Hari ini, hari di mana acara ulang tahun perusahaan Adinata, perusahaan besar milik Kakeknya Aster. Dan sekarang Senja tengah bersiap untuk pergi ke tempat itu.
Alih-alih mempersiapkan diri, Senja malah termenung di kamarnya. Dia bingung harus memakai baju apa. Pasalnya, baju yang dia punya tidak ada style yang feminim. Hampir semua bajunya adalah kaos oblong dan celana jeans.
Senja menggigit ujung jari telunjuknya. Kakinya ikut bergerak kesana kemari. Matanya yang bulat tak bisa diam untuk memikirkam kondisinya sekarang.
Tok! Tok! Tok!
Pintu diketuk berkali-kali dari luar. Senja yakin itu pasti Aster. Dengan segera dia membukakan pintu untuk cowok itu.
"Udah siap?" tanya Aster.
Kini tubuh tegapnya dibalut oleh jas berwarna grey dengan kaos polos putih di dalamnya dan celana jeans hitam yang dia pakai tak mencerminkan kalo dia akan datang ke acara formal. Hingga Senja heran di buatnya, Aster akan pergi ke acara formal apa bukan?
"Gue gak punya dress untuk dipakai." Senja menggigit bibir bawahnya.
Aster mengangguk mengerti. "Lo tenang aja. Sekarang bawa tas lo. Lo perlu ke salon dulu kayaknya, gak mungkin lo dandan sendiri. Gue gak percaya," tuturnya.
Dengan bibir tercebik, Senja mengambil tas slempangnya. Kemudian mengikuti Aster yang akan membawanya ke suatu tempat.
Senja saat ini hanya memakai sweater dan celana jeans saja, di tambah rambutnya yang dicepol dengan asal. Siapapun pasti mengira cewek itu adalah perempuan urakan.
Aster sekarang tengah mengemudikan mobilnya. Sedangkan Senja melihat jalanan yang begitu ramai di sore hari lewat kaca mobil.
"Aster, ini udah mulai sore, kita gak bakalan telat?" tanya Senja.
Aster menoleh sekilas sebelum akhirnya kembali fokus ke jalanan. "Tenang aja, acaranya masih satu jam lagi!"
Tak membutuhkan waktu lama lagi, mobil Aster sampai di butik milik teman dekat ibunya. Mereka masuk ke dalam sana dengan disambut ramah oleh pemilik butik.
Mata Senja celingukan kesana kemari melihat gaun-gaun indah yang terpajang di tempat itu. Pasti harga gaun itu mahal, setahunya itu adalah butik terkenal.
"Gak kepikiran kamu bakalan dateng kesini bareng cewek loh, Aster," ucap Rinjani, pemilik butik.
"Pilihin baju buat dia, Tan," pinta Aster.
Rinjani memanggil asistennya agar memilihkan baju untuk Senja. Dia melihat perempuan yang berada di samping Aster dengan teliti. Dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Lalu Rinjani menjentikkan jari dan berseru, "Gak perlu ragu lagi. Badan kamu itu proposional, semua gaun pasti cocok."
Senja tersenyum ramah mendengar perkataan Rinjani. "Makasih, Tante."
"Nama kamu siapa?" tanya Rinjani.
"Senja, Tante." Senyum Senja jadi canggung di depan wanita paruh baya itu.
Dengan tatapan jahil, Rinjani menyenggol lengan Aster. "Cantik loh dia. Pacarmu ya?" bisiknya.
Aster tersenyum tipis. "Bukan. Dia temen Aster."
Tak berselang lama, asisten Rinjani datang dengen membawa dua dress di tangannya. Lalu dress itu di pasangkan di tubuh Senja.
"Ini pasti cocok deh. Kamu cobain ya, Ja!" titah Rinjani.
Senja meraih dress itu. Kemudian dia pergi ke ruangan kecil yang dipenuhi oleh cermin. Dia memakaikan dress selutut itu di tubuhnya. Pakaian itu begitu indah ketika membalut tubuhnya.
Warna merah marun sangat cowok di kulitnya yang hampir seputih s**u. Dress itu begitu feminim, tapi entah kenapa itu cocok di tubuh Senja sekarang. Dress yang dia pakai tak terlalu terbuka, hingga dia bisa leluasa untuk bergerak.
Selesai dengan kegiatannya, Senja keluar dari ruangan itu. Begitu cewek itu keluar, Rinjani menutup mulutnya kagum. Design ciptaanya begitu indah saat Senja memakainya.
Prok! Prok! Prok!
"Gak pernah ada yang pakai dress itu selain kamu, Ja. Dan inituh cocok banget!" seru Rinjani yang sudah bertepuk tangan dengan heboh.
Aster sampai membuka sedikit mulutnya karena terpesona oleh kecantikan Senja. Padahal wajah cewek itu belum di poles oleh apapun. Akan secantik apa dia jika wajahnya di pasang make up?
