Restu Ibunda

1003 Kata
Malam itu hujan turun deras. Lana yang memakai baju terbaiknya sudah bersiap di meja makan. Ia pun telah menyiapkan sajian terlezat yang sebelumnya ia pesan dari aplikasi makanan antar. Sore tadi Bara mengatakan jika suaminya itu ingin makan malam berdua dengannya. Bara juga bilang kalau ada hal penting yang ingin ia sampaikan. Tepat pukul 20:00 WIB, mobil Bara memasuki garasi. Lana pun bergegas menyambut dengan senyum semenawan mungkin. Namun, Bara hanya membalasnya dengan senyum singkat. Meski Lana sudah bersolek, tetap saja Bara merasa penampilan Lana tidak semenarik Nisya. Wanita yang sudah dinikahinya selama tiga tahun itu memang tidak memiliki selera yang baik dalam memadupadankan warna baju dan juga model terkini. Padahal Bara sudah sering mengajaknya berbelanja dan membelikan Lana majalah khusus mode. Terlebih sejak lelaki itu dekat dengan Nisya. Setan di sekitar Bara terus membisikkan kalimat sakti, kalau Nisya jauh lebih cantik daripada Lana. "Dek, ada yang mau Mas sampaikan," ucap Bara perlahan. Wajahnya tampak segar setelah terbasuh dengan air hangat. Wangi lidah buaya pun menguar dari rambutnya yang basah. "Mas Bara mau bicara apa?" kata Lana seraya mengambilkan satu centong nasi untuk Bara. Lana lalu meletakkan sepotong ayam goreng dan menambahkan satu sendok capcay seafood. Bara menarik napas panjang dan mengempas kasar udara dalam dadanya sebelum ia memulai bicara lagi. "Mas mau segera punya anak, Dek," ucap Bara sambil menunduk. Lana pun mendadak berdebar. Ia merasa jika malam itu Bara sedang menginginkannya. "Kita usaha lagi malam ini, ya?" kata Bara yang dijawab Lana dengan anggukan pelan. Setelah membersihkan meja makan, Lana lekas bersiap. Ia membasuh diri dan memakai parfum yang Nisya berikan. Tentu saja aroma vanila yang menguar dari tubuh Lana membuat Bara jadi teringat pada Nisya. Bahkan, tanpa setahu Lana, Bara membayangkan bahwa ia sedang bersama Nisya. Berselimut cahaya rembulan yang menerobos melalui sela jendela, Bara mengusap lembut kepala Lana yang tengah bersandar di dadanya. "Dek, besok Mas mau dinas ke luar kota. Ke Semarang." Sontak, Lana menegakkan tubuhnya dan memandang lekat bola mata cokelat milik Bara. "Ngapain, Mas? Bukannya nggak ada kantor cabang di sana?" Hening mengambil jeda beberapa menit sebelum Bara kembali berucap, "Ada calon investor yang harus di-follow up. Mas sendiri yang harus turun tangan. Nanti kalau proyek ini goal, kantor juga akan buka di sana." Lana manggut-manggut sambil merebahkan kembali kepalanya ke d**a Bara. "Lama nggak, Mas?" "Cu-ma sa-tu bulan. Nggak pa-pa, kan?" "Nggak pa-pa, Mas. Nanti kalau kesepian, aku bisa minta temenin Nisya," ucap Lana yang semakin membuat darah Bara kian memanas. Laju jantung lelaki itu pun meningkat saat Lana menyebut nama Nisya. Keesokan harinya, Lana menghubungi Nisya. Ia ingin mengajak Nisya menginap di rumahnya selama Bara dinas ke luar kota, seperti yang sering mereka lakukan. "Bisa, kan, Nis? Nanti lo ajarin gue lagi cara dandan, ya." "Hmm," ucap Nisya datar. "Oh, ya, Sya, gue mau cerita. Semalam gue pake parfum yang lo kasih dan ternyata Mas Bara suka. Dia jadi mesraaa banget. Duh malu gue ngomongnya," kata Lana lagi tanpa menyadari sikap acuh Nisya. Padahal di ujung telepon, Nisya tengah mencibir, Ya iyalah, pasti Mas Bara ngebayangin kalau lo itu gue. "Halo, Nis? Kok lo diem aja, sih?" "Sorry, Lan. Tadi lo. ngomong apa?" Sontak, Lana mencebik. "Gue udah ngomong panjang lebar, lo malah nggak denger. Sebel. Kenapa, sih? Lagi ada masalah? Cerita dong, atau besok aja deh, sekalian pas lo nginep. Biar puas." "Enggak, kok. Gue cuma ikut seneng dengernya. Tapi sorry, gue nggak bisa nginep. Besok gue pulang ke Semarang. Disuruh pulang ni sama Emak." "Oh, iya, jangan-jangan, lo mau nikah ya? Sama cowok yang kemarin lo pasang di status itu? Jahat, ih, nggak cerita," kata Lana Lagi. Kilat kebahagiaan tampak di matanya yang menyipit. Bahkan, kala Nisya menyebut nama kota yang sama dengan tujuan Bara, dia tidak curiga sedikit pun. "Aamiin. Lo doain ajalah. Nanti gue pasti kasih tau." "Oke, deh. Tapi jadinya lo nggak bisa nemenin gue, dong. Kesepian deh gue. Eh, iya, Mas Bara kan juga mau ke Semarang. Apa gue ikut Mas Bara aja ya? Nanti gue bisa main ke rumah lo." "Jangan!" ucap Nisya yang membuat Lana mengernyit. "Maksud gue, suami lo kan lagi kerja, ngapain sih lo ikut? Jadi nggak konsen dia nanti. Lagian rumah gue tuh, pelosok. Lo pasti nggak bakal suka. Kapan-kapan ajalah lo ke rumah gue." Akhirnya Lana hanya mengangguk. *** "Hati-hati, ya, Mas. Jangan lupa telpon kalau udah sampai sana." "Iya, Dek. Kamu baik-baik, ya, di rumah. Nisya ... jadi nemenin kamu?" Lana menekuk wajahnya, hingga menimbulkan sedikit lipatan di kedua pipinya yang tembam. "Dia bilang nggak bisa. Mau pulang kampung." "Ooh, ya udah." "Eh, Mas. Nisya kan mau ke Semarang juga. Pesawat kamu jam berapa? Jangan-jangan bareng sama Nisya. Kenapa kalian nggak bareng aja. Bentar, deh, aku telpon dia," kata Lana yang membuat mata Bara langsung melebar. "Yah, ponselnya nggak aktif, Mas." "Ya udah, Mas sendiri ajalah. Lagian nggak enak, masak jalan bareng wanita yang bukan istri Mas," ucap Bara yang membuat wajah Lana merona. Kepercayaannya pada Bara pun semakin meningkat. "Mas berangkat. ya, Dek." Bara lalu memeluk erat Lana sebelum menaiki taksi on-line yang sudah parkir di halaman. Tepat setelah mobil meninggalkan rumah, Bara langsung menghubungi Nisya melalui w******p--ke nomor baru Nisya yang memang hanya diketahui Bara. "Aku udah jalan, sebentar lagi aku jemput. Siap-siap, ya." "Baik, Mas." *** Wanita 67 tahun yang duduk di depan Bara tersenyum lebar saat Bara memperkenalkan Nisya. Terlebih kala mendengar bahwa putranya itu berniat menikahi Nisya. "Ibu setuju, Nak. Mulanya Ibu memang mau mencarikan istri lagi buat kamu. Habisnya kamu sudah lama menikah, kok ya istri kamu itu nggak hamil-hamil." Warsih lalu berdiri dan menghampiri Nisya. Sejenak kemudian wanita yang sebagian besar rambutnya sudah memutih itu menangkup wajah Nisya. "Ayune, kamu jauh lebih cantik daripada Lana." "Makasi, Bue." Bibir tipis Nisya semakin membentuk bulan sabit. Awalnya ia sempat cemas saat Bara mengatakan kalau mereka akan menemui ibunda Bara terlebih dahulu, untuk meminta restu. Namun, kekhawatirannya tidak menjadi kenyataan. "Ya sudah, besok kita lamar Nisya. Sekalian saja kalian menikah. Ibu sudah nggak sabar mau menimang cucu," kata Warsih yang membuat Bara dan Nisya saling pandang. Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN