Mobil itu melaju tanpa arah yang jelas, berpindah dari satu jalan gelap ke jalan lain. Lusi duduk terhimpit di kursi belakang, tubuhnya lemah, kepalanya berdenyut hebat. Bau pengap bercampur bensin membuat perutnya semakin tak tertahankan. Setiap guncangan kecil di jalan membuat rasa mualnya naik lagi. “Aku… aku mual…” ucap Lusi pelan, tangannya menutup mulut, napasnya tersengal. Gerald mendengus dari kursi depan. “Diam. Jangan macam-macam.” Namun tubuh Lusi tak lagi bisa menuruti perintah. Dadanya berguncang, dan sebelum ia sempat menahan, muntah itu keluar begitu saja, mengenai pakaian Gerald dari belakang. Bau asam langsung memenuhi kabin mobil. “Apa yang kau lakukan!” teriak Gerald sambil menghantam setir. Mobil berhenti mendadak di pinggir jalan yang sepi. Gerald berbalik, wajahny

