Lusi bersandar di kursi balkon kamar hotel, tubuhnya terbungkus cardigan tipis yang tidak benar-benar menghangatkan, tapi cukup memberi rasa aman. Di hadapannya, langit terbuka luas, hitam kebiruan, dipenuhi bintang-bintang kecil yang berkelip samar. Tidak semuanya terlihat jelas, beberapa tertutup awan tipis, tapi justru itu yang membuatnya terasa nyata. Tidak sempurna. Tidak dipaksakan indah. Suara deburan ombak masih setia terdengar. Datang, pecah, lalu surut. Berulang-ulang. Seolah laut tidak pernah lelah mengingatkan bahwa segala sesuatu memang bergerak, tidak diam di satu titik selamanya. Lusi menengadah, menatap langit-langit alam itu lama sekali. Tangannya bertumpu di sandaran kursi, jari-jarinya menggenggam kain cardigan dengan pelan. Tidak gemetar seperti biasanya. Hanya dingi

