Gevan mendorong pintu rumah itu dengan keras hingga membentur dinding. Suara hentakannya menggema di seluruh ruangan, membuat para pelayan yang tersisa menunduk ketakutan dan segera menyingkir. Rumah megah itu terasa pengap, dipenuhi aroma kemewahan yang bagi Gevan kini hanya berbau busuk. Gerald duduk santai di sofa ruang tengah, kaki disilangkan, segelas minuman di tangannya. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah. Bahkan, senyum tipis terukir di sudut bibirnya seolah ia sudah menunggu kedatangan putranya itu. “Berani sekali kau pulang ke sini,” suara Gevan bergetar menahan amarah. “Berani sekali kau menyogok polisi dan keluar begitu saja.” Gerald mengangkat alis, lalu tertawa kecil. “Kenapa harus berteriak, Gevan? Ini rumahku.” “Rumah?” Gevan melangkah maju, matanya me

