19. Kegilaan Vania

1732 Kata
"Oper bolanya kesini, Ga!" "Sini, Vin!" "Oper ke gue, bangke!" "Woy woy awas!" "GOL!" Kelas XI-IPA 1 bersorak ria ketika bola masuk ke gawang. Dan pelakunya adalah Raksa. Mereka bermain futsal di saat jam pelajaran olah raga telah usai. Itung-itung memanfaatkan waktu dengan baik karena jam pelajaran masih tersisa setengah jam lagi. Di saat para ciwi-ciwi berganti pakaian, para bujang-bujang malah berleha-leha di pinggir lapang Futsal untuk mengeringkan keringat setelah olahraga, termasuk Raksa saat ini. Mengingat tentang Senja, dia menepati janjinya waktu lalu untuk tidak mengganggu Raksa. Dan tentunya hidupnya begitu tenang karena ketidakhadiran cewek itu. Tenang iya, tapi hidupnya berasa ada yang kurang karena tidak mendapati celotehan bocah itu di telinganya. Senja kebetulan lewat, ah ralat. Dia memang sengaja menghampiri Raksa dengan membawa air minum miliknya. Sebut saja untuk mencari perhatian pujaan hatinya setelah satu hari tidak bertemu. Senja akui sekarang ia merindukannya. "Hai, Sa!" sapa Senja, "Sayang." "Wiiihhh anjirr, ngegas lu, Ja!" seru Ervin. Sementara Raksa mendengus mendengar Senja memanggilnya demikian. Cewek itu memang tidak tahu malu. "Sa, lo haus'kan? Nih gue punya air minum buat lo! Meskipun lo butuh air selaut, gue ambilin!" oceh Senja. Botol minum itu hanya tergantung di udara dengan ditatap malas oleh Raksa. Karena cowok itu sama sekali tak menyentuhnya, Senja berinisiatif untuk menyimpan botol itu di samping tubuh Raksa. Lalu dia duduk di samping cowok itu dengan agak mepet. "Duduknya bisa geseran'kan?" Senja manggut, kemudian dia menggeser. Bukannya menggeser menjauh, tapi malah semakin mepet. Raksa berdecak dan dilanjut dengan helaan napas jengah. Detik selanjutnya dia berdiri dari duduknya. "Mau kemana, Sa?" teriak Senja saat Raksa mulai melangkah menjauh. "Cinta itu harus di kejar, Ja! Yok, semangat yok!" "Ngapain sih lo kejar dia, ini gue ganteng mau dianggurin aja?" "Jerukin kali ah!" "Sini aja, Ja. Sama babang Reyhan. InsyaAllah berkah!" "Jangan capek-capek ngejar yang gak pasti. Gue aja nih, udah pasti gue mah!" Celetukan-celetukan dari teman satu kelas Raksa hanya dibalas dengan delikan tajam oleh Senja. Setelahnya, dia pergi mengejar Raksa sebelum menghilang dari pandangannya. "Ja. Air minum lo, nih!" seru Alga dari belakang sana. Senja menoleh. "Isshh... Malah kelupaan lagi!" Dia berlari kearah Alga kemudian meraih botol minum itu. "Makasih!!!" teriaknya yang sudah kembali mengejar Raksa. Raksa menuju lokernya. Dia akan kembali mengganti baju olahraganya dengan baju seragam. Senja datang dengan napas terengah-engah. Ternyata cukup lelah menyusul kaki jenjang milik Raksa yang melangkah begitu cepat. "Sa. Ambil air minumnya!" Raksa menoleh dengan malas. "Buang aja!" Mata Senja melebar tak terima. "Enak aja. Gue masukin air ke dalem sini tuh dengan perasaan cinta gue sama lo yang besarnya melebihi dunia tipu-tipu!" "Lebay!" cetus Raksa. "Gue lebay gini juga karena siapa? Karena lo tentunya." "Terserah." Raksa menutup loker miliknya dengan keras, kemudian dia melewati Senja begitu saja. "Mau kemana lagi sih, Sa?" sungut Senja. "Gue mau ganti baju. Lo mau ikut?" Senja mengangguk dengan antusias. Raksa sungguh bodoh menawarkan perihal itu. Jelaslah cewek itu tidak akan menolak tawarannya. Dengan helaan napas malas, Raksa kembali melangkah. Tak lepas Senja membuntutinya sampai ruang ganti pria. "Gue boleh ikut'kan?" tanya Senja dengan berbinar. "Menurut lo?" "Boleh." Senja hendak mendahului Raksa untuk masuk ke dalam ruangan itu, dengan sigap Raksa menarik kerah seragamnya. "Gak boleh!" tegas Raksa. Senja memberenggut kesal. "Tadi lo nawarin." "Apa lo gak bisa lebih bodoh lagi?" "Bisa!" seru Senja dengan keras. "Lo tinggal kasih gue perhatian aja. Terus gue bakalan makin bodoh karena terlalu cinta sama orang kayak lo." "Gue gak suka cewek bodoh!" "Tapi'kan gue cantik." "Terserah lo." Senja berdesis. "Lo cewek, ya? Dari tadi terserah mulu. Harusnya gue yang bilang terserah." Tak menghiraukan Senja lagi, Raksa masuk dan mengunci pintu dengan rapat agar cewek itu tidak nekat masuk. "Sa!" "Raksa, woy!" "Gue pengen ikut masuk juga!" Raksa masih berdiri di balik pintu mendengar rengekan-rengekan Senja di luar sana. "Dasar cewek aneh!" *** JRENG... JRENG... JRENG....? "Kulihat senyum manismu Ada cinta yang ku rasa, menyapa hati ini Tak ingin ku menunggu Jadikanlah aku oh cinta, kekasih pilihan di hatimu Percayalah, dirimu satu cintakuuuuuu....?" JRENG... JRENG... JRENG....? "Tuhan tolong aku katakan padanya Aku cinta dia, bukan salah jodoh Dia untuk aku bukan yang lainnya Satu yang ku rasa, pasti bukan salah jodoh....?" Elijah dongkol bukan main ketika Alga tiba-tiba konser di kelasnya saat istirahat. Ternyata mantannya itu belum kapok juga walaupun sudah dimaki berkali-kali. Alga ngotot ingin balikan. Namun, Elijah sebaliknya. Mereka sama-sama keras kepala. Padahal hati mereka sama-sama masih menyimpan rasa. Cewek-cewek di kelas itu senang bukan main mendengarkan suara merdu Alga. Lain lagi dengan Elijah, berkali-kali dia mendelik pada cowok itu, tapi si pelaku malah asik bernyanyi. Senja datang dengan wajah sumringahnya. Dia heran kenapa kelasnya bisa seramai ini, bahkan banyak yang ngintip di jendela kelas. Saat melihat keberadaan Alga, dia langsung tahu penyebab kelasnya ramai. Ya pastilah si bucin Alga penyebabnya. Dia pamer suara merdunya di sana. Senja melemparkan tatapan pada Ervin yang sedari tadi duduk di samping bangkunya seakan bertanya ada apa dengan Alga. Ervin langsung menjawab, "Biasalah!" Senja manggut-manggut mengerti. Setelah ia duduk di bangkunya, dia menyenggul bahu Elijah. "Jah, kasian dia anjirr. Udah balikan aja sana!" Diberi saran oleh Senja, Elijah malah mendelik tajam. "Gak. Gue gak mau ngulangin lagi kesalahan!" Alga menghentikan nyanyiannya lalu dia berdiri menghampiri Elijah. "Jah, balikan kuy!" "Ngajak balikan kek mau ngajak jajan baso, gak salah lo?" celetuk Ervin. "Terus gue harus pake helikopter, lalu teriak 'JAH, BALIKAN YUK?' gitu?" balas Alga. "Gak selebay itu gue mah," lanjutnya. Elijah memutar bola matanya dengan malas. "Lo niat gak sih ajak gue balikan?" "Ya niatlah, sayang. Gue udah bela-belain ngorbanin suara emas gue di sini. Gimana mau gak?" tanya Alga. "Cuma segitu doang perjuangan lo?" "Astagfirullah, Jah. Gue udah lakuin apapun buat lo. Lonya aja yang gak liat perjuangan gue." "Gue gak mau balikan sama lo. Gue udah punya cowok baru," tolak Elijah. Senja dam Ervin sudah menahan tawanya melihat ekspresi masam Alga yang ditolak mentah-mentah. "Karma ini mah bos. Lo sih dulu selingkuh, jadinya gini'kan?" cetus Ervin. "Bohong! Orang jelas-jelas dia sepupu lo!" sangkal Alga. Elijah menjadi gugup. "I-itu sepupu jauh. Iya sepupu jauh, jauh banget malah, jadi gue bisa pacaran sama dia. Udah deh, lo gak usah lagi minta balikan sama gue. Gue gak mau pacaran lagi sama tukang selingkuh." "Bodo amat, mau itu sepupu jauh kek, mau sepupu deket kek, mau pacar kek. Sebelum janur kuning melengkung, gue gak akan pernah berhenti berjuang!" tegas Alga. Elijah terdiam di bangkunya. Wajahnya jadi merona, Sejak kapan Alga menjadi sekeren itu. Sejujurnya hatinya sekarang tengah berdetak dengan cepat. "Ayo, Vin! kita cabut ke kelas!" Ervin mengangguk kemudian mengikuti Alga. Temannya itu malah berhenti sesaat. "Jah, jangan lupa buka blokiran WA gue! Gue tunggu! Bai, cantik!" Elijah menggigit bibir bawahnya. Menahan agar tidak tersenyum setelah kepergian Alga. Sementara Senja sudah tersenyum jahil melihat temannya itu. "Ngaku lo! Masih suka'kan sama Alga?" tanya Senja. "Ih engga. Apaan, orang kek gitu gak lagi masuk kriteria cowo idaman gue!" elak Elijah. Senja berdecih. "Udahlah, jangan lo sia-siain Alga. Dia sekarang udah berubah, Jah. Kasian dia!" "Tapikan-" "Gini yah. Lo harusnya bersyukur, orang yang lo sukai mau merjuangin lo! Lah gue? Udah hampir dua tahun gue suka sama Raksa, tapi gak sama sekali di-notice sama dia." Elijah tiba-tiba termenung. Apa yang Senja katakan ada benarnya. Siapa tahu Alga memang benar-benar sudah berubah, tinggal dianya sendiri saja yang harus kembali membuka hati. Senja menepuk bahu Elijah. "Inget, Jah! Jangan sia-siain orang yang peduli sama lo. Terima perubahan dia meskipun lo harus buka luka lama. Karena gue yakin, belum tentu lo bahagia sama orang baru!" Elijah menatap Senja dengan bibir yang berkatup. Dia mengangguk dengan yakin. "Lo bener, Ja. Gue hanya perlu buka hati gue sekali lagi buat dia, karena belum tentu gue nyaman sama orang baru. Mungkin gara-gara ini gue gagal move on dari dia!" *** Malam ini Senja memutuskan untuk berkunjung ke rumah orang tuanya. Dia bersumpah, dia saat ini sangat merindukan kedua orang tuanya itu. Walaupun perlakuan mereka tidak baik padanya, tapi mereka masih orang tuanya. Orang yang melahirkannya ke dunia. PRANG! Senja tersentak mendengar suara pecahan kaca di kamar orang tuanya. Ludahnya ia teguk dengan kasar saat pecahan kaca itu semakin sering terdengar beserta teriakan yang saling bersahutan. "APA KAMU BILANG? HANYA TEMAN? KAMU BERMESRAAN DENGAN DIA. DAN KAMU BILANG HANYA TEMAN?" "DIA SEKERTARIS SAYA, WAJAR JIKA MAKAN MALAM DENGAN DIA!" "ENGGAK! ITU GAK WAJAR NAMANYA!" PRANG! Senja memejamkan matanya saat terdengar lagi pecahan benda yang lebih keras dari sebelumnya. Dia berdiri kaku di depan kamar orang tuanya itu. Takut terjadi sesuatu pada ibunya. "AKU INI KURANG APA? KENAPA KAMU SAMPAI MELIRIK WANITA LAIN?" "APA KAMU TIDAK BERCERMIN? KAMU JUGA SERING PERGI BERSAMA SELEBRITY ITU. SEHARUSNYA KAMU SADAR DIRI SEBELUM TEGUR SAYA!" Senja sudah tidak kuat lagi mendengar pertengkaran mereka. Saat dirinya hendak berbalik, Vania sudah berdiri di belakangnya. Menatapnya dengan sorot mata penuh amarah. "Semua kacau! Dan kekacauan ini gara-gara lo!" Senja diam di tempatnya. Dia makin mengeratkam genggamannya pada tali tas selempangnya. Dia masih takut terhadap Vania, takut kakaknya itu melakukan hal gila lagi. Akhir-akhir ini kakaknya itu bukan seperti orang normal. "Kenapa lo masih datang kesini?" Vania semakin mendekati Senja. "Seharusnya lo itu sadar diri. Lo gak punya lagi peran di rumah ini. Kehadiran lo gak pernah diharapkan lagi, Ja. Sekalipun lo mati, kami gak akan pernah lagi peduli." Hati Senja begitu perih mendengar perkataan Vania yang begitu menusuk. Dia hanya merindukan orang tuanya, apakah itu tidak boleh? "Kepergian Mentari merubah semuanya. Ini bukan lagi tempat hangat untuk gue!" Dari setiap kata yang Vania lontarkan begitu penuh dengan penekanan membuat bulu kuduknya merinding. "Sayangnya, orang yang buat semua ini terjadi gak sama sekali menunjukkan penyesalannya!" Dengan lembut Vania mengusap rambut Senja. Percayalah, bukan kelembutan yang Senja rasakan saat ini. Setiap kata yang keluar dari mulut Vania membuatnya takut. Tangan Senja sekarang sudah berkeringat karena ketakutan. Bahkan tubuhnya sudah menegang. PLAK! "Akh!" Senja sampai tersungkur karena tamparan dari Vania. Rasa panas dan perih menjalari pipinya, rasa perih itu lebih dari tamparan-tamparan yang pernah dia rasakan sebelumnya. Senja beringsut mundur saat Vania menggenggam vas bunga yang ada di dekatnya. Kakaknya sekarang benar-benar seperti orang gila yang akan mencelakainya. Jantungnya berdegup kencang seiring langkah pelan Vania mendekat. Tangan Senja bergetar, jika benda itu terlempar mengenai kepalanya, pasti dirinya tidak akan selamat. "Kak, Senja minta maaf. Jangan kayak gini, Senja mohon!" mohon Senja dengan suara ketakutan. Vania menyeringai. "Lo harusnya gak pernah hadir di dunia ini, Ja!" "Temui ajal lo!" Benda itu sudah teracung, siap di lemparkan kearah Senja. "KAK!" "VANIA!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN