"Hanya ini program yang bisa kita pasang, Ketua," ucap Rico.
"Apa ini cukup?!" tanya Sakti.
Rico menggeleng, "Melihat situasinya, sepertinya Ecline memiliki sistem yang lebih mutakhir dari kita."
"Lalu, kita harus bagaimana?" Pom merasa cemas.
"Gunakan semua program keamanan yang ada, berharap saja Ecline tidak bisa menerobosnya..." ucap Yoland sembari bersama Sakti, Anata, Rico, dan Pom meningkatkan sistem keamanan pada game Battle Network ciptaan mereka.
"Bagaimana kalau kita meminta bantuan saja kepada pemerintah di negara kita ini? Aku pikir, mereka pasti akan membantu kita," ucap Sakti.
"Sakti benar, karena hanya dengan program yang kita miliki saat ini, itu tidak cukup kuat untuk melindungi data Battle Network. Bukankah sistem keamanan jaringan milik pemerintah kita sudah sangat maju, mungkin kita bisa meminjam datanya untuk sementara waktu," imbuh Anata.
"Baiklah... Besok adalah waktu yang tepat untuk pergi ke kantor pemerintah," ucap Yoland.
Seketika Sakti, Anata, Rico, dan Pom mengangguk serentak.
Setelah empat jam berlalu, perbaikan sistem pun telah selesai dan semua pemain kembali bermain Battle Network.
Satu hari pun berlalu, Sakti, Yoland, Anata, Rico, dan Pom sudah bersiap untuk berangkat menuju gedung pemerintahan.
"Bagaimana kita pergi ke sana?" tanya Anata.
"Kita naik bis saja," jawab Sakti.
"Tapi, terminal bis sangat jauh dari sini!" sahut Anata.
"Kita tunggu di tepi jalan sini saja, aku biasa sering melihat bis lewat depan sini," ucap Yoland.
Baru tiga menit mereka berdiri di tepi jalan, sebuah bis tampak berjalan mendekat.
"Nah, aku benar, kan? Itu dia bisnya sudah datang..." ucap Yoland sembari menunjuk ke arah sebuah bis yang berjalan mendekat.
Sakti, Yoland, Anata, Rico, dan Pom lalu pergi menuju ke kantor pemerintah dengan menumpangi bis.
Selang lima belas menit, mereka pun tiba tepat di depan sebuah gedung besar yang merupakan kantor pemerintahan di kota mereka. Perlahan mereka berlima berjalan ke pintu depan.
Saat Yoland hendak mendorong pintu untuk masuk, tiba-tiba seorang laki-laki berpakaian petugas keamanan yang saat itu sedang berjaga di depan pintu langsung menahan dan menghalangi.
"Maaf! Ada keperluan apa kalian datang kemari?!" tanya Petugas keamanan menatap tajam ke arah Sakti, Yoland, Anata, Rico, dan Pom.
"Sstt. Sakti," bisik Yoland, "Apa yang harus kita katakan padanya?" bisik Yoland lagi.
Sakti mengangkat bahu sembari menggelengkan kepalanya menatap Yoland.
"Aaa... anu, Pak. Kami... kami..." ucap Yoland gugup.
"Kami ingin bertemu Bapak Ardi!" sahut Anata.
Seorang wanita keluar melalui pintu depan kantor dan langsung berjalan menghampiri Anata, "Eh, nak Anata... Ada apa kemari?"
"Ini Tante, aku mau tanya; Bapak Ardi-nya ada?!" tanya Anata.
"Duuh, kok panggil beliau Bapak Ardi sih? Kan beliau ayahnya nak Anata?!" sahut wanita itu balik bertanya.
"Hah?!" Sakti, Yoland, Rico, dan Pom menatap heran ke arah Anata.
"A-a-anata...." Sakti terbata-bata dan terkejut sambil perlahan menatap Anata.
"Jadi, Pak Ardi itu ayah kamu?!" tanya Yoland takjub.
Anata mengangguk tidak bersemangat.
"Kenapa kamu tidak bilang dari dulu kalau pekerjaan ayahmu itu adalah pejabat?!" tanya Rico.
"Untuk apa aku memberitahukan hal ini pada kalian?! Toh, yang jadi pejabat, kan ayahku, bukan aku..." sahut Anata.
"Perkenalkan, nama saya Kina, dan saya adalah sekretaris Bapak Ardi," ucap wanita itu tersenyum mengenalkan diri.
"Ini teman-temanku di sekolah, Tante. Mereka kemari ingin bertemu Bapak Ardi," sahut Anata.
"Bapak Ardi ada di dalam, mari saya antar nak Anata dan teman-temannya ke ruangan beliau," ajak Tante Kina sembari membuka pintu depan kantor dan masuk lebih dulu ke dalam kemudian diiringi oleh Anata lalu Sakti, Yoland, Rico, dan Pom dari belakang.
Sembari berjalan, Anata tampak murung dan lesu.
"Kamu kenapa, Anata?" tanya Sakti yang sejak tadi memperhatikan raut wajah Anata.
Anata hanya menggeleng.
"Nah, ini ruangan beliau. Silahkan masuk," ajak Tante Kina sembari masuk ke dalam ruangan Bapak Ardi ayahnya Anata.
"Kalian masuk saja, aku tunggu di depan." Anata langsung berjalan menjauh menuju tempat duduk di ruang tunggu.
Sakti heran melihat tingkah Anata yang sepertinya dia ada masalah dengan ayahnya.
"Ayo, Sakti," ajak Pom menarik tangan Sakti ke dalam ruangan setelah Yoland dan Rico lebih dulu masuk ke dalam.
"Siapa mereka, Kina?" tanya Pak Ardi yang sedang duduk sambil menatap layar laptopnya yang tergeletak di atas meja di depannya.
"Ini, Pak. Mereka teman-temannya nak Anata." Tante Kina menoleh ke arah Sakti, Yoland, Rico, dan Pom, "Loh! Nak Anata dimana?!" Tante Kina seketika bingung.
"Oh, tadi kata Anata dia menunggu di depan," jawab Rico.
Tante Kina menoleh ke arah Pak Ardi yang seketika mengangguk saat Tante Kina menatapnya.
"Saya pergi dulu," ucap Tante Kina seraya tersenyum kemudian melangkah keluar dari ruangan.
"Baiklah. Ada urusan apa kalian datang ke ruanganku ini?" tanya Pak Ardi sembari menyunggingkan senyum tipisnya.
"Aaa... Anu, Pak...." Yoland tampak bingung ingin berkata mulai dari mana.
"Apa ini ada hubungannya dengan Anata?" tanya Pak Ardi seketika.
Sontak Yoland dan Sakti merasa bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Pak Ardi ayahnya Anata.
"Hubungan saya dengan Anata memang saat ini ada sedikit jarak, saya pun tidak tahu bagaimana saya bisa membujuknya untuk bisa berbicara dengan saya lagi," ucap Pak Ardi.
Sakti masih bingung dengan apa yang didengarnya dari ucapan Pak Ardi, "Aaa... Tapi, bukan...."
"Mungkin Anata marah karena saya menikah dengan Tante Kina," sambung Pak Ardi memberitahu.
"Hah!!" Sontak Sakti, Yoland, Rico, dan Pom terkejut setelah mendengar pernyataan dari Pak Ardi.
"Jadi, wanita tadi itu ibu sambungnya Anata?!" tanya Sakti.
Pak Ardi mengangguk, "Anata sangat menyayangi mendiang ibunya, mungkin itu yang membuatnya marah saat saya menikah dengan Tante Kina," ucap Pak Ardi, "Padahal, Tante Kina sangat menyayangi Anata, dan dia menganggap Anata sudah seperti anaknya sendiri."
Saat Sakti mendengar cerita Pak Ardi, seketika terlintas sebuah ide di pikirannya untuk menyatukan kembali hubungan Anata dengan ayahnya.
"Begini, Pak. Kami mungkin bisa membuat hubungan Bapak dengan Anata bisa baik kembali," ucap Sakti dan sontak membuat Yoland, Rico, dan Pom terkejut.
"Benarkah?!" tanya Pak Ardi tampak bersemangat.
Sakti mengangguk yakin, "Tapi kami ingin imbalan...."
"Apa imbalan yang kalian inginkan?!"
"Nanti akan kami beritahukan setelah kami berhasil menyatukan kembali hubungan Bapak dengan Anata dan juga ibu sambungnya," jawab Sakti.
Di lain tempat, tepatnya di sebuah negara maju dan di dalam salah satu kantor di sebuah gedung pencakar langit yang merupakan sebuah perusahaan game terbesar di dunia, perusahaan itu bernama Gaftermoon. Seorang pria sedang duduk sambil menatap layar monitor komputernya, ia sedang memperhatikan game Battle Network.
"Ternyata hanya game ini yang dapat diakses, sedangkan game-game lain, bahkan aplikasi lain tidak dapat diakses lagi."
Seseorang wanita mengetuk pintu ruangan kantor itu.
"Silahkan masuk," ucap pria yang tadi berada di dalam kantor mempersilahkan orang yang di balik pintu untuk masuk.
Pintu pun terbuka, wanita itu berjalan menghampiri pria yang ada di dalam kantor.
"Bagaimana, Mika? Apakah berkas-berkasnya sudah kau siapkan?!"
"Semua berkasnya sudah saya siapkan, Pak Louise...."
"Tolong kirimkan semua berkas itu ke e-mailku."
"Baik, Pak."
"Selanjutnya, tolong perintahkan semua tim untuk mengawasi game ini."
"Baik, Pak."