CHAPTER 1
Manik mata indah milik Nesya bertemu dengan manik mata tajam milik Desta. Entah sudah berapa kali Nesya berusaha menghindari tatapan itu. Namun akhirnya, mata mereka bertemu. Mereka bertatapan.
Sejenak, Nesya sempat terhipnotis dengan tatapan Desta namun beberapa detik kemudian Nesya tersadar. Menatap Desta adalah suatu kesalahan yang besar.
Karena Desta, tidak pernah suka ditatap oleh seorang gadis.
Ketika mengingat itu, Nesya merasa takut. Tanpa basa-basi gadis itu segera berlari menjauh dengan wajah yang menunduk. Melewati Desta, sang preman sekolah. Reni dan Shinta yang melihat sebegitu takutnya Nesya kepada Desta hanya mampu menggelengkan kepalanya.
Mereka tahu Desta kejam. Tapi menurut mereka itu tak akan berlaku untuk Nesya.
"Maaf Des, Nesya emang suka gitu. Takut banget kalo lihat lo," ujar Shinta sedikit mendekat kearah Desta. Perlu diketahui, Shinta adalah saudara jauh Desta. Jadi, Shinta sedikit punya nyali untuk mengajak Desta berbicara. Walaupun sebenarnya, untuk mengajak Desta berbicara pun Shinta harus berpikir berulang kali.
Desta mana pernah peduli pada siapapun, sekalipun saudaranya sendiri, kalau Desta merasa orang itu mengganggu, Desta pasti akan bertindak. Sekejam itu.
"Emangnya muka gue nyeremin sampe temen lo gak berani lihat muka gue?" ujar Desta datar. Cowok itu berkata sembari menatap lurus ke depan, tanpa mau menatap Shinta, sang lawan bicaranya.
"Heh bro, bukannya lo yang gak suka ditatap sama cewek?" celetuk Bara menyahuti. Desta mendengar itu, namun dia memilih acuh. Desta lalu melanjutkan langkahnya yang tertunda tanpa menjawab perkataan Bara. Entah kenapa saat di perjalanan, pikiran Desta melayang mengingat tatapannya dengan Nesya beberapa menit yang lalu.
Tatapannya hangat. Desta dapat merasakan itu.
Desta menggelengkan kepalanya cepat setelah sadar dengan apa yang baru saja cowok itu pikirkan. Tidak, Desta tidak boleh berpikir macam-macam seperti itu. Namun sebenarnya Desta masih merasa heran, kenapa setiap berulang kali Nesya berpapasan dengan Desta berulang kali juga Nesya menghindari tatapan dengannya.
Se-menyeramkan itu kah Desta? Apakah Desta jelek sampai Nesya tak mau menatapnya? Desta rasa itu tidak mungkin. Banyak orang mengatakan dirinya tampan. Bahkan sangat tampan. Mamanya pun mengakui itu. Desta juga mengakui ketampanannya.
Yah, tapi kan Desta memang tak suka ditatap oleh seorang lawan jenis.
Memang itu benar, seluruh murid SMA Gemilang bahkan sudah tau. Mulai dari junior sampai senior yang sempat menjadi kakak kelas Desta tau tentang hal itu. Desta memang tak pernah suka ditatap oleh lawan jenis. Dia juga tak suka hidupnya terganggu dan terusik. Jika ada orang yang berani mengganggu dan mengusik hidupnya atau bahkan hanya sekedar tatap menatap dengan Desta saja, Desta pasti akan marah.
Namun bagi Desta, semua itu tidak berlaku untuk gadis bernama lengkap Natasya Angelica. Gadis pertama yang mampu membuat Desta merasakan sebuah kehangatan, walaupun hanya sekedar lewat tatapan.
Desta Lorenzaky, Bara, Damar, Abey dan Arya. Mereka adalah sekumpulan preman sekolah dengan Desta sebagai bos besarnya.
Desta Lorenzaky, cowok kejam yang tak pernah segan-segan untuk menyakiti siapapun orang yang dia anggap telah mengganggu hidupnya. Sekalipun itu adalah seorang gadis. Desta tidak pernah mempedulikan itu.
Jadi, sampai sini. Kalian bisa paham kan kenapa Nesya bisa se-takut itu dengan Desta?
