16. Muak

1894 Kata
Hari ini Senja semangat untuk pergi ke sekolah. Bahkan pagi-pagi sekali dia sudah berada di depan kelas Raksa. Tapi rupanya cowok itu belum tiba. Sejak mendengar perkataan Raksa kemarin hatinya senang bukan main. Secara tidak langsung Raksa sudah memberinya lampu hijau. Dan itu artinya ada kemungkinan cowok itu akan menyukainya. Mata Senja berbinar di kala Raksa berjalan mendekat. Tapi mood-nya seketika langsung hancur saat melihat Amara yang berjalan di sampingnya. Kenapa harus cewek itu lagi? "Raksa!" panggil Senja. Raksa yang tengah membicarakan hal penting dengan Amara lantas menoleh. Tapi hanya sekilas, setelahnya dia sibuk lagi dengan obrolannya. Merasa panggilannya sebagai angin lalu, Senja langsung menggaet tangan Raksa yang akan memasuki kelas. "Sa, gue nunggu lo dari tadi!" ucapnya. Raksa langsung melepaskan tangan Senja dengan kasar. "Jangan dulu ganggu gue!" Senja memberenggut. "Tapi'kan gue gak ganggu. Gue cuma pengen ketemu sama lo, Sa." Raksa menatap Senja jengah. Kemudian dia menatap Amara. "Sini, Ra. Duduk, lo harus lihat contoh-contoh soal yang mungkin keluar pas olimpiade nanti," titahnya pada Amara. Raksa yang sudah duduk manis di bangku lantas mengeluarkan laptopnya. Memperlihatkan soal-soal matematika rumit yang ada di sana. Senja yang hendak duduk di samping Raksa di dahului oleh Amara. Amara yang sudah duduk tenang di sana tersenyum culas padanya. Senja berdesis kesal. Tidak terima jika rivalnya itu duduk di samping Raksa. Dengan kasar dia manarik tangan Amara untuk keluar dari bangku Raksa. "Akh!" ringis Amara. "KELUAR! GUE YANG HARUSNYA DUDUK DI SINI!" sentak Senja. "Apaan sih lo?" Amara menepis tangan Senja sama kasarnya. Raksa yang melihat kelakuan Senja, langsung menatapnya tajam. "Jangan ganggu dulu! Bisa'kan?" ucapnya dengan nada menusuk. "Tapi yang sering duduk di sini itu gue, Sa!" bela Senja. "Tapi ini bukan waktunya rebutan kursi?!" bentak Raksa yang langsung bangkit dari duduknya. Senja langsung tersentak oleh bentakkan Raksa. Tak mau terlihat lemah, dia membentak balik cowok itu. "Gue gak mau dia duduk di samping lo?!" "Lo bukan murid di kelas ini, kenapa lo ribut banget sih?" kesal Amara. Raksa menghela napasnya dengan kasar. "Keluar dari kelas ini!" "Gak!" tukas Senja. "GUE BILANG KELUAR!" sentak Raksa, kali ini lebih keras hingga membuat bulu kuduk Senja meremang. Raksa kesal bukan main karena paginya di ganggu oleh Senja. Sering kali dia di jengkel oleh sikap cewek itu. Untung saja saat dirinya berteriak kelas masih kosong. "Kemarin secara gak langsung lo bilang suka sama gue, tapi kenapa lo sekarang kasar sama gue, Sa?" Raksa menatapnya lurus. "Gue gak pernah bilang suka sama lo!" "Tapi jelas lo kemarin kasih gue kesempatan buat luluhin hati lo!" kukuh Senja. "Kemarin gue gak bilang suka, dan sikap lo yang kayak gini bikin gue tambah muak sama lo!" tekan Raksa. Ucapan Raksa menyakiti hati Senja. Kenapa cowok itu selalu bisa membuat hatinya bahagia sekaligus sakit. Deruan napas Senja menjadi kasar. Tangannyapun mengepal, menahan emosinya yang mulai tersulut. "Giliran sama dia lo ramah, giliran sama gue lo ketus banget! Lo pilih kasih!" kelakarnya. "Gue kayak gitu karena sikap lo bikin gue terganggu sekaligus risih. Kalo bisa jangan pernah lagi lo ganggu gue!" Perkataan Raksa begitu menusuk. Bibir Senja terkatup. Hatinya kembali hancur, apakah benar dia seorang pengganggu di hidup Raksa? Dan Kenapa setiap orang yang dia sayang tak mengharapkan kehadirannya? Tanpa kata lagi, Senja keluar dari kelas Raksa. Sementara Amara yang melihat itu tersenyum penuh kemenangan. Dia menertawakan kekalahan Senja terhadap dirinya. Saat Senja keluar, rupanya sekolah sudah mulai ramai. Moodnya yang tadinya naik sekarang kembali turun. Dengan langkahnya lunglai ia memasuki kelasnya. Elijah yang tengah mencatat PR dari temannya yang lain lantas menoleh. "PR lo udah di kerjain belum?" tanyanya. Senja melirik Elijah dengan bingung. "PR apa?" "Matematika." Mood Senja makin turun hingga ke dasar lautan saat kata matematika masuk ke telinganya. "Kenapa harus matematika?" dumel Senja. Elijah mengernyitkan dahinya, menatap temannya itu dengan aneh. "Mana gue tau, Ja. Udah sini lo kerjain PRnya. Gue tau pasti lo belum ngerjain." *** "Besok malam. Kamu harus menghadiri pesta ulang tahun perusahaan kakek kamu. Kalo tidak datang, semua aset yang kamu punya, Mami tarik!" Aster mendesah kesal ketika mendengar perkataan Ibunya, Rianti. Ia sangat tidak menyukai acara formal itu. Pasti akan sangat membosankan. Tahu akan seperti ini, Aster tidak akan datang ke rumah orang tuanya. Padahal ia hanya ingin menemui Rianti yang tengah berada di rumah. Anggap saja sebagai rasa rindu setelah sekian lama tidak bertemu. "Darren datang gak, Mi?" tanya Aster. Kini dia tengah duduk dengan malas di sofa ruang kerja Rianti. Rianti yang tengah sibuk dengan laptopnya, menoleh. "Dia selalu datang. Darren penurut, tidak seperti kamu!" Darren adalah sepupunya yang sempat Aster ceritakan pada Senja beberapa minggu ke belakang. Aster dan sepupunya itu sering kali tidak akur walaupun umur mereka terpaut satu tahun. Jika mereka disatukan dalam satu ruangan. Bisa-bisa celetukan Darren akan membuat Aster emosi. Pasalnya sepupunya itu adalah orang yang banyak omong. Dan omongannya itu sering kali menjatuhkan. "Kalo gitu yaudah anak penurut itu aja yang gantiin Aster buat hadir!" Aster mengedikkan bahunya. Rianti menoleh dengan tatapan berangnya. "Kamu itu penerus perusahaan, Mami. Harus disimpan di mana wajah mami kalo kamu tidak datang?" "Wajah di simpen di tempatnya'lah, Mi. Masa di tempat sampah'kan gak baik," celetuk Aster. "Kamu kenapa ngelawan omongan Mami mulu sih, heran!" "Kalo Aster diem salah, giliran Aster ngomong juga salah! Dahlah ambil aja mulut Aster, Tuhan!" "Heh! Sembarangan kamu kalo ngomong!" tegur Rianti. "Aster tuh bingung, Mi. Aster harus ikutin jejak mami atau ikutin jejak papi!" "Mami gak mau tahu. Kamu harus jadi penerus perusahaan Mami!" Rianti menegaskan. Dia kini sudah berdiri dengan kedua tangannya yang terlipat di d**a. "Lalu siapa yang akan urus rumah sakit milik Papi?" Pertanyaan itu terdengar saat seorang pria paruh baya memasuki ruang kerja Rianti. Rianti langsung menoleh keasal suara. "Rumah sakit itu bisa kamu urus sampai tua!" jawabnya. "Tetap saja rumah sakit itu butuh penerus. Tidak mungkin semuanya di hentikan saat Papi sudah tua." "Kalau begitu cucu kita saja nanti yang akan jadi penerus." "Tidak, Papi ingin segera rehat mengelola rumah sakit. Papi udah tua, Mi!" "Mami juga udah tua. Udah waktunya Mami istirahat." Aster mengusap telinganya dengan gusar mendengar perdebatan kedua orang tuanya. "Umur kalian belum tua-tua banget. Terusin aja kerjaan kalian! Ribet banget jadi orang tua," dumelnya. Kedua orang tuanya kompak menoleh. "Sekarang kamu pilih mami atau papi?" tanya mereka bersamaan. Aster menautkan keningnya heran, bisa-bisanya mereka mengajukan opsi seperti itu. "Kenapa kalian gak bikin anak lagi? Gak ada kerjaan banget harus rebutin Aster." Di saat itu pula Aster bangkit dari duduknya. Aster hendak keluar. Tapi ia menghentikan langkahnya dan berbalik. "Oh ya. Aster gak mau jadi penerus perusahaan Mami ataupun rumah sakit Papi," ucapnya sebelum kembali melangkah keluar. "Awas kalo besok kamu gak dateng ke pesta! Mami sita semua fasilitas kamu!" teriak Rianti dari dalam. Aster tak begitu peduli dengan acaman Rianti. Dengan langkah santainya, dia pergi dari rumah itu. Awalnya dia berniat menginap di sini, tapi tiba-tina teringat Senja masih ada di apartemennya. Bagaimana jika cewek itu sendirian di sana? Di apartemen, Senja duduk di balkon apartemen sendirian. Dia mescroll i********: di ponsel kentangnya itu. Niatnya ingin mencari video-video receh yang menghibur hatinya. Tapi tanpa sengaja dia melihat foto Raksa yang tengah mengelus kepala Amara di akun gosip sekolahnya. Hatinya mencelos ketika senyum Raksa terlihat di foto itu. Yang Senja rasakan sekarang adalah iri. Padahal Amara bukan siapa-siapa, tapi diperlakukan seperti itu oleh Raksa. "Gue gak terima kalo lo suka sama Amara, Sa!" gumamnya. Hatinya semakin panas ketika melihat kolom komentar yang berisi pujian dan harapan untuk keduanya. Mereka menyebut Raksa dan Amara adalah pasangan yang cocok. Mereka juga berharap keduanya tidak hanya menjadi pasangan olimpiade. "Iishh ... Sama Amara aja lo senyum, giliran sama gue juteknya gak abis-abis! Nyebelin!" Jari Senja mengetuk-ngetuk layar ponsel dengan kasar tepat di wajah tampan Raksa. "Kenapa sih?" "Astaga!" Senja terlonjak kaget saat suara muncul tepat di telinganya. Hampir saja benda pipih itu jatuh ke bawah sana jika saja tidak cepat ia peluk. "Kok kaget?" tanya Aster. Dia bersandar dengan santai di penyangga balkon. "Kenapa sih lo gak permisi dulu. Gue kaget jadinya!" dumel Senja. "Gue udah panggil lo tadi. Tapi lo gak nyaut!" Senja memberenggut sebal, kemudian dia melirik lagi layar ponselnya. Tapi tiba-tiba ponselnya mati mendadak. Dia menepuk-nepuknya dengan keras supaya nyala kembali. "Lah? Kok mati? Jangan mati dong, gue belum punya penggantinya!" Aster yang melihat wajah cemas Senja langsung merebut ponsel itu. Meneliti setiap sisi benda tipis itu. "Hape lo udah parah banget, Ja. Gue beliin buat lo, ya?" tawarnya. Senja menggeleng dengan cepat. "Gue gak mau repotin lo. sini hapenya! Nanti juga nyala lagi." Senja merebut kembali ponselnya. "Kalo gitu pake aja punya gue." Aster mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Lagi-lagi Senja menggeleng. "Gak." Aster terdiam sejenak di kala ponsel dan tangannya menggantung di udara. Kemudian dia berkata, "Gimana kalo lo temenin gue besok sebagai bayaran atas ponsel ini?" Senja berpikir sejenak. Menimbang apa yang diusulkan oleh Aster. Setidaknya dia tidak menerima pemberian Aster dengan cuma-cuma jika menerima usulan itu. "Terus lo gimana dong, kan ponselnya di kasih ke gue?" tanyanya ragu. "Gue punya dua ponsel. Ini baru aja gue beli kemarin." Senja sempat ragu. Tapi selanjutnya dia mengangguk yakin. "Oke kalo gitu, gue terima tawaran lo. Eh tapi tunggu dulu, besok kita mau kemana emangnya?" "Besok acara ulang tahun perusahaan kakek gue. Kalo gue pergi kesana sendiri, pasti gue bosen. Jadi, gue mau ajak lo kesana," terangnya. "Tapi gue'kan orang asing. Emang bisa ya gue pergi ke acara itu?" "Bisalah, gue tinggal bilang aja kalo lo pacar gue. Gimana? Kalo lo mau gue bakalan traktir lo deh sebagai bonus," bujuk Aster. Senja menggumam sebentar. Dia berpikir lagi hingga membuat Aster berdecak. "Banyak mikir! Mau apa engga?" Dengan cengirannya Senja mengangguk. "Yaudah deh. Untung juga'kan gue dapet hape sama ditraktir makan." "Eh, tapi tunggu!" ucap Senja lagi. "Kenapa lagi?" "Lo gak perlu kasih hapenya ke gue. Gue pinjem aja. Jadi, nanti kalo gue udah punya uang buat beli, gue balikin lagi hapenya ke lo." Aster menghela napasnya panjang. "Kenapa sih lo susah banget buat nerima kebaikan gue?" Senja mengedipkan matanya berkali-kali saat Aster menatapnya dengan lekat. Bibirnya maju beberapa mili hingga pipinya mengembung. "Gue'kan udah bilang, gue gak mau tambah ngerepotin lo. Udah banyak bantuan yang lo kasih ke gue. Gak tau diri banget kalo gue nerima bantuan lo lagi." "Gue udah anggep lo sebagai adik, Ja. Lo adik temen gue, dan itu artinya lo juga adik gue." "Tapi'kan-" "Tapi apa?" Aster mencubit hidung Senja dengan gemas. "Awh! Sakit ih!" ringis Senja, dia mencoba melepaskan cubitan itu. Aster meninggalkan bekas merah pada hidungnya. "Gue dari dulu pengen punya adek. Tapi sayangnya gue anak tunggal. Nyokap gue gak mau lagi punya anak setelah keguguran pas umur gue tiga tahun," curhat Aster. Senja menyimak perkataan cowok itu. Dia tahu, dari kecil Aster pasti kesepian. Jika saja cowok itu memiliki adik, pasti dia tidak akan tinggal di apartemen. "Yaudah kalo gitu. Karena gue lucu dan menggemaskan, lo bisa adopsi gue sebagai adik lo, gimana?" Senja berucap dengan pedenya, tangannya menangkup wajahnya sendiri, membuat ekspresi semanis mungkin di depan Aster. Aster menahan tawanya melihat ekspresi Senja yang terkesan dipaksakan. Dengan kasar dia mengusap wajah manis itu. Kemudian meraih tangan Senja untuk memberikan ponsel barunya. "Nih, ambil ponselnya! Terserah lo mau minjem atau mau apapun, asalkan besok lo harus temenin gue." Senja yang awalnya cemberut langsung mengangguk patuh. Perubahan setiap ekspresi di wajah Senja membuat Aster takjub. Baru saja cewek itu cemberut, kini tersenyum lagi. "Yaudah, sekarang udah malem. Tidur sana!" "Siap, komandan!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN