Lusi duduk di balkon kamar dengan kedua kaki ditarik ke d**a. Angin sore menyentuh wajahnya pelan, tapi tidak membawa ketenangan. Tatapannya kosong menembus pagar besi balkon, seolah dunia di depannya hanya bayangan tanpa makna. Rambutnya tergerai, wajahnya pucat, dan lingkar hitam di bawah matanya belum sepenuhnya hilang sejak persidangan terakhir. Ia sudah lama duduk di sana, bahkan tidak menyadari bahwa pintu kamarnya terbuka perlahan. Gevan berdiri di ambang pintu. Ia tidak langsung mendekat. Ia hanya memandangi Lusi dari kejauhan, seperti takut satu langkah saja bisa membuat wanita itu menghilang atau kembali runtuh. Ada sesuatu di punggung Lusi yang membuat dadanya sesak. Bahu itu terlihat terlalu kecil untuk menanggung semua yang telah terjadi. Gevan melangkah pelan. Lantai kama