"Nesya!!" teriak Reni dan Shinta seakan mengintrupsi Nesya untuk berhenti berlari. Gadis itu menoleh dan langsung mendapati Reni yang terduduk lemas dengan hidung yang mengeluarkan darah. Reni mimisan.
Shinta yang tidak sadar dengan keadaan Reni dibelakangnya masih terus berlari menghampiri Nesya yang malah berbalik menghampiri Reni. "Lihat belakang lo Shin! Reni kambuh!" ujar Nesya dan seketika itu pula, Shinta menoleh.
"Astaga Reni!! Bertahan Ren!" Nesya dan Shinta dibuat panik karena wajah Reni terlihat sangat pucat. Nesya merasa bersalah melihat itu. Kalau saja tidak ada drama india lari-larian yang dia buat. Pasti Reni tidak akan kelelahan hanya karena mengejarnya.
"Bantuin dong! Lo semua jangan pada lihatin doang!" kesal Nesya membuat beberapa siswa yang tadinya hanya menonton kini turut membantu. "Masukin ke mobil Shinta!"
***
Nesya dan Shinta sekarang sedang berada di ruang rawat inap Reni. Sahabatnya itu kini terlihat tak berdaya. Hati Nesya teriris melihat sebegitu menderitanya Reni.
Bahkan, untuk bernapas saja Reni membutuhkan alat bantu. Padahal, oksigen di dunia ini masih cukup banyak untuk Reni hirup secara gratis. Namun, untuk gadis yang memiliki penyakit seperti Reni bisa apa?
"Nesya, Shinta," panggil Reni pelan.
"Iya Ren, lo butuh apa? Sini biar gue ambilin," ujar Nesya panik.
"Enggak Sya, gue gak butuh apa-apa kok," Reni tersenyum kecil.
"Oh yaudah, kalo gitu sekarang lo makan dulu ya," Nesya meraih semangkok bubur yang ada di nakas dekat brankar Reni. "Tapi maaf Ren, lo makannya harus bubur ya," ujar Nesya karena dia mengerti kalau Reni kurang menyukai bubur.
Reni menggeleng pelan. "Sya, gue gak mau makan, gue gak laper."
"Ren, mau lo laper atau enggak. Lo tetep harus makan," ujar Shinta. "Sekarang gini deh, lo mau gue sama Nesya ngelakuin apa supaya lo mau makan?"
"Sya, Shin. Mau gue makan atau enggak, itu gak bakalan ngaruh sama kondisi gue. Jadi jangan paksa gue ya?" pinta Reni membuat Nesya dan Shinta menggeleng.
"Reni, lo ngomong apa sih. Lo bisa sembuh! Percaya sama gue," Nesya meletakkan kembali semangkok bubur di atas nakas. "Gue mau ngelakuin apa aja buat lo. Asal lo janji, lo mau semangat buat sembuh."
"Sekarang bilang, lo mau gue ngapain," sambungnya.
"Please Sya. Jangan bersikap seolah-olah gue bisa sembuh hanya dengan gue semangat. Gue gak mau banyak berharap atas sembuhnya penyakit gue ini," Reni menutup matanya. Sejenak, gadis itu ingin meminimalisir rasa sakit yang tiba-tiba menyerangnya.
"Ren, lo tau? Orang sakit kalo cuma diobati doang tanpa ada semangat sembuh dari orang itu sendiri. Gak akan ada gunanya," jelas Nesya, perlahan Reni membuka matanya kembali. Menatap kedua sahabatnya bergantian.
"Gue sama Nesya disini buat lo. Buat semangatin lo," ujar Shinta. "Sekarang lo bilang, lo mau kita ngelakuin apa supaya lo bisa punya semangat buat sembuh lagi?"
Senyum tipis tercetak di bibir Reni. Satu ide baru saja gadis itu pikirkan. Mungkin ide itu sedikit akan membahayakan sahabatnya jika ternyata instingnya salah. Namun, kali ini Reni yakin. Instingnya tidak akan salah.
"Gue ada satu permintaan buat lo Sya," ujar Reni dengan suaranya yang masih pelan. "Sebelum gue kasih tau permintaan gue, gue mau lo janji dulu kalo lo bakalan kabulin permintaan gue. Apapun itu," tanpa pikir panjang, Nesya langsung mengangguk cepat dengan senyum bahagianya.
