Lusi kembali berbaring di ranjang rumah sakit dengan tubuh terhubung pada berbagai selang dan alat medis. Monitor di sampingnya berbunyi pelan, naik turun mengikuti detak jantung yang masih lemah. Wajahnya pucat hampir menyerupai warna seprai putih yang membungkus tubuhnya. Bibirnya kering, napasnya tidak teratur, dan suhu tubuhnya masih tinggi meski sudah diberi obat penurun panas. Gevan berdiri di samping ranjang itu cukup lama sebelum akhirnya lututnya melemah. Ia duduk perlahan di kursi kecil, menundukkan kepala, kedua tangannya terkepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Dadanya terasa seperti diremas kuat-kuat. Setiap tarikan napas terasa menyakitkan. Air mata jatuh satu per satu, lalu semakin deras. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya bergetar hebat. Isakan yang s

