Mobil melaju meninggalkan pesisir dengan tenang. Jalanan berkelok, udara mulai berubah, tidak lagi asin seperti laut, melainkan sejuk dan perlahan dingin. Lusi duduk di kursi penumpang, memandang keluar jendela dengan alis sedikit berkerut. Pepohonan semakin rapat, kabut tipis mulai turun, dan papan penunjuk arah bertuliskan Puncak terlewati begitu saja. “Kita ke mana?” akhirnya Lusi bertanya. Gevan yang menyetir melirik sekilas, lalu tersenyum kecil. Senyum yang tidak dibuat-buat, santai, seolah semuanya baik-baik saja. “Ke tempat yang tenang.” “Kenapa Puncak?” Lusi memiringkan kepala. “Bukannya kita mau pulang?” Gevan tertawa pelan, bukan tawa mengejek, melainkan tawa ringan yang seperti ingin menular. “Aku memang tidak berniat membawamu pulang dulu.” Kalimat itu membuat Lusi terd

