutan umum. Walaupun hari sudah gelap, angkot masih melintas di jalan raya. Saat Senja masuk. Bau lezat makanan masuk ke rongga hidungnya. Rupanya Aster tengah membuat mie instan. "Baru pulang, Ja? Kenapa sih lo selalu pulang malem?" omel aster. "Gue tadi ada urusan," jawab Senja. Sekilas Aster melirik Senja. "Mau gue buatin mie instan sekalian?" Senja yang sudah duduk di meja makan mengangguk. "Boleh. Kebetulan gue lagi laper!" Tak membutuhkan waktu lama, Aster membawakan dua mangkuk berisi mie instan ke meja makan. Dia duduk di depan Senja. Senja mengisap bau mie instan itu. "Euummhh... Enak banget kayaknya!" "Jelaslah. Buatan siapa dulu!" Dengan angkuh Aster menepuk dadanya. Senja terkekeh ringan sebelum akhirnya dia mulai menyantap makanan itu. "Selamat makan!" serunya. Mereka sibuk dengan mangkuk masing-masing. Yang terdengar hanyalah suara sendok dan seruputan kuah mie. Senja melahap habis mie instannya lebih cepat dari Aster. Hingga keduanya bersendawa bersamaan. Selanjutnya mereka terkekeh akibat sendawa mereka yang cukup keras. "Oh iya, Ter. Lo dari kapan tinggal di apartemen?" tanya Senja. "Dari pas masuk SMA. Gue cuma bosen aja di rumah sendirian. Nyokap gue sibuk sama perusahaannya, sementara bokap gue sibuk di rumah sakit. Dengan kata lain mereka jarang pulang!" Senja manggut-manggut. "Tapi, beneran gak papa'kan gue tinggal di sini?" Aster menggeleng. "Orang tua gue gak bakal peduli, untuk perhatiin gue aja mereka jarang. Selalu aja pembantu di rumah gue yang siapin ini itu dari gue kecil sampe sekarang. Dulu nyokap gue sempat tinggal rehat di rumah, tapi itu gak lama. Beliau balik lagi ke pekerjaannya." Ternyata benar dugaannya. Aster itu bagian dari orang-orang broken home. Jadi tidak aneh jika di sekolah cowok itu seperti berandalan. Namun, jika di kenal lebih dekat, cowok itu mirip seperti malaikat. Tak pernah kasar kepada perempuan. Termasuk Senja. Selama Senja mengenal Aster, tak pernah sekalipun cowok itu kasar kepadanya dalam hal perkataan ataupun fisik. Dia semakin yakin, kalo cowok itu adalah orang yang berhati hangat. Jika saja hati Senja tidak terisi oleh Raksa, mungkin saja dia akan jatuh cinta pada Aster. Tapi sayangnya, Aster tak bisa menyingkirkam Raksa dari hatinya. "Seharusnya gue yang tanya, kenapa lo mau tinggal di tempat ini? Secara'kan gue cowok, bisa aja gue melakukan hal jahat sama lo." Senja menopang dagunya dengan bola matanya yang naik. Seakan dia tengah berpikir. "Eumm... Gue rasa lo gak bakal lakuin hal itu sama gue!" Aster menatapnya lurus. "Kenapa?" "Karena gue percaya lo itu orang baik. Kalo lo beneran jahat, kenapa gak dari awal lo berbuat jahat sama gue? Nih ya, gue kasih tau. Gue itu bisa liat mana orang baik, mana orang jahat," celoteh Senja. Aster tersenyum tipis melihat mata Senja yang tidak bisa diam saat berbicara. Menurutnya cewek itu begitu menggemaskan. Celotehan Senja bahkan menjadi angin lalu baginya, karena fokusnya tertuju pada wajah manis itu. Apakah Aster menyukai Senja? Jika iya, maka dia harus siap untuk menghadapi cinta yang bertepuk sebelah tangan. *** Pagi ini Senja tertimpa kesialan. Dia harus datang terlambat ke sekolah karena jalanan macet. Dan sialnya lagi anggota OSIS tengah berjaga di depan gerbang SMA Nusa Kencana. Lengkap sudah kesialannya ketika melihat dadanya yang kosong tanpa dasi. Pasti hukuman yang menimpanya akan lebih berat. Kakinya yang hampir mendekati gerbang ia arahkan balik. Dia berencana bolos saja dari pada kena hukuman. Raksa yang ada di ambang pintu pagar langsung menepuk bahu anggotanya. Menunjuk kearah Senja dengan dagunya, supaya dia memanggil cewek itu. Darren yang tadi di tepuk oleh Raksa langsung mengerti ketika melihat seorang cewek yang hendak kabur. "WOI! YANG DI SANA, MAU KEMANA LO?" Senja langsung tersentak. Dia tak berani berbalik, kakinya juga tak berani melangkah lagi. Pasti teriakan itu tertuju pada dirinya. Dengan cengiran tanpa dosa dia berbalik dan masuk ke area sekolah dengan menahan malu karena semua perhatian tertuju padanya tak terkecuali Raksa. "Hai, Sa!" sapa Senja dengan wajah tanpa dosanya. Malunya seketika tergantikan oleh rasa gembira karena keberadaan Raksa di sana. Yang disapa malah memandangnya dengan sinis. Sedangkan Darren langsung menunjuk dadanya. "Mana dasi lo?" "Di rumah," jawab Senja dengan malas. Dia berharap Raksa yang menegurnya tapi malah cowok itu. "Ngapain disimpen di rumah?" "Ya terus harus gue simpen di mana? Di tempat sampah?" sahutnya. "Seharusnya lo pake!" "Gue lupa!" Darren berdecak kesal. "Baris di sana!" Dia menunjuk ke jajaran orang-orang yang terlambat. Dengan langkah malas Senja pun berdiri di barisan paling ujung. Matanya dengan malas memperhatikan Pak Tirto yang tengah memberikan ceramahan di depan sana. "Kalian ini seorang pelajar. Harus taat pada aturan! Apa ini atribut tidak dipakai dengan lengkap, terlambat pula. Kalian niat sekolah tidak?" Mereka semua menunduk, kecuali Senja. Dia terus melihat kearah Raksa yang tengah berdiri tak jauh dari pak Tirto. Berkali-kali ia tersenyum dan melambaikan tangannya ringan kearah cowok itu. Raksa melihatnya dengan tatapan malas. Hatinya sering kali berubah-ubah. Terkadang ia kesal pada Senja, kadang juga ia ingin melihat cewek itu. Hatinya memang labil. Senja membuat tanda hati dengan gerakan tangannya. Lalu dia tiupkan kearah cowok itu. Kemudian dia bergaya bak model dengan jari yang ia bentuk menjadi hati kecil disertai kedipan sebelah matanya. "HEH! KAMU YANG DI UJUNG!" sentak Pak Tirto. Sontak Senja langsung menegakkan tubuhnya yang menegang seketika. Dia takut pak Tirto akan memarahinya. Sementara Raksa tersenyum miring melihat kebodohan Senja. "Ngapain kamu gaya-gaya kayak cacing kepanasan? Bukannya dengerin nasihat guru malah asik sendiri," omel pak Tirto. Yang lain menahan tawanya melihat Senja ditegur. Senja sendiri sekarang mingkem karena malu. "Sekarang kalian semua bersihkan seluruh toilet di sekolah ini!" Protesan tak terima terdengar dari setiap mulut kecuali Senja. "CEPAT! JANGAN PADA PROTES, SIAPA SURUH KALIAN HARUS TELAT DATANG KE SEKOLAH!" Mereka semua kemudian bubar dari barisan itu. Senja pun ikut bubar, tapi panggilan pak Tirto menghentikan langkahnya. "Mau kemana kamu?" tanya pak Tirto. Senja melihat pria tua itu dengan bingung. "Lah? Kan mau bersih toilet, Pak." "Kamu beda lagi hukumannya!" "Kok gitu?" herannya. "Karena kamu bergaya bak cacing kepanasan seperti tadi, kamu beresin buku-buku di perpustakaan!" Senja menghela napas pasrah. Mau tak mau dia harus pergi ke Perpustakaan untuk merapihkan buku-buku yang sering kali menjadi obat tidur. Helaan napas pasrah kembali terdengar di kala ia melihat perpustakaan begitu berantakkan. Padahal perpustakaan selalu rapih, tapi kenapa saat dirinya di hukum tempat itu tiba-tiba seperti kapal pecah? "Bener-bener tuh guru. Bikin murid kesusahan emang kerjaannya!" gerutunya. Di mulai dari merapihkan buku dan membereskan meja beserta kursinya, dilanjut dengan menyapu dan mengepel lantai, mulutnya tak sama sekali terkatup. Dia terus menggerutu. "Nak. Buku-buku yang ada di rak paling ujung belum rapi!" ucap pak Petrus, petugas perpus sekaligus guru. Senja berdecak kesal. Baru saja bokongnya menyentuh tempat duduk, lelaki berpakaian rapi itu mengganggu istirahatnya. "Lima menit yang lalu bapak suruh saya. Saya juga udah bolak-balik periksa kesana. Udah beres, pak!" protes Senja dengan gemas. Pak Pertus mengangguk, kembali pada kegiatan sebelum membenarkan kaca matanya yang melorot. Guru itu memang berbeda dari guru yang lain. Senja bosan berada di tempat itu. Tapi dia terlalu malas untuk mengikuti pelajaran. Matanya jatuh pada buku novel yang berada di rak paling atas. Langkahnya mendekati rak itu. Berniat meraih buku yang ada di atas sana. Namun, tangan pendeknya tak bisa menggapai buku itu. Walaupun sudah berjinjit tetap saja tak tergapai, padahal tubuhnya tidak pendek-pendek amat. "Ck, Kenapa tinggi banget sih!" decaknya. Tangannya masih mencoba menggapai buku tersebut. Tiba-tiba tangan lain yang lebih panjang darinya meraih buku itu. Sontak dia berbalik, tertegun karena Raksa kini ada di hadapannya. Jarak mereka begitu dekat. Tatapan mereka beradu. Entah kenapa mata Raksa yang biasanya tajam kini meneduh. Untuk beberapa saat Raksa larut dalam tatapan mata Senja yang menenangkan. Namun akhirnya dia kembali tersadar, memalingkan wajahnya ke arah lain. Begitupun dengan Senja, dia menjadi salah tingkah. Bingung harus melakukan apa. Matanya tidak bisa diam. "Ekhem!" Raksa berdehem untuk memecahkan kecanggungan. "Nih! Lo mau ambil ini'kan?" Raksa menyodorkan buku itu pada Senja. Dengan cepat Senja mengangguk. "Makasih, Sa." Senja menerima buku itu. Lalu tangannya membuka buku itu dengan asal. Sejujurnya dia masih canggung, tapi ia mencoba menetralkan dirinya kembali. Raksa sudah sibuk memilih buku yang dia cari. Tak lagi menghiraukan Senja. "Raksa!" panggil Senja. Raksa menoleh sekilas. "Sa, di hati lo ada gue gak sih?" gumam Senja yang dapat Raksa dengar. Gerakan tangan Raksa tiba-tiba berhenti untuk menelusuri setiap buku. "Gue sempat berpikir buat nyerah. Apa gue nyerah aja, ya?" Senja masih sibuk membolak-balik bukunya. Raksa kini sepenuhnya menghadap Senja. "Kenapa lo gak terus berusaha?" Senja mendongak, tak menyangka Raksa akan berkata demikian. Itu artinya, secara tidak langsung Raksa memberinya lampu hijau. Senja tersenyum manis. "Gue jadi makin suka sama lo, Sa." Entah untuk keberapa kalinya, Raksa terpana oleh senyuman itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN