Bab 40

822 Kata

Lusi berdiri diam di halaman belakang, menatap hamparan bunga mawar merah yang tumbuh rapi di sepanjang pagar. Kelopaknya tampak segar, warnanya menyala, kontras dengan langit sore yang mulai redup. Angin berembus pelan, membuat beberapa kelopak bergetar, seolah hidup dan bernapas. Namun tatapan Lusi kosong. Ia tidak benar-benar melihat bunga-bunga itu. Yang ada di benaknya adalah potongan-potongan ingatan yang belum mau pergi. Ruang sempit yang pengap. Suara pintu tertutup. Ancaman yang dilontarkan dengan nada dingin. Rasa takut yang menekan d**a sampai napas terasa pendek. Tangannya mengepal tanpa sadar. Tubuhnya memang sudah kembali ke rumah. Luka-luka fisik mulai memudar. Namun pikirannya masih terjebak di tempat-tempat yang tidak pernah ia pilih untuk datangi. “Kenapa mawar harus

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN