18. Suatu Saat Nanti

1515 Kata
"Senja!" "Bangun, Ja!" "Gue mohon, bangun!" Raksa memberikan Senja pertolongan pertama dengan nekan d**a cewek itu berkali-kali. Berharap gadis yang tengah berbaring di depannya itu akan sadar. Hatinya mulai tidak tenang karena Senja tak lekas membuka matanya. Raksa sekarang benar-benar kewalahan. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Senja? Tidak. Tidak mungkin itu terjadi, Raksa mencoba menepis semua praduga buruk yang masuk ke otaknya. "Senja, gue mohon bangun!" Raksa terus menekan dadanya. "Uhuk...Uhuk... Uhuk...." Raksa menghela napas lega saat Senja kembali membuka matanya dan tersadar, gadis itu terbatuk dan mengeluarkan air dari mulutnya. Lalu Raksa membantunya untuk bangkit. Hidung dan mulut Senja termasuki air dan rasanya sangat tidak nyaman, apalagi saat merasakam hidungnya yang agak perih. Dunianya hampir berhenti. Ternyata di dalam air bisa semenakutkan itu baginya. Dada Senja kempang kempis. Memenuhi rongga paru-parunya yang mulai kekurangan pasokan udara. Dia menoleh ke samping, terkesiap karena kehadiran Raksa di sana yang menatapnya dengan kecemasan. Ternyata cowok itu yang menolongnya. Ekspresi Senja berubah menjadi masam. Dengan kasar dia mendorong tubuh kekar itu, lalu meninggalkannya tanpa sepatah katapun. Walaupun langkahnya tertatih-tatih Senja tetap memaksakan untuk pergi dari tempat itu. Dia tidak ingin terlihat menyedihkan di depan Raksa. Sementara itu, Raksa menautkan kedua alisnya. Aneh dengan perubahan sikap Senja. Seharunya dia akan senang karena sudah ditolong olehnya. Tapi kenapa gadis itu sangat tidak tahu terima kasih. Senja ingin segera keluar dari hotel itu. Kakinya telanjang saat menapaki aspal di jalan raya. Dia melupakan sepatunya. Entahlah, dia tidak terlalu peduli dengan keberadaan sepatunya itu. Senja memeluk tubuhnya Sendiri yang menggigil. Seluruh tubuhnya basah, bahkan orang-orang yang berlalu lalang menatapnya dengan aneh. Langkah kakinya tanpa arah. Sekarang dia bingung harus kemana. Pikirannya masih di kolam renang tadi. Kenapa bisa Vania begitu tega mendorongnya ke air? Jelas-jelas kakaknya itu tahu bahwa dirinya tak bisa berenang. Apakah Vania begitu membenci Senja sampai mengharapkan kematiannya? Jika iya, harusnya dia bersabar, akan ada saatnya Senja hilang dari dunia mereka. Raksa sedari tadi mengikuti langkah Senja. Dia sejujurnya mencemaskan gadis itu. Tentu saja dia berjalan di belakang tanpa sepengetahuannya. Saat di acara pesta tadi, Raksa sesekali memperhatikan Senja. Namun, di tengah ia memperhatikan cewek itu, ia melihatnya di tarik paksa oleh Vania. Karena penasaran, ia mengikuti mereka. Sudah dua kali Raksa melihat gertakkan Vania pada Senja. Tentu itu membuat dirinya bertanya-tanya. Sebenarnya ada apa di antara mereka? Raksa hendak pergi. Tak mau mencampuri urusan mereka. Tapi langkahnya terhenti saat mendengar seseorang tercebur ke dalam kolam renang. Dengan cepat Raksa ikut lompat untuk menolong Senja yang tak lagi bergerak di dalam air. Saat itu Vania sudah tidak ada di sana. Sekarang Raksa masih merasa aneh sekaligus penasaran. Kenapa Vania mendorong Senja ke dalam air? Tidak'kah dia berfikir jika itu berbahaya? Raksa memperhatikan punggung Senja yang menggigil di depan sana. Dia berdecih. "Dasar bodoh!" gumamnya. Langkahnya ia percepat untuk menyusul Senja. Kemudian dia menyampirkan jas hitam miliknya di bahu ringkih itu. Ia sempat melepas jasnya sebelum ikut jatuh ke dalam