"Pasti Ren! Gue janji, gue bakalan kabulin permintaan lo," ujarnya.
"Gue mau lo nyatain perasaan ke Desta," senyum di wajah Reni belum juga luntur, begitupula dengan senyum di wajah Shinta yang kini semakin terlihat jelas. Namun berbeda dengan Nesya, senyum gadis itu tiba-tiba luntur.
"Ren, lo yakin? Lo mau gue kena masalah?" Nesya memandang Reni tak percaya.
"Bukan gitu maksud gue Sya. Gue cuma gak mau kalo lo punya phobia sama Desta yang menurut gue, cowok itu yang bakalan jadi jodoh lo kelak," Reni terkekeh setelahnya. Nesya yang tadinya ingin marah menjadi mengurungkan niatnya. Melihat Reni kembali tertawa membuat hati Nesya menghangat.
Mungkin, jika satu-satunya cara agar dia bisa membuat Reni bahagia dan kembali mempunyai semangat sembuh adalah dengan dia menyatakan perasaan pada Desta. Nesya akan melakukannya.
Urusan nasibnya nanti. Biarlah takdir yang menentukan. Toh juga Nesya yakin. Kalau sudah takdir, mau sekeras apapun Nesya menolak, itu semua pasti akan tetap terjadi.
Mau sekeras apapun Nesya berusaha. Kalau takdir mengatakan tidak. Itu semua juga pasti tidak akan terjadi.
Nesya mengangguk pelan kemudian kembali menyunggingkan senyumnya. "Iya Ren, gue akan ngelakuin keinginan lo itu. Gue akan nyatain perasaan ke Desta. Tapi sekarang lo makan dulu ya?" Nesya kembali meraih semangkok bubur dan kemudian menyuapinya ke mulut Reni.
Menyatakan perasaannya pada Desta? Bahkan Nesya saja tidak tau bagaimana perasaannya pada preman sekolah itu.
Gak apa apa lah. Toh juga Reni hanya ingin melihat Nesya melawan rasa takutnya kepada sosok Desta. Si preman sekolah yang kejam dan paling anti dengan sesuatu yang bernama perempuan.
Tolong jangan pernah berpikir kalau Desta adalah homo. Karena nyatanya, cowok itu sebenarnya memendam perasaan kepada Nesya. Tetapi cowok itu kurang menyadari perasaannya sendiri.
***
"Inget janji Sya," peringat Reni sebelum Nesya dan Shinta keluar dari ruang rawat inap Reni.
Semalam, Nesya dan Shinta tidur di ruang rawat inap Reni untuk menjaga gadis itu sementara waktu. Yaa, sampai mama Reni pulang. Kira-kira, setelah menyelesaikan urusannya di luar kota.
"Iya Ren iya. Inget gue," ujar Nesya kesal.
"Shin! Jangan lupa video-in terus tunjukin ke gue, buat barang bukti."
"Siap kalo itu Ren," Shinta mengangkat kedua jempolnya di depan d**a.
"Yaudah, kalian cepet berangkat gih. Udah gak sabar gue nungguin video Nesya nembak Desta dan menjadi viral di seluruh jagat SMA Gemilang," ujar Reni membuat Nesya memutar bola matanya malas.
"Seneng banget lihat gue menderita. Temen macam apa lo," Reni dan Shinta terkekeh mendengarnya.
"Yaudah, kita duluan ya. Bye Reni," Nesya dan Shinta beranjak keluar dari ruang rawat inap Reni menuju parkiran rumah sakit. Kedua gadis itu menaiki mobil dengan Shinta yang mengendarainya.
Tak sampai 5 menit. Mobil Shinta sampai di parkiran SMA Gemilang. Memang, jarak rumah sakit dengan SMA Gemilang sangat dekat.
Dan itulah salah satu alasan mengapa Reni disekolahkan disini. Karena jika penyakit Reni kambuh seperti kemarin, Reni bisa dengan segera dibawa ke rumah sakit dan langsung mendapatkan penanganan.
Saat Shinta selesai memarkirkan mobilnya, dia segera menghampiri Nesya. Kemudian mereka berjalan diantara desakan-desakan siswa-siswi yang baru saja datang.
Koridor terlihat sangat padat pagi ini. Sampai, kedatangan 5 preman sekolah mampu membuat semua siswa-siswi yang tadinya memenuhi koridor menyingkir memberikan jalan.
"Sya Sya! Itu Desta Sya, Desta!" seru Shinta heboh membuat detakan jantung Nesya terasa sangat cepat. Nesya takut sekaligus grogi.
Sialan! Kenapa Reni harus memintanya menyatakan perasaann kepada Desta sih?!
Shinta mendorong-dorong tubuh Nesya keras saking semangatnya membuat tubuh Nesya terhuyung dan menubruk d**a bidang bos preman tersebut.
Nesya yang terkejut menutup matanya dan perlahan membukanya saat Nesya merasakan deru napas dari seseorang yang ditabraknya.
Bulu kuduk Nesya meremang disaat gadis itu mendongak dan mendapati Desta yang tengah menunduk, menatapnya.
"Ma-maaf," cicit Nesya kemudian menjauhkan badannya dari Desta. Nesya menunduk takut membuat Desta yang melihatnya menjadi ingin tertawa. Namun tentu saja Desta urungkan.
Aneh! Biasanya, Desta paling tidak suka dengan seseorang yang dengan lancang menyentuhnya walaupun tidak disengaja. Bahkan, menyentuh seujung seragamnya pun Desta bisa sangat marah.
Namun sekarang? Cowok itu hanya diam dan terus memperhatikan Nesya. Gadis yang menubruknya.
"Sya! Inget janji lo," Shinta berbisik sedikit keras dan Nesya mendengar itu. Nesya menggeram kesal, kenapa Shinta harus mengingatkannya sih?!
Tak mau membuang waktu lebih lama lagi. Nesya segera menarik napasnya panjang, kemudian menghembuskannya perlahan. Shinta yang melihat itu segera menyiapkan kamera ponselnya.
"Lo-lo mau gak jadi pacar gue," ujar Nesya tiba-tiba dan to the point kemudian berlari sembari menutupi wajahnya malu. Lain hal nya dengan cowok yang baru saja mendengarkan pernyataan perasaan Nesya padanya. Cowok itu terlihat sangat terkejut. Namun tak urung dia tersenyum.
"Nesya!! Gue juga suka sama lo!!" teriak Desta menggelegar membuat seantero sekolah tercengang mendengarnya. "Gue mau jadi pacar lo!!"
Cowok berandalan sekolah yang terkenal memiliki sifat yang kejam itu kini terlihat mengembangkan senyumnya semakin lebar.
***
Kejadian pagi tadi membuat Nesya merasakan rasa malu yang teramat dalam di dalam dirinya.
Seluruh murid SMA Gemilang bahkan mengetahui kabar tentangnya yang menyatakan perasaan kepada Desta. Banyak dari mereka yang tidak percaya dengan apa yang Nesya katakan dan banyak yang tidak percaya dengan respon yang Desta berikan.
Mengapa Desta tidak marah disaat Nesya menyatakan perasaannya? Entahlah, mereka semua tidak tau.
Nesya sekarang sedang duduk tidak tenang di bangku kelasnya. Sedari tadi, teman-teman sekelasnya banyak yang membicarakannya secara terang-terangan. Sedari tadi mereka juga terus melirik sinis kearah Nesya.
Sebenarnya, sekarang sudah jam istirahat. Namun Nesya terlalu malu sekaligus takut bahkan hanya untuk pergi ke kantin.
Dimana Shinta? Entahlah, dia selalu hilang begitu saja disaat dibutuhkan seperti saat ini.
Karena Nesya terlalu lapar. Mau tidak mau, akhirnya Nesya memutuskan untuk pergi kantin. Dia berusaha berjalan dengan tenang, santai dan kalem. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Sampai satu suara membuat langkah kaki Nesya otomatis berhenti.
"Pacar!!" teriak Desta membuat Nesya menoleh takut. Sejak awal Nesya masuk ke sekolah ini, Nesya berusaha mati-matian untuk menghindar dari cowok berandalan seperti Desta. Nesya takut terkena masalah.
Namun, takdir seakan tidak berpihak kepadanya. Justru kini dialah yang menghampiri masalah tersebut.
"Gu-gue udah bilang sama lo. Gue cuma ngelaksanain permintaan sahabat gue," cicit Nesya takut-takut.
Flashback on
Nesya baru saja keluar dari dalam toilet. Dia terlihat seperti sedang merapikan seragamnya sekarang. Setelah dirasa semuanya sudah rapi, Nesya kemudian melangkahkan kakinya untuk kembali ke kelasnya.
Nesya berjalan menatap lurus ke depan. Dan tepat di depannya, Nesya dapat melihat 5 preman sekolah sedang berjalan berlawanan arah dengannya. Dan itu berarti... Nesya akan berpapasan dengan mereka.
Nesya meneguk ludahnya takut. Kejadian pagi tadi masih terekam jelas diingatannya. Nesya benar-benar malu mengingat itu.
Nesya berusaha berjalan setenang mungkin. Tepat ketika Desta dan Nesya bersebelahan, tiba-tiba Nesya merasa tangannya seperti ditahan. Dan benar saja, Desta lah yang ternyata menahan tangannya.
"Gu-gue cuma mau bilang. Kalo tadi, gue cuma ngelaksanain permintaan temen gue. Maaf," cicit Nesya takut kemudian segera melepaskan tangannya dari tangan Desta. Lalu, Nesya berlari cepat setelah berhasil meloloskan tangannya dari tangan Desta.
Flashback off
"Gue gak peduli. Yang paling penting, lo nembak gue dan gue nerima itu. Sayang," Desta mencolek dagu Nesya yang sedang gemetaran ditempatnya.
"Tapi Des..."
"Gak ada tapi," sela Desta cepat. "Udah dari lama gue tertarik sama lo. Awalnya gue ragu, tapi setelah lo nembak gue tadi pagi gue jadi yakin. Kalo gue emang udah bener-bener suka sama lo," Desta menyeringai. Ia mendekati Nesya kemudian segera merangkul pundak gadis itu.
"Terus jalan di samping gue ya," bisik Desta membuat telinga Nesya terasa geli.
***
Kabar tentang terjalinnya hubungan antara Desta si preman sekolah dengan Nesya tersebar luas di SMA Gemilang. Banyak siswa-siswi yang bergosip tentang terjalinnya hubungan itu.
Sebagian besar dari gadis-gadis di SMA Gemilang mencaci maki Nesya yang dengan tak tau malunya mengungkapkan perasaan kepada Desta terlebih dahulu.
Namun, masih ada juga gadis yang menganggap Nesya adalah gadis pemberani karena berani menyatakan perasaan kepada seorang preman sekolah. Dan ya, mereka juga merasa iba dengan nasib Nesya setelah ini. Mereka berpikir, Desta pasti akan membuat hidup Nesya menderita.
Simpang siur bisikan terus terdengar disepanjang lorong sekolah yang Nesya dan Desta lewati. Desta masih setia dengan wajah datarnya, tangan cowok itu juga masih menggenggam erat tangan Nesya yang sudah berkeringat.
Jujur, Nesya sangat risih menjadi pusat perhatian seperti ini. Apalagi mendengar bisikan-bisikan murahan yang terus mencacinya. Nesya jadi geram sendiri.
"Des, bisa gak lo jangan anggap serius omongan gue tadi?" tanya Nesya berbisik pelan. "Gue gak bisa kaya gini Des," lanjutnya melirih.
Desta menoleh menatap Nesya tajam. Apa katanya tadi? Desta tak boleh menganggap serius pernyataan perasaan Nesya tadi? Mana bisa!
"Gak!" tegas Desta. "Lo gak akan bisa kabur dari gue Nesya. Karna lo, udah jadi milik gue. Karna lo, udah masuk dalam kehidupan gue," Desta terlihat serius dengan ucapannya.
"Desta...," Nesya melirih, sungguh Nesya tak akan sanggup jika dia harus mendengarkan cacian terus-terusan untuk kedepannya.
"Lo kenapa sih?!" ujar Desta tak suka. Cowok itu menghentikan langkahnya dan menatap Nesya tajam. Desta benci mendengar suara lirihan Nesya yang memintanya untuk melupakan pernyataan gadis itu tadi karena itu juga berarti Desta harus melepaskan Nesya.
Jangan harap bisa lepas dari Desta semudah itu Nesya!
"Des, gue gak suka jadi pusat perhatian kaya gini. Apalagi dengerin sindiran mereka buat gue, gue gak bisa Des. Tolong ngerti," Nesya benar-benar memohon sekarang. Berharap semoga ada setitik hati Desta yang tersentuh dengan permohonannya. Berharap Desta bisa memahami keadaannya.
Tatapan tajam Desta perlahan berubah menjadi tatapan menenangkan. Desta paham sekarang dengan apa yang menyebabkan gadisnya ini gelisah.
Ternyata karena bisikan sampah dari orang-orang yang iri.
Baiklah, Desta akan mengatasinya sekarang juga.
Dengan lembut Desta mengusap rambut Nesya. "Aku tau harus apa Nes," ujarnya. "Aku bisa atasi semuanya. Kamu jangan takut oke?" lanjutnya dengan suara lembut.
"Des, gu--," belum sempat Nesya menyelesaikan perkataannya Desta terlebih dulu menyela.
"Dan jangan pake gue-lo lagi. Aku gak suka Nes," sela Desta cepat disertai dengan senyuman. Senyuman yang mampu membuat hati Nesya yang tadinya geram dan penuh kegelisahan menjadi lebih tenang.
Nesya akhirnya mengangguk patuh. Desta yang melihat itu menjadi gemas sendiri. Tatapan Nesya yang menatapnya dengan polos itu terlihat sangat menggemaskan dan juga lucu.
Namun sedetik kemudian Desta yang tadinya tersenyum mendadak memasang wajah datar yang sarat akan kemarahan ketika mendengar bisikan sampah yang terus keluar dari mulut-mulut gadis yang ada disekitarnya dan Nesya.
Mulut sampah itu terus mengatakan Nesya adalah gadis yang tak tau malu. Gadis murahan yang mengatakan perasaan terlebih dahulu untuk seorang laki-laki.
Ah, pantas saja Nesya gelisah sedari tadi. Ternyata cibiran yang dilontarkan untuk Nesya cukup membuat telinga panas.
Desta sungguh menyesal karena sedari tadi dia menutup telinga rapat enggan mendengarkan apa yang orang sekelilingnya bicarakan.
Karena biasanya, orang-orang disekelilingnya banyak memujinya. Pujian yang terdengar sangat memuakkan menurut Desta.
Bagaimana tidak memuakkan kalau pujian itu keluar dari mulut sampah yang murahan.
"MULUT LO SEMUA MAU GUE ROBEK?! teriak Desta menggelegar. Suara riuh ramai orang yang tadi membicarakan Nesya mendadak hilang.
Semua orang tersentak kaget mendengar teriakan marah dari Desta. Tak terkecuali Nesya yang masih berada di sebelah Desta dengan tangan mereka yang masih saling bertautan.
Nesya sedikit mundur dari Desta karena tersentak. Desta yang menyadari itu menoleh menatap Nesya yang terlihat ketakutan.
Desta menampilkan senyum kecilnya untuk Nesya, menenangkan gadis itu. "Jangan takut," ujarnya. "Kamu tetep disini, tutup mata sama telinga kamu ya"
Nesya hanya mengangguk patuh. Gadis itu menutup mata dan telinganya erat menuruti perintah Desta.
Setelah memastikan Nesya melakukan perintahnya, Desta kembali menatap tajam siswa-siswi yang berada disekitarnya. "GUE GAK BUTUH BACOTAN LO SEMUA!!" sentak Desta lagi.
Tangan Desta terangkat menunjuk siswa-siswi yang ada disekelilingnya. "Gue peringatin sama lo semua. Jangan pernah ngomongin Nesya dibelakang. Kalo lo semua ada masalah sama cewek gue, ngomong sama gue," ujarnya. " Dan kalo sampe gue denger lo semua ngomongin Nesya dibelakang lagi kaya gini. Abis lo semua sama gue," lanjut Desta penuh dengan ketegasan.
Mereka yang mendengar itu hanya mampu tertunduk takut. Desta sangat menyeramkan, mereka kira kalau mereka hanya membicarakan Nesya tak akan sampai membuat Desta semarah ini.
Karena mereka pikir, Desta juga tak akan keberatan kalau Nesya mendapat cacian dari mereka. Mereka pikir, Desta tak memiliki rasa suka sama sekali pada Nesya dan mereka juga mengira, Desta menerima Nesya hanya untuk main-main saja.
"LO SEMUA TAU KAN GUE GAK PERNAH MAIN-MAIN SAMA OMONGAN GUE?!" sentak Desta lagi.
Mereka semua mengangguk masih dengan kepala yang menunduk dalam ketakutan.
Melihat itu Desta tak menanggapi lagi, dia menarik pelan tangan Nesya yang menutupi telinga gadis itu. "Hey, wake up girl," panggilnya lembut tepat di telinga Nesya. Nesya yang merasa tangannya ditarik dan mendengarkan perkataan Desta itu mulai membuka matanya.
"Ayo, kita perlu ke kantin," ajak Desta tersenyum seraya tangannya menarik lembut tangan Nesya yang sedari tadi memang masih digenggamnya.
Nesya menurut, meskipun diwajahnya kentara akan kebingungan melihat orang-orang di sekelilingnya yang tertunduk seperti ketakutan.
Desta jelas paham dengan raut wajah kebingungan Nesya. Cowok itu mengulas senyum tipisnya. "Gak usah pikirin mereka Nes, mereka gak penting," ujarnya mengusap halus rambut gadisnya.
"Aku benci jadi pusat perhatian Des. Karena dengan aku jadi pusat perhatian, semua yang aku lakuin mereka perhatiin dan komentarin. Aku gak suka," cicit Nesya pelan.
Desta tersenyum maklum. "Tenang oke, aku gak akan biarin kamu dikomentari kayak tadi," ujarnya. "Dan kalau ada yang komentari kamu atau macem-macem sama kamu. Bilang aku ya, jangan takut," lanjutnya.
Nesya mengangguk kecil mengiyakan.
"Ah iya satu lagi. Kalaupun nanti ada yang ngancem kamu, kamu juga perlu ngomong ke aku. Intinya, apa yang buat kamu gak nyaman dan gelisah, kamu bisa cerita itu ke aku. Aku janji, aku bakalan berusaha buat bantu kamu. Selalu," Desta mengatakan itu sembari menatap Nesya yang berjalan disampingnya.
"Jangan janji Des..."
"Kenapa?"
"Aku gak mau kalo sampe kamu gak bisa tepatin janji itu malah buat kamu nambah dosa."
"Aku akan berusaha buat tepatin," balas Desta yakin.
"Aku percaya Des. Cuma...," Nesya ragu untuk melanjutkan perkataannya.
"Cuma kamu hanya perlu yakin sama aku Nesya...," balas Desta cepat dan kembali berusaha meyakinkan. Desta menarik kedua bahu Nesya untuk bisa berhadapan dengannya. "Sya..., aku tau kamu takut kecewa sama aku. Aku tau karena aku emang bukan cowok baik-baik. Tapi yang perlu kamu tau, aku gak pernah ingkar janji Sya....."
Seulas senyum terbit di bibir Nesya. "Kalo gitu aku tunggu janji kamu," balasnya menyengir.
Desta terkekeh melihat itu. Ini adalah kali pertama Nesya mau menatapnya dengan begitu ceria. Bahkan alasan dari keceriaan itu adalah dirinya.
Biasanya, Desta hanya bisa melihat raut wajah ketakutan dan penuh kegelisahan dari Nesya ketika mereka tak sengaja berpapasan. Desta sering berpikir, emang semenakutkan apa dia sampai-sampai Nesya enggan menatapnya. Dan kalaupun menatap, itu juga karena tidak sengaja.
Padahal, banyak kok yang bilang Desta ganteng. Desta juga menyadari kegantengannya setiap dia berkaca. Tapi Nesya? Gadis itu tak pernah menampakkan ketertarikan pada Desta.
Hanya kata ketakutan lah yang selalu Nesya rasakan ketika berada disekitaran Desta. Makanya, dia sering berusaha menghindari.