Lusi tertawa kecil ketika Gevan membuka telapak tangannya. Di sana ada sebuah kerang kecil, warnanya pucat keabu-abuan dengan garis tipis keemasan di pinggirnya. Tidak istimewa, bahkan bisa dibilang biasa saja. Tapi cara Gevan memamerkannya seperti menemukan harta karun membuat Lusi spontan tertawa. “Kamu serius?” Lusi menggeleng pelan. “Itu kecil banget.” “Justru itu,” jawab Gevan santai. “Yang kecil biasanya paling susah ditemukan.” Lusi menatap kerang itu beberapa detik, lalu menghela napas dan tersenyum. “Baiklah. Terus ngapain?” “Kumpulin,” kata Gevan. “Banyakin. Kita bikin sesuatu.” “Apa?” “Kalung. Atau gelang. Atau… apa pun yang kamu mau.” Lusi mengangkat alis. “Kamu ini aneh.” “Iya. Aku tahu.” Gevan lalu jongkok di pasir, mulai mengais-ngais permukaan pantai yang lembap

