"Kak, Senja minta maaf. Jangan kayak gini, Senja mohon!" mohon Senja dengan suara ketakutan. Vania menyeringai. "Lo harusnya gak pernah hadir di dunia ini, Ja!" Benda itu sudah teracung, siap dilemparkan kearah Senja. "Temui ajal lo!" "KAK!" "VANIA!" Vano datang dan dengan sigap dia menahan tangan Vania yang hendak melemparkan vas bunga itu pada Senja. "Udah, cukup! Gue mohon. Lo gak seharusnya kayak gini!" Vania melirik Vano dengan tatapan nyalang, giginya bergemeletuk menahan amarah. "Lo belain dia lagi?" "Bukan itu maksud gue, Nia. Apa yang lo lakuin bisa berdampak buruk sama diri lo sendiri!" "TAPI GUE GAK MAU LIHAT DIA HIDUP!" teriaknya dengan deruan napas yang kasar. Vas bunga itu terlepas dengan sendirinya dari tangan Vania. Vano dengan lembut memeluk kembarannya itu untuk

