Makan Malam

1080 Kata
Kala tengah sibuk di dapur, terdengar alunan 'Sang Dewi' milik penyanyi Lyodra, membuat Lana mengecilkan kompor lalu mendekati meja makan--tempat ponselnya terletak. Senyum Lana seketika tersungging saat melihat nama sang suami di layar iPhone 13-nya. Ia lalu merapikan rambutnya dengan tangan sebelum menarik tombol hijau ke atas. “Kenapa, Mas, tumben video call?” ucap Lana setelah menjawab salam Bara. Ia pun sempat melirik jam dinding yang ada di dapur. Jam tiga sore. “Biasanya kalau udah di kantor suka lupa sama yang di rumah,” ucapnya hingga membuat Bara tersenyum. “Dek, kamu lagi ngapain?” “Tuh lihat. Aku lagi masak, buat makan malam.” “Sekarang kamu matiin kompor dan cuci tangan. Nggak usah masak. Terus kamu pergi ke salon dan dandan yang cantik. Nanti jam lima Mas jemput. Kita makan malam di luar.” Sontak, mata Lana membola. Sudah cukup lama Bara tidak pernah mengajaknya makan di luar. “Beneran, Mas?” “Iya. Kalau perlu kamu beli baju baru. Mas mau ajak kamu makan ke restoran mahal.” “Wah, oke, Mas. Eh, tapi dalam rangka apa, ni? Tumben. Aku, kan, lagi nggak ulang tahun? Ulang tahun pernikahan kita juga udah lewat.” “Aku naik jabatan. Sekarang Mas jadi kepala divisi, Dek, dan dipindahkan ke kantor pusat.” “Alhamdulillah. Selamat, ya, Mas. Akhirnya kerja keras Mas selama ini membuahkan hasil.” “Alhamdulillah.Berkat doa dan dukungan kamu juga, Dek. Ya, sudah, ya. Mas masih ada urusan. Jangan lupa kamu dandan yang cantik, ya.” “Siap, Bos.” Bara baru akan mematikan panggilan saat suara Lana kembali terdengar.“ “Eh, Mas, Mas.” “Iya, Dek, kenapa lagi?” “Boleh, nggak aku ajak Nisya?” “Buat apa? Mas kan ingin merayakannya berdua sama kamu.” “Aku cuma mau minta maaf atas sikapku tempo hari. Sampai sekarang aku masih merasa bersalah sama dia.” Bara melepas kasar udara di paru-parunya. “Iya, Dek, kamu memang agak keterlaluan waktu itu.” “Makanya, itu. Boleh, ya? Lagian dia pasti bisa bantuin aku dandan dan cari baju yang pantas.” “Ya, udah. Kamu boleh ajak dia.” "Asyik. Makasi, Mas." Sontak, perasaan Lana bagai dihinggapi ratusan bunga mawar yang baru mekar. ***. “Selamat, ya, Mas atas jabatannya yang baru,” ucap Nisya yang duduk tepat di sebelah Lana. Ia begitu bahagia saat tadi Lana meneleponnya dan mengajaknya makan malam untuk merayakan kenaikan jabatan Bara. “Makasi, Nis. Maaf kalau undangannya mendadak. Lana yang tiba-tiba punya ide pengen ngajak kamu. Oh, iya, makasi juga sudah mengubah istriku jadi secantik ini.” Bara tersenyum sambil menggenggam erat tangan Lana. Seketika pipi Lana memerah. Namun, Nisya mencibir. “Iya, Mas nggak pa-pa. Kebetulan lagi nggak ada pelanggan penting. Jadi bisa ninggalin salon ke asisten aku.“ Tak lama kemudian, seorang pramusaji datang membawa nampan dan mangkuk kecil di atasnya. Pelayan itu lalu meletakkan mangkuk berisi sup dengan irisan roti yang diletakkan di piring terpisah ke hadapan Bara, Lana dan Nisya. “Silakan dinikmati, Pak, Bu." “Terima kasih,” ucap Bara, sedangkan kedua wanita di kanan kirinya hanya menganggguk kecil. Sepeninggal sang Pelayan, Lana yang baru pertama kali makan di restoran mewah tampak kebingungan. “Mas, kita cuma makan ini aja? Mana kenyang,” ucapnya pelan pada Bara yang masih bisa terdengar oleh Nisya. "Ini baru makanan pembukanya, kok, Dek." "Oh, gitu." Lana mengangguk paham lalu mulai menikmati sup jamur yang aromanya sudah menggantung di hidung, dan membuat liurnya tertelan. Sedangkan Nisya seketika mengulum senyum. Dalam hati ia mentertawakan sikap Lana yang menurutnya sangat kampungan. Ia dan Lana memang sudah bersahabat selama dua tahun, tapi hubungan mereka bisa dibilang belum sedekat nadi. Tanpa setahu Lana, Nisya masih banyak menyembunyikan sesuatu di belakang Lana. Begitupun sebaliknya. Mereka dekat hanya karena sama-sama tinggal sendiri di perantauan. Lana yang ditinggal sang suami bekerja di luar kota, sedangkan Nisya yang sudah tidak bersuami. Sembari lidahnya bermesraan dengan sesendok kuah sup, Nisya mengalihkan pandangan ke arah Bara yang juga sedang menikmati supnya. Lelaki itu terlihat sangat tampan dengan balutan jas hitam Armani yang membungkus tubuh atletisnya. Sayang sekali, pria setampan kamu harus beristrikan seorang Lana yang kampungan, Nisya terus membatin. Bara yang sadar jika Nisya terus menatapnya sontak mengangkat kepala dan balas memandang sahabat istrinya itu. Tak dipungkiri jiwa lelakinya terganggu dengan penampilan seksi dan sorot mata tajam milik sahabat sang istri. Beberapa menit lamanya Nisya dan Bara saling beradu tatap. Keduanya seakan enggan memutus rasa yang sudah mulai timbul. *** Bara baru akan membuka kotak makan yang Lana bawakan saat telepon di meja kerjanya berbunyi. “Hallo, siang.” “Pak, ada tamu untuk Bapak,” lapor resepsionis yang bernama Dita. “Siapa, Dit? Klien? Bilang saya sedang istirahat. Suruh kembali nanti di atas jam satu.” “Bukan, Pak. Ibu. Katanya mau mengantar makan siang buat Bapak.” "Ibu? Maksud kamu istri saya?" "Iya, Pak. Kelihatannya, sih, begitu," ucap Dita yang membuat garis-garis halus di dahi Bara bermunculan.. Lana? Ngapain dia ke sini? Bara sudah berpikir yang tidak-tidak. Lelaki itu khawatir kalau Lana akan membuat malu--dengan penampilan yang kuno dan tidak menarik. Itu juga yang menjadi alasan mengapa dia tidak pernah mengajak istrinya itu menghadiri acara-acara kantor. Namun, saat Bara akan bertanya lebih lanjut, samar terdengar suara seseorang yang sangat dikenalnya. Nisya? Mau apa dia kemari? “Bagaimana, Pak?” “Oke, Saya turun sekarang,” ujar Bara setelah meletakkan kotak makan siangnya ke dalam laci. Saat tiba di lobi, Bara langsung disambut Nisya yang siang itu tampak lebih memukau. “Mas,” sapa Nisya dengan suara manja. Bibir mungilnya yang berwarna merah muda sudah melengkung ke atas. Ia kemudian berdiri dan menghampiri Bara yang baru turun dari tangga. Awalnya Bara sempat ragu mau mengajak Nisya ke ruangannya. Hingga akhirnya wanita itu mulai bicara. "Kita ke ruangan kamu aja, ya, Mas?" "Bo-boleh." Bara lalu mengajak Nisya ke ruang kerjanya yang terletak di lantai tiga. “Kamu ada apa ke sini? Kok, nggak kasih tahu dulu? Lana juga nggak bilang apa-apa,” kata Bara pada wanita yang sudah duduk di hadapannya. Meski terlihat gugup, dia berusaha ramah. Sebenarnya Bara tidak nyaman berduaan dengan Nisya seperti itu. Terlebih mereka hanya dipisahkan oleh meja selebar 80 cm. Bukan karena tidak tertarik, belum tepatnya. Lebih karena Bara yang tidak terbiasa dipandangi wanita cantik bersorot mata tajam seperti Nisya. "Sebentar aku kasih tahu Lana dulu, ya," ucap Bara berusaha mengalihkan perhatian Nisya darinya. "Eh, jangan, jangan, Mas!" kata Nisya cepat. Tepat sebelum Bara menekan nomor Lana. Sontak, Bara memicing. "Kenapa?" Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN