Hasrat sesaat yang sesatlah, Lalu membuat cinta meluka Melalui monitor laptopku, kutatap wajah ke 9 adikku yang sedang tertidur lelap, ibu Ratija tahu aku sangat merindukan mereka semua. Ibu Ratija merekam wajah mereka semua. "Qonita, kita harus akhiri obrolan kita malam ini. Kau harus jaga kesehatan dan keamananmu. Kau nampak pucat dan loyo, Qon." Katanya meraba layar monitor. Wajahku seolah merasakan usapan tangannya yang kasar. Tangan tua yang berpuluh tahun bekerja keras, dan bersentuhan dengan aneka kimia tak jelas. "Aku ingin pulang." Keinginanku terucap begitu saja. Aku si pandai menahan keinginan sepertinya sedang melakukan penghianatan terhadap ketetapan perilaku 'kebijakan pengendalian keinginan pribadi'. "Oh, Qonita.

