Setelah beberapa menit, Sakti bersama Yoland, Rico, dan Pom keluar dari ruangan Pak Ardi dan langsung berjalan menghampiri Anata yang sedang duduk di ruang tunggu.
"Bagaimana? Apa pak Ardi mau membantu?" tanya Anata seketika beranjak dari tempat duduk saat Sakti, Yoland, Rico, dan Pom tiba di depannya.
Seketika Sakti, Yoland, Rico, dan Pom saling menatap satu sama lain. Tampak dari raut wajah mereka yang menunjukkan isyarat tentang yang tadi dibicarakan mereka dengan Pak Ardi ayahnya Anata.
"Nanti saja kita bicarakan jika kita sudah sampai di basecamp," ucap Yoland.
"Baiklah kalau begitu." Anata pun melangkah lebih dulu menuju ke pintu keluar, kemudian diiringi oleh Sakti, Yoland, Rico, dan Pom dari belakang Anata.
Tak lama kemudian sebuah bis tiba dan berhenti tepat di depan Sakti, Yoland, Anata, Rico, dan Pom. Mereka berdiri tepat di sebuah halte yang berada tepat di depan kantor pemerintahan.
Anata lebih dulu masuk ke dalam bis, kemudian diiringi oleh Rico dan Pom dari belakangnya.
Yoland memperlambat langkahnya kemudian berjalan beriringan dengan Sakti saat masuk ke dalam bis.
"Ssstt... Sakti," bisik Yoland.
Seketika Sakti pun menoleh ke arah Yoland kemudian Sakti mengangkat keningnya.
"Apa rencanamu untuk membuat hubungan Anata dan ayahnya kembali baik?" tanya Yoland berbisik.
"Aku masih memikirkannya, Ketua," jawab Sakti berbisik, "Kalau Ketua bagaimana? Apa Ketua punya rencana?" sambung Sakti balik bertanya.
"Sebenarnya kita tidak memiliki hak untuk mencampuri urusan Anata dan keluarganya," ucap Yoland sambil terus berusaha keras membuat rencana yang tepat.
"Bagaimana kalau kita beritahukan saja yang sebenarnya?" tanya Sakti.
"Jika kita beritahukan semuanya kepada Anata, apa dia tidak akan marah?" tanya Yoland.
"Nanti kita rundingkan dulu bersama Rico dan Pom, seperti biasa Rico pasti punya ide yang cemerlang," ucap Sakti.
Matahari sudah berada tepat di atas kepala, teriknya pun terasa menyengat karena hari ini cuacanya sangat cerah. Sudah hampir tiga puluh menit mereka berada di dalam bis, tapi mereka belum juga sampai ke basecamp di mana mereka biasa berkumpul karena memang biasa pada tengah hari jalan raya sedang padat.
Pom telah tertidur dengan posisi duduk sambil bersandar pada bahu Rico. Sementara Anata sedang duduk di kursi paling belakang di dalam bis, sedangkan Sakti dan Yoland bersama-sama berdiri di dekat pintu keluar bis dengan berpegangan pada pegangan bis.
"Kedua kakiku sudah sangat keram," ucap Sakti yang tampak kedua kakinya gemetar karena sudah terlalu lama berdiri.
Yoland menoleh ke kanan dan ke kiri untuk melihat-lihat apakah ada kursi kosong di dalam bis, tapi dia tidak menemukannya.
"Jam-jam segini jalanan memang padat, tapi sebentar lagi kita sampai di basecamp," ucap Yoland.
Tepat pukul setengah dua siang bis pun berhenti tepat di tepi jalan di dekat basecamp di mana Dakti, Yoland, Anata, Rico, dan Pom biasa berkumpul.
"Akhirnya kita sampai juga." Sakti langsung duduk di posnya, yaitu tepat di depan salah satu komputer yang biasa dia pakai.
"Kita sudah sampai... Jadi, bagaimana? Apa Pak Ardi bersedia untuk membantu kita?" tanya Anata.
Mendengar pertanyaan Anata, sontak Sakti, Yoland, Rico, dan Pom kembali saling menatap sehingga membuat Anata menjadi heran dengan tingkah keempat temannya itu.
"Ada yang kalian rahasiakan dariku!" ucap Anata tampak kesal.
"Aaa... Begini, Anata...." Sakti tampak bingung ingin berkata mulai dari mana.
"Apa?!" Anata tampak semakin kesal.
Yoland berjalan mendekat, "Ini tentang hubunganmu dengan ayahmu, Anata," ucap Yoland.
Anata diam sambil menatap Yoland dengan datar.
"Pak Ardi mengatakan bahwa jika kami bisa membuat hubunganmu dengan ayahmu baik kembali maka beliau akan mau membantu kita," ucap Sakti.
"Sudah aku duga!" Anata mendengus kesal.
"Ja-jadi, bagaimana?" tanya Sakti hati-hati.
Anata kembali mendengus, kemudian tampak senyum licik dari raut wajahnya.
"Ada apa, Anata?" tanya Sakti bingung.
"Kalau tentang masalah itu, aku tidak bisa," ucap Anata sembari menggelengkan kepalanya.
Seketika Sakti, Yoland, Rico, dan Pom pun menjadi patah semangat karena mereka tahu bahwa Anata adalah seorang perempuan yang keras kepala dan selalu teguh dengan pendiriannya.
Rico tampak memikirkan sesuatu, kemudian ia menatap wajah Anata, seketika terlihat raut wajah licik dari wajah Rico.
"Rico, apa kau memikirkan rencana yang sama seperti yang aku pikirkan?" tanya Anata.
"Bagaimana kalau Anata berpura-pura saja bahwa dia sudah tidak marah lagi kepada Pak Ardi?!" Rico memberi usul.
"Benar! Aku bisa saja berpura-pura baik dengan ayahku sampai setelah kita berhasil mendapatkan bantuan," ucap Anata.
"Apa pak Ardi tidak curiga? Bagaimana jika pak Ardi tetap tidak mau memberi bantuan kepada kita?" tanya Sakti.
"Kau tenang saja, serahkan semuanya padaku," ucap Anata.
"Bagus! Satu masalah sudah terselesaikan," ucap Yoland lega.
"Jadi, apa kita bisa lanjut berburu lagi?" tanya Sakti yang tampak sangat bersemangat ingin kembali bermain Battle Network.
Serentak Yoland, Anata, Rico, dan Pom mengangguk mengiyakan.
Kemudian Sakti bersama keempat temannya pun kembali bermain Battle Network dan melanjutkan perburuan mereka.
Saat mereka sedang menikmati pertarungan melawan salah satu monster besar berwujud seekor katak, tiba-tiba pemain dengan karakter berjubah hitam kembali muncul tepat di depan di mana karakter Sakti, Yoland, Anata, Rico, dan Pom berada.
"Ecline!" gumam Sakti kesal.
"Sepertinya sistem pertahanan kalian sedikit ada peningkatan," ucap Ecline terdengar dari semua speaker yang terhubung ke masing komputer yang dipakai Sakti, Yoland, Anata, Rico, dan Pom.
"Kau lagi! Ada urusan apa kau menghampiri kami?!" tanya Rico kesal sambil berbicara menggunakan mikrofon yang ada pada headphone yang dikenakannya.
"Tenang, tenang.... Aku hanya berkunjung sebentar... Oh iya, bagaimana pertemuan kalian dengan salah satu pejabat pemerintah? Apa kalian berhasil mendapatkan bantuan?" tanya Ecline sedikit tertawa dengan nada mengejek.
"Kau!!!!" teriak Sakti seketika menggerakkan karakternya untuk membidik tepat ke arah karakter Ecline.
"Pergi kau dari sini!" teriak Sakti lagi seketika karakternya menembak ke arah karakter Ecline.
Peluru itu melesat tepat ke arah karakter Ecline.
"Kenapa tidak berdampak apapun padanya?!" tanya Sakti lirih dan merasa heran.
Sakti kembali menggerakkan karakternya untuk menembakkan beberapa peluru ke arah karakter Ecline. Namun, hasilnya tetap sama. Semua peluru terlihat seperti menembus tubuh karakter yang digunakan Ecline.
Sakti tidak menyerah, ia kembali menggerakkan karakternya untuk membidik ke arah karakter Ecline.
"Hentikan, Sakti," ucap Yoland, "Menurutku, semua pelurumu itu padahal berhasil mengenainya."
"Tapi kenapa semua peluruku tidak berdampak apapun padanya?" tanya Sakti heran.
"Hahahaha...." Terdengar suara tawa si pencipta virus Reinka-99 yaitu orang yang bernama Ecline.
"Semua serangan kalian tidak akan pernah bisa mengenaiku! Lihatlah...."
Karakter Ecline melemparkan pedang sabitnya ke arah di mana karakter Sakti, Yoland, Anata, Rico, dan Pom berada.
Sabit itu berputar dan melesat dengan sangat cepat sehingga Sakti, Yoland, Rico, Anata, dan Pom tidak sempat untuk menghindar. Namun, anehnya pedang sabit itu juga tidak berdampak apapun pada masing-masing karakter yang dipakai oleh Sakti, Yoland, Anata, Rico, dan Pom.
"Ini sangat aneh...." Rico sangat bingung dengan apa yang dia lihat.
"Benarkah?! Apa aku sudah berhasil meretas dan mengubah pengaturan yang kalian terapkan di dalam game ini?!" ucap Ecline dengan nada mengejek.
"Apa yang kau lakukan pada game ini!" teriak Sakti.
"Aku sudah mengubahnya, dan ini akan berdampak pada semua pemain bahwa semua serangan tidak akan berdampak apapun pada pemain lain termasuk monster.... Maksudku virus di dalam game ini," ucap Ecline.
"Dia memang benar-benar tidak bisa diremehkan...." Sakti berdecak kagum, tampak raut wajah semangat yang terpampang di wajahnya.
"Sepertinya kita harus segera mengembalikan pengaturan sistem seperti semula sebelum semua pemain lain merasa bahwa game ini adalah produk gagal..." ucap Yoland.
"Baiklah...!" seru Sakti, "Hei, Ecline!" teriak Sakti, "Apa kau pikir kami akan diam?! Hahahaha...."
"Aku persilahkan kepada kalian," sahut Ecline masih dengan nada mengejek.
Sakti, Yoland, Anata, Rico, dan Pom akhirnya kembali keluar dari permainan dan berniat ingin memperbaiki sistem serta mengembalikan pengaturan sistem seperti semula.