kolam tadi. Senja terkejut saat merasakan sesuatu di bahunya. Saat tahu siapa pelakunya, dia langsung memalingkan wajahnya kearah lain. Terlihat ketidaksukaan terhadap Raksa di wajahnya itu. Dia tidak suka cowok itu melihat keprihatinannya. "Gak tahu terimakasih!" cetus Raksa, dia melangkah mendahului Senja. "Makasih!" Langkah Raksa terhenti. "Gue mohon lupakan apa yang terjadi hari ini." Di tempatnya Raksa terdiam dengan memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana. Dia berbalik menghadap Senja yang tengah menunduk. "Kenapa?" tanya Raksa. "Kenapa dia dorong lo ke kolam?" Di wajah Senja kini tak ada senyuman. Raksa sampai penasaran, kemana perginya senyuman manis itu? Senja menggeleng dengan tegas. "Gue jatuh sendiri. Gue tadi kepleset. Jangan kasih tahu sama siapapun, gue malu!" Kenapa gadis itu begitu bodoh? Pikir Raksa. Tidak mungkin Senja seceroboh itu sampai jatuh sendiri ke dalan air. Raksa memang tidak melihat secara langsung bagaimana Senja jatuh. Tapi dia yakin, yang mendorong tubuh cewek itu pasti Vania. Tanpa membalas perkataan Senja, Raksa berbalik melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Namun, kakinya harus kembali berhenti saat merasakan kemejanya di tarik oleh seseorang dari belakang. Raksa berbalik. "Apa?" "Gue tahu gue emang gak tahu diri. Tapi, bisa'kan lo pinjemin gue uang buat pulang naik taxi? Ini udah malem gak mungkin gue pulang jalan kaki," cicit Senja dengan ragu. Helaan napas kasar terdengar dari mulut Raksa. Senja sekarang sudah menangkup kedua tangannya. Dia memohon kepada Raksa. "Gue janji, gue gak akan ganggu lo sehari, beneran!" "Sehari gak lama." "Tapi kalo selamanya gak bisa." Raksa meraba saku celananya, namun tak ia temukan dompetnya di sana. Sesaat kemudian dia sadar, dompetnya ada di saku jas yang tersampir di bahu Senja. "Dompet gue ada di sana," tunjuk Raksa. Senja langsung meraba jas milik Raksa. Langsung ia keluarkan dompetnya itu dan memberikannya pada Raksa. "Tau gitu gue gak jadi minjem, gue ambil aja'kan lumayan," gumamnya. "Apa lo bilang?" Senja langsung menggeleng dengan cepat. "Enggak maksud gue, untung dompetnya ada di sini, jadi gak basah!" Raksa mendengus. Jelas-jelas dia mendengar perkataan Senja yang sebelumnya. Lalu detik selanjutnya dia mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya pada Senja. Senja jadi sumringah di kala dia memegang uang itu. "Makasih. Lo baik, dan gue suka eh engga, suka banget!" Raksa mengangguk ringan. Rupanya senyuman Senja kembali terpasang di wajahnya. "Sa. Sekarang lo pulang, ya? Jangan lupa mandi pake air anget. Gue gak mau lo masuk angin. Gue tau lo kedinginan. Udah sana!" Senja mendorong tubuh Raksa. Raksa mengernyitkan keningnya. Bukannya sekarang Senja'lah yang kedinginan? Memang cewek aneh. Tanpa kata lagi Raksa menghentikan taxi yang lewat. Jika kalian mengira taxi itu untuk Senja, kalian salah. Taxi itu untuk dirinya sendiri. Senja melambaikan tangannya heboh saat Raksa sudah di dalam taxi. "Hati-hati, Sa! Jangan lupa makan!" Raksa tersenyum tipis melihat tingkah cewek itu. Suasana hati Senja terlalu cepat berubah. Sekarang dia kembali ceria. Dan Raksa jelas tahu, ekspresi ceria Senja itu alami, tak seperti dibuat-buat. Lalu, terbuat dari apa hatinya itu? *** Senja masuk ke apartemen Aster dengan langkah riang. Sekarang jas milik Raksa tidak hanya tersampir di bahunya, ia sengaja memakainya dengan ukuran yang kebesaran ditubuhnya yang kurus itu. Tak henti-hentinya Senja tersenyum melihat lengan jas itu. Hatinya senang bukan main, pasalnya sekarang dia bisa dengan gamblang mencium wangi parfum khas cowok itu. Tentu saja ini pencapaian yang patut diapresiasi. "Senja!" Senja tersentak oleh panggilan lantang Aster. Cowok itu kini sudah berkacak pinggang di depannya. "Dari mana lo, anjir! Main pergi aja, bikin orang khawatir!" amuknya. Senja memperlihatkan cengirannya. "Sorry, gue pergi tanpa bilang sama lo." Aster melihat tubuh Senja dari ujung kaki yang telanjang sampai ujung rambut yang lempes. Ada yang tidak beres dengan cewek itu. "Kenapa badan lo basah kuyup?" tanya Aster. Senja melihat tubuhnya sendiri dan mulai menjelaskan. "Tadituh gue kepeleset di tepi kolam renang. Jadi gue jatoh deh kesana," bohongnya. "Lo tau? Raksa nolongin gue!" Senja memekik kesenangan, jantungnya berasa maraton karena setiap ingat Raksa, selalu berdetak dengan tidak santai. Hati Aster bergejolak mendengar nama Raksa di sebut olehnya. Ia yakin, yang dia rasakan saat ini tidak lain dan tidak bukan adalah cemburu. Tapi apa berhak dia cemburu pada Senja yang hatinya untuk orang lain? "Lo kesenengan sampe lupa tas sama sepatu lo? Dasar ceroboh!" Wajah Senja memberenggut. Detik selanjutnya dia terkejut karena sepatunya ada di meja. "Loh? Kok sepatunya bisa ada di sini?" "Darren yang nemu sepatu itu di pinggir kolam. Lagian lo ngapain sih harus pergi kesana? Gak bisa diam nunggu gue apa?" "Tapi'kan lo pergi gak tau kemana. Gue cari-cari gak ketemu!" sungut Senja. "Gue udah bilang sama lo, gue mau ke toilet. Emang dasar telinga lo isinya Raksa mulu, jadi gini nih! Agak loding kalo dengerin gue!" omel Aster, dengan gemas telunjuknya mendorong kening Senja. Senja cemberut diperlakukan seperti itu. "Gue'kan cinta banget sama Raksa. Salah emang?" "Salah. Sia-sia kalo lo cinta sama orang yang gak cinta sama lo. Nih ya, lo itu harus falling in love with people we can have, bukan falling in love with people we can't have. Cerna baik-baik perbedaannya!" Aster menasihatinya panjang lebar. Senja yang manggut-manggut dengan polosnya. "Ilangin aja huruf T di kalimat kedua. Jadi artinya bakalan sama." Aster memutar bola matanya dengan malas. Percuma saja dia menasihati orang yang mabuk cinta. Sama saja dengan menasihati anak TK. Mending anak TK masih mau nurut. Senja bukan lagi. Mereka sekarang layaknya adik dan kakak. Sepertinya akan terus begitu jika saja salah satu dari mereka tak melibatkan perasaan. Kalian bisa tebak siapa pemilik perasaan itu. "Mendingan sekarang lo mandi. Terus ganti baju!" titah Aster. Senja mengangguk patuh. Sebelum dia masuk ke kamarnya, dia mengambil tasnya terlebih dahulu. Setelah menutup rapat pintu kamarnya barulah dia melepaskan jas milik Raksa dari tubuhnya. Senja menghirup wangi jas itu dalam-dalam. Mencoba mengingat wangi tubuh Raksa di indra penciumannya. "Sa. Gue masih akan tetap nunggu lo. Tapi gue mohon, percepat buka hati lo buat gue. Karena gue gak tahu gue akan bertahan sampai kapan," gumamnya. Hidupnya tak akan bertahan lama. Senja tahu itu, tapi dia tidak ingin sia-siakan hidupnya dengan hanya berdiam diri tanpa melakukan apapun. Dia ingin secercah kebahagiaan menghampirinya, dan kebahagian itu bersumber dari Raksa. Harapannya sekarang hanya satu. Meninggalkan dunia ini dengan tenang setelah mengukir kebahagian dengan Raksa. "Gue yakin. Suatu saat nanti lo akan balas perasaan gue, Sa."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN