Pagi itu datang perlahan di Puncak. Kabut belum sepenuhnya terangkat ketika Lusi membuka mata. Udara dingin menyusup lewat celah jendela, membuatnya menarik selimut lebih rapat sebentar sebelum akhirnya bangkit. Tubuhnya terasa lebih ringan dibanding hari-hari sebelumnya. Tidak sepenuhnya sembuh, tapi cukup untuk membuatnya ingin bergerak. Dari jendela kamar, ia melihat hamparann kebun teh yang basah oleh embun. Warna hijau muda pucuk-pucuk teh terlihat segar, nyaris berkilau diterpa cahaya matahari pagi yang malu-malu. Ada beberapa pekerja kebun yang sudah mulai bekerja, tubuh mereka dibungkus jaket tebal, tangan cekatan memetik daun. Entah dorongan dari mana, Lusi merasa ingin turun ke sana. Ia mandi singkat, mengenakan jjaket hangat dan sepatu yang disiapkan Gevan. Saat keluar kamar,

