Pagi datang pelan, hampir tidak terasa. Lusi terbangun bukan karena suara alarm, bukan pula karena mimpi buruk seperti biasanya. Ia terbangun karena cahaya. Sinar matahari yang menyelinap lewat celah tirai kamar hotel, jatuh tepat di wajahnya, hangat dan lembut. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap langit-langit kamar, diam, memastikan di mana ia berada. Bukan rumah itu. Kesadaran itu datang seperti napas panjang yang akhirnya bisa dihela tanpa tersendat. Lusi duduk perlahan di tepi ranjang. Tubuhnya masih lemah, sisa-sisa sakit belum benar-benar pergi, tapi pagi ini ada sesuatu yang berbeda. Dadanya tidak sesak. Kepalanya tidak penuh. Ia berdiri, meraih sandal, lalu melangkah keluar kamar tanpa membangunkan siapa pun. Pintu tertutup pelan di belakangnya. Lorong hotel masih sepi. H

