Hari sakral tiba, tiga bulan setelah lamaran resmi yang tentunya di terima dengan baik oleh keluarga sang wanita. Keen dan Una sebentar lagi bisa melangsungkan pernikahan mereka. Setelah sekian banyak perbedaan yang di satukan dalam kata cinta, kasih dan toleransi. Sekarang keduanya bisa menuai kisah cinta mereka dalam biduk rumah tangga. "Sayang, kamu cantik banget!" seru Tika yang ikut masuk ke kamar pengantin untuk melihat Una yang masih di rias. Una mencoba meraih tangan Tika. Berniat mencium seperti biasanya. "Eehh... Gakpapa, Sayang. Kamu'kan masih di make up!" kata Tika seraya berganti mengelus rambut Una. Ia mematut diri di samping perias. Dengan wajah yang begitu bangga dengan calon menantunya itu. "Cantik,yah!" desisnya. Sang perias itu hanya mengangguk seolah membenarkan. "