Senja berdiri canggung karena Aster menatapnya seperti itu. Di tambah lagi Rinjani berkali-kali memujinya. Itu membuat dia semakin gugup.
Dengan keras Rinjani menyenggol Aster. "Tutup tuh mulut. Kemasukan lalat baru nyaho!"
Aster langsung tersadar dari keterpesonaannya. Dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena terlanjur malu.
"Gea, kamu bisa'kan kasih sedikit make up ke wajah Senja?" tanya Rinjani pada asistennya.
Asistennya memgangguk patuh. Lalu membawa Senja ke tempat make up. Di sana bukan hanya butik, tapi sekaligus salon.
Setelah selesai dengan beberapa tahapan make up yang di pasang di wajah Senja, mereka berpamitan pada Rinjani. Tak membutuhkan waktu lama mereka sampai di tempat acara.
Senja melangkah dengan canggung di samping Aster. Semua orang yang ada di tempat ini adalah orang-orang terhormat. Jadi dia agak tidak percaya diri saat masuk ke dalam ballroom hotel yang di jadikan tempat untuk acara ulang tahun.
Ternyata keluarga Gutama juga diundang. Kini Raksa tengah berdiri dengan memasukan satu tangannya ke dalam saku celana, dan tangannya yang lain memegang gelas yang berisi air berwarna merah.
Mata Raksa tiba-tiba jatuh pada seorang gadis yang baru saja memasuki ballroom. Tatapannya terpaku pada gadis cantik itu. Dan dirinya baru tersadar bahwa gadis itu adalah Senja.
Namun hati Raksa tiba-tiba bergejolak di kala matanya menemukan sosok lain yang tengah menggandengnya. Genggaman tangannya pada gelas mengerat. Ia kini tengah mencoba menahan hasratnya yang ingin melempar gelas itu karena marah.
Itu yang membuat dirinya ragu terhadap perasaan Senja. Cewek itu jelas dengan lantang menyukainya, lantas kenapa dia sering kali terlihat bersama dengan Aster?
Padahal hati Raksa mulai terbuka untuk cewek itu. Tapi saat melihat kedekatan mereka, ia kembali menutup hatinya itu rapat-rapat.
Senja sedari tadi mengikuti Aster kemanapun. Bahkan di saat cowok itu menemui kakeknya, ia di perkenalkan sebagai pacarnya. Senja tidak apa-apa selagi itu hanya pura-pura.
Respon keluarga Aster di luar dugaannya. Mereka menyambutnya dengan ramah, bahkan dengan terang-terangan Tuan Adinata, kakeknya, menggoda cucunya itu.
"Tumben sekali kamu membawa seorang perempuan ke acara ini?" ujar kakeknya.
Aster tidak menjawab dia malah asik menggoyangkan gelas berisi air yang tinggal setengahnya.
"Bagaimana sekolah kamu, Aster?" Kali ini neneknya yang bertanya.
"Sekarang'kan kamu kelas 12, bentar lagi lulus. Mau lanjut ke universitas mana?" Disambung oleh pertanyaan tantenya.
"Oh iya. Bukannya orang tua kamu suruh kuliah di luar negeri ya? Kira-kira di mana tuh?" Dan sekarang pamannya.
Inilah malasnya pergi ke acara ulang tahun perusahaan kakeknya. Semua anggota keluarga akan berkumpul, pasti banyak pertanyaan yang mereka ajukan bak wartawan.
"Emang kalo belajar di luar negeri otak dia bakalan tahan?" celetuk Darren. Entah sejak kapan sepupunya Aster ada di sana.
Rahang Aster mengeras mendengar celetukan Darren. Bocah itu memang paling bisa membuat radar kemarahannya terdeteksi.
"Loh? Ngapain lo di sini, Ja?" tanya Darren tiba-tiba ketika melihat Senja yang berdiri di samping Aster.
Baru saja Senja akan mengeluarkan suaranya, tangannya di tarik oleh Aster untuk pergi dari perkumpulan wartawan dadakan itu. "Ayo, Ja! Di sini ada setan!" ajaknya.
Senja masih melirik Darren yang tidak terima di sebut setan oleh Aster. Dan Senja baru tahu kalo anggota OSIS itu adalah sepupunya Aster.
Tangan Aster terlepas dari lengannya saat mereka sudah menjauh. Senja berjalan di belakang Aster, tapi tiba-tiba sesuatu menarik perhatiannya.
Lelaki bertubuh tegap dengan setelan jas hitam kini berdiri agak jauh darinya. Senja yakin lelaki itu adalah Raksa, sangat kentara dengan jelas dari samping.
Senyumnya seketika terbit ketika sesekali cowok itu tertawa renyah saat tengah berbicara dengan seorang lelaki yang tak Senja kenali.
Jari lentik Senja mengukir bentuk tubuh Raksa di udara. Dengan ditambahkan bentuk hati setelahnya. Meskipun cowok itu selalu membentaknya, tapi perasaan di hatinya untuk Raksa tak pernah sedikitpun berkurang.
