Aksi Nisya

1019 Kata
Tepat pukul 19.00 WIB Bara tiba di kediaman Nisya. Sejak tadi jantungnya berdebar-debar karena dua hal, karena sudah membohongi Lana dan karena dia akan menemui Nisya. Sejak kedatangan wanita itu ke kantornya, Bara jadi salah tingkah. Terlebih setelah rekan kerjanya mengganggap bahwa Nisya adalah istrinya. Bukan Lana. Bara baru mematikan mesin mobilnya saat pandangannya terpaku. Matanya bak ingin menerkam sosok cantik yang berdiri di depan pintu--Nisya yang malam itu mengenakan gaun satin panjang biru laut. Rambut panjangnya yang biasa digerai kini digelung ke belakang, hingga memperlihatkan leher jenjangnya, membuat wanita itu tiga kali lebih cantik dibanding biasanya. Jantung Bara semakin berdentum-dentum. Dahinya pun sedikit berkeringat. Mulutnya juga membundar. Perlu beberapa menit baginya untuk menenangkan diri sebelum akhirnya membuka pintu mobil dan melangkah ke luar. "Tenang Bara, tarik napas. Ingat, malam ini kamu cuma akting. Demi karir kamu. Jangan berpikir macam-macam," ucapnya sambil menarik dan membuang napas berulang kali. Nisya yang mendengar deru roda empat memasuki halaman rumahnya, bergegas keluar. Sebelumnya ia sempatkan melihat dirinya di cermin yang sengaja ia pasang di ruang tamu--di dekat pintu masuk. Ia lalu memasang pose terbaiknya dan berdiri di depan pintu. Bibir yang melengkung ke atas pun telah mapan di wajahnya yang menawan. Namun, ia sedikit memicing saat si pengemudi tidak jua turun. Ia sampai menunggu sampai hitungan ke seratus. “Ha-i Nis, u-dah siap?” “Sudah sejak tadi, Mas.” Nisya mengulum senyum saat Bara turun dari mobil dengan wajah memerah. Pandangan lelaki itu pun terus menghindari wajah Nisya. “Ya, udah yuk, berangkat.” Bara berjalan mendahului Nisya lalu memutar ke kiri, ke kursi penumpang. Setelah Nisya masuk, ia menutup pintu lalu bergegas ke kursi pengemudi. Selama perjalanan, jantung Bara semakin berdentum. Untung saja ia memutar lagu Grenade milik penyanyi Bruno Mars, sehingga perhatian Nisya teralihkan. “Mas, nanti aku harus gimana?” tanya Nisya berusaha memecah kebisuan. Ia sebenarnya tak perlu bertanya, karena sudah memiliki rencana. Ia pun sepenuhnya sadar jika Bara sudah terperangkap pada pesonanya. “Ya, ber-sikap seperti biasa saja,” jawab Bara seraya melirik Nisya, tapi dengan cepat ia kembali melihat ke depan. Nisya lagi-lagi mengulum senyum. Ia lalu meletakkan jemarinya di atas telapak tangan kiri Bara yang sedang menggenggam tongkat persneling. Sontak, Bara menekan pedal rem dan segera menepis tangan Nisya. Wanita itu kemudian tertawa. “Mas, kenapa mukamu pucat kayak habis ketemu setan gitu, sih? Aku, kan, cuma lagi latihan gimana cara memegang tangan suami yang benar. Maklum, sudah lupa.” “Kamu bikin aku kaget, Nis. Jangan begitu, kita lagi di jalan.’’ “Baik, Sayang,”kata Nisya lagi hingga Bara melebarkan mata. Aula utama PT. Arung Bahtera telah dihias sedemikian rupa. Ruangan berukuran 100 meter persegi itu sudah didekorasi dengan aneka pita yang menempel di plafon, berbagai bunga segar dalam pot besar yang berjajar di keempat sisi ruangan, dan meja panjang yang di atasnya sudah tersedia aneka makanan lezat penggugah selera. Di tengah ruangan juga terdapat dua meja makan bulat dengan empat kursi yang melingkarinya. Meja VIP yang khusus diperuntukkan bagi para direktur dan keluarganya. Bara memarkirkan mobil tepat di depan pintu masuk. Setelah turun dari mobil, ia bergegas ke kursi penumpang dan membukakan pintu untuk Nisya. Nisya bergegas membuka sabuk pengamannnya lalu menarik napas dalam. "Show time. Tunjukkan pesonamu yang sebenarnya." Di tengah puluhan mata yang memandang, Nisya menggamit lengan Bara dan menempel ke tubuh lelaki itu. Sambil berjalan ia memasang senyuman yang paling hangat. Sedangkan Bara mencoba bersikap tenang, meski detak jantungnya semakin menggila. Terlebih aroma vanilla yang menguar dari tubuh Nisya membuat darahnya mengalir deras. Di rumahnya, Lana yang sedang menonton televisi sambil menggulir ponsel melihat status terbaru Nisya. Di sana tampak foto lengan seorang wanita yang sedang menggandeng seorang pria yang tidak tampak wajahnya. Di bawahnya tertulis, usaha terakhirku, semoga lancar. “Wah, Nisya udah punya pacar. Semoga jodoh, deh. Tapi kenapa dia nggak bilang sama gue, sih?" Lana terus berucap sambil memasukkan seraup kripik kentang ke mulut. Bara cenderung diam saat Nisya terus menyapa ramah semua koleganya. Ia malah berusaha mencuri pandang ke Nisya yang berdiri di sebelahnya. Wanita itu tampak sangat luwes dan menikmati perannya sebagai istri seorang kepala divisi. Diam-diam, hati Bara mulai terusik. Kepalanya pun dijejali aneka bisikan. "Nisya lebih pantas mendampingimu dibanding Lana." Tepat pukul 12 malam, pesta selesai. Setelah mengantar Farid dan istri ke pintu keluar, Bara dan Nisya pun bergegas pulang. Di mobil, Nisya terus tersenyum puas. Rencananya semulus jalan tol. Ia lalu melirik ke arah Bara yang sedang menyetir. “Mas, gimana kalau malam ini menginap saja di tempatku? Sudah larut malam. Kasihan Lana kalau kamu bangunkan.” Bara yang sudah kelelahan sontak mengangguk. *** Mentari sudah muncul malu-malu kala Bara memicing. Dengan matanya yang masih berat ia meraba sisi kanannya. Namun, ia mendadak sadar jika saat itu ia tidak berada di ranjangnya. Bahkan, tubuhnya seperti tersengat listrik kala melihat Nisya menatapnya sambil tersenyum. Wanita beraroma vanila itu sudah tampil cantik seraya duduk di sisi sofa ruang tamu--tempat Bara terlelap semalam. "Kamu kenapa nggak bangunin aku?" ucap Bara sambil menegakkan punggungnya. "Enggak tega, Mas. Kelihatannya kamu capek banget." Bara lalu bangkit menuju wastafel yang ada di ruang makan. Setelah membasuh wajahnya, ia kemudian menuju ke luar. Namun, langkahnya terhenti kala lengan langsing nan putih bersih tiba-tiba melingkari pinggangnya. "Mas, sarapan dulu, ya. Aku sudah siapkan." Sontak, Bara membelalak. Dadanya pun kembali memanas. "A-ku sarapan di rumah aja, Nis. Lana pasti sudah menunggu dan khawatir karena semalam aku tidak pulang," ucap Bara sambil berusaha melepaskan tangan Nisya. Namun, pelukan wanita itu malah semakin kuat. "Mas, ayolah. Jangan menolak tawaranku. Cuma sarapan aja. Belum tentu kan, di rumah Lana sudah memasak." Lagi-lagi, Bara tak kuasa menolak. Bagai kerbau dicucuk hidung, dia mengikuti langkah Nisya ke meja makan. Dengan wajah datar, ia menerima sajian yang Nisya sodorkan. Namun, nasi goreng seafood di depannya tak membuatnya berselera. Meskipun begitu, Bara tetap mengosongkan isi piringnya dengan cepat. Ia hanya ingin bersikap sopan pada Nisya yang ia anggap sudah membantunya semalam. "Makasi, Nis. Aku pulang, ya," ucap Bara setelah menandaskan segelas air mineral. Tak lama setelahnya ia bangkit dan bergegas ke luar. Namun, sekali lagi Nisya melingkarkan tangannya di pinggang Bara. "Mas, jangan pergi. Aku mohon." Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN