“Ahk, Maaf!” Malik langsung menegakkan tubuh Denise lagi. Wajah pria itu bersemu kemerahan “Mal...” tegur Andri, temannya. Kenapa Malik jadi terlihat salah tingkah “Eeehh...” “Ayok, lo jadi gak ikut gue gak ke cafetaria?” ajak Andri lagi. “Iyah... Iyah tunggu sebentar” entah mengapa Malik malah merasa tidak ikhlas meninggalkan Denise “Oh,yah!” gumam Andri keheranan. Akhirnya pria itu memutuskan mau meninggalkan Malik saja “Kalau gitu gue duluannya” Andri fikir, mungkin saja Malik memang mengenal wanita itu dengan baik dan masih mau ngobrol lebih lama lagi “Anak Daisy!” panggil suster bersamaan “Kak aku di panggil tuh!” adu Daisy “I-iyah sayang. Dokter Malik saya anterin Daisy ke ruang pemeriksaan dulu,yah” “Loh emangnya Daisy kenapa sayang?” tanya Malik perhatian “Gigi aku saki