Senja kembali tersadar setelah larut dalam keterpanaannya terhadap ketampanan Raksa. Dia menoleh ke samping, ternyata Aster sudah tidak ada. Kemana perginya cowok itu?
Matanya celingukan kesana kemari. Mencari keberadaan Aster yang tiba-tiba menghilang. "Cih, katanya bawa gue kesini biar gak bosen, tapi dia yang malah pergi gak tau kemana!" dumelnya.
Ketika matanya sibuk kesana-kemari, dia melihat keberadaan Ajeng. Dia baru ingat, ternyata ibunya itu adalah brand ambassador salah satu produk yang dikeluarkan oleh perusahaan Adinata.
Wanita yang memakai dress hitam sampai mata kaki itu tersenyum begitu ramah kepada lawan bicaranya. Senyumnya adalah kehangatan untuk Senja. Apakah bisa wajah itu tersenyum lagi padanya?
Tiba-tiba tangan Senja yang menggantung di sisi badannya tertarik oleh seseorang dengan kasar. Seseorang itu membawanya ke tempat yang agak sepi.
Tepat saat di pinggir kolam renang, mereka berhenti. Saat itu juga Senja tahu yang menariknya itu adalah Vania. Tidak heran jika kakaknya itu ada di sini.
Vania menatapnya dengan berang. "Ngapain lo datang kesini? Bareng Aster lagi."
"Aku cuma-"
Plak!
Senja meringis saat satu tamparan mengenai pipinya. Kenapa selalu tamparan yang dia terima? Kenapa bukan pelukan?
Senja memegang pipinya yang terasa perih. Rasa perihnya tetap tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya.
"Gue udah suruh lo untuk jauhin Aster! Kenapa lo gak nurut?" geram Vania.
Senja tak menjawab perkataan Vania. Dia tidak mau jika harus menjauhi Aster. Cowok itu adalah satu-satunya harapan untuk bisa bertahan lebih lama di dunia ini. Harus tinggal di mana lagi jika bukan di tempat itu.
"Apa yang lo kasih sama Aster sampai dia mau nampung lo di apartemennya? Ah, mungkin lo kasih dia tubuh ini'kan?" Vania menunjuk Senja dengan kasar.
Senja masih terdiam. Dia mencoba menahan emosinya agar tidak kelepasan menyerang Vania seperti waktu itu. Ini bukanlah tempat yang tepat untuk bertengkar. Dia takut jika tubuhnya akan tenggelam di air kolam yang lumayan dalam.
"Berapa kali kalian tidur bersama? Berapa kali Aster nikmatin tubuh lo, Ja?" Vania semakin menyudutkan Senja.
"Atau mungkin lo udah berkali-kali tidur sama dia, ya?" duganya.
"KAK!" sentak Senja, tak tahan dengan kelakuan Vania.
"Gue cuma tanya, kenapa lo harus emosi? Atau jangan-jangan lo emang pernah tidur sama Aster?"
"KAK! AKU GAK PERNAH TIDUR SAMA DIA!" jerit Senja.
Vania menatap Senja dengan datar. "Kalo gitu, lo harus rasakan air dingin yang dulu Mentari rasakan!"
Senja menatapnya dengan takut ketika Vania melangkah mendekatinya perlahan. Dia beringsut mundur, perasaannya mulai tidak tenang. Pasti Vania akan melakukan hal buruk padanya.
"Lo harus mati!" Vania mendorong keras tubuh Senja ke belakang.
Mata Senja melebar saat merasakan tubuhnya terhuyung ke belakang. Ia hendak menggapai lengan Vania, namun tak tergapai, tubuhnya terlempar ke dalam kolam yang terisi penuh dengan air.
Yang terakhir Senja lihat adalah senyuman miring di wajah Vania. Dan akhirnya-
JEBUR!
Tubuhnya menghantam air. Dia tak bisa berenang. Kakinya meronta-ronta berharap dia bisa naik ke permukaan. Kolamnya begitu dalam, hingga dirinya kehabisan sisa napasnya.
Yang bisa Senja lakukan saat ini hanyalah pasrah, membiarkan seluruh tubuhnya tenggelam sampai ke dasar kolam.
Potongan-potongan ingatan masalalu mulai terbayang. Terbayang teriakan Mentari yang memanggil dirinya, terbayang pula caci makian keluarganya yang dulu pernah terlontarkan untuknya. Kenangan itu begitu menyakitkan.
Ternyata ini yang dulu Mentari rasakan. Kedinginan. Adiknya itu pasti menggigil di dalam air yang begitu dalam. Rasa bersalahnya kembali menyeruak di hatinya. Dirinya benar-benar pembunuh.
BYUR!
Seseorang meloncat ke dalam air. Tapi sayangnya, wajah orang itu terlihat buram di mata Senja. Perlahan demi perlahan matanya terpejam merasakan tubuhnya yang mulai melemah. Kesadarannyapun mulai menghilang seiring orang itu mendekat.