BAB.9. PUTRI BUKANLAH SEORANG BINTANG (bagian 2)

1302 Kata

            Oh wangsit turunlah! Turunlah....! doa panik pun menghujan otak pasirku.             "Tunjukan saja si kembar yang ada dirumahmu!" pinta pak Jan. Oh! Aku mengerti, dia pasti sedang memancing inspirasiku.             Aku lalu meletakan telepon genggamku di meja setelah mengatur tabel menunya. Mengarahkan sinarnya dari atas meja. Hingga seputar meja ini bisa melihat proyeksi tiga dimensi dari telepon genggam mungilku.             Video si kembar Rahman Rahim. Adegan waktu mereka baru tiba, tangis pertama mereka di rumah kami yang heboh, keseharian mereka. Mandi dan berguling-guling. Berganti-ganti pengasuh. Gigi pertama, berguling berdua.  Merangkak saling mengejar. Rahman  merambat, bajunya ditarik Rahim, lalu keduanya bergulat, berguling, lalu kakak-kakaknya tertawa memisahk

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN