Suara motor butut berhenti tepat di depan rumah Maya, “Makasih mang nih..” ia memberikan ongkos ojek.
Ojol itu terkejut, “Loh.. kok 15.000? kurang dong neng..?”
“Hah..? kan deket aja mang masa iya gw harus bayar full..”
Perdebatan mereka terus berlanjut hingga akhirnya nenek dan Brian keluar rumah. Brian mengambil selembar uang 50.000 dan memberikannya pada ojol itu, “Ambil aja kembaliannya..”
“Makasih mas..”
***
Di dalam rumah Maya sedang di sidang, “Nenek sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa supaya kamu jera.. kamu itu cucu nenek satu-satunya keluarga yang nenek punya.. kamu seperti ini mau jadi apa di masa depan hah..?” imbuh nenek dengan kesal sembari menjewer telinga Maya.
“Aaa... ampun nek.. ampun sakit.. aduduh..” Maya mengelus telinganya yang memerah.
“Cepat minta maaf sama dosen kamu..”
Maya memalingkan wajah, “Hm..! enggak.. Maya enggak salah nek.. yang salah itu dia..”
“Maaayaa.....!”
Maya berlari menuju kamarnya dan mengunci pintu, mati gw.. kenapa tuh dosen ada disini sih? Pasti dosen BK yang ngasih alamat rumah gw..
“Nak Brian maafkan cucu nenek ya.. nenek sendiri yang akan memberinya pelajaran..”
Brian mengangguk, “Baik nek.. sudah larut malam saya permisi dulu..”
***
Kampung tengah Brian berdemo sejak tadi, ia singgah sebentar di sebuah restauran yang tak jauh dari rumahnya, memesan makanan berat sembari menunggu hidangan datang tak jauh dari mejanya ia bertemu dengan mantan kekasihnya Nilam.
Brian hanya diam dan tak menyapanya sedikitpun, baginya masalalu ya hanya masalalu. Sementara itu Nilam yang bertatap mata dengannya melempar senyuman manis, ia ingin menyapa namun pelayan resto datang membawa pesanan Brian.
“Mas.. dibungkus saja, saya tidak jadi makan disini..”
“Baik...” tak lama kemudian, “Ini pesanannya..”
“Terimakasih, ini ambil saja kembaliannya..”
Pelayan itu mengangguk, “Terimakasih mas..”
***
Tintin...
Brian sudah sampai di pintu gerbang, segera mang Jojo membukakan gerbang, “Den...” menyapa dengan ramah yang hanya dibalas anggukan.
Mobil itu ia parkirkan ditempat biasa dan lekas masuk kedalam rumah untuk menyantap makan malam.
“Dari mana kamu..? kenapa baru pulang?” imbuh mamah Anita.
“Ada kegiatan mah, tumben belum tidur.. kenapa..?” jawabnya dengan santai.
“Kamu makan aja dulu, baru kita ngobrol sebentar..”
Brian mengangguk.
20 menit kemudian...
Barian menyusul mamah Anita diruang baca, “Mah...”
“Masuk..” mamah Anita memberinya selembar foto.
“Apa ini..?” Eh..?! ia terkejut saat melihat wanita yang ada di dalam foto tersebut.
“Papah mau menjodohkan kamu dengan dia.. bagaimana menurutmu?”
“Tidak mah..” dengan tegas menolak.
“Kenapa..? kamu tahukan papah seperti apa orangnya? Dia akan tetap pada keputusannya..” imbuh mamah Anita sembari duduk disebelah putra sulungnya.
Brian berdecak kesal, s**l sekali hidupnya harus bertemu dengan wanita seperti itu.
“Mah.. wanita itu salah satu mahasiswi di kampus Brian mengajar.. Brian tidak menyukainya, dia sulit di tangani dan sifatnya yang buruk..” curhat dengan seorang ibu memang yang paling nyaman bisa rebahan dipangkuannya.
Mamah Anita mengelus lembut kepala Brian, “Kamu bicara sama papah besok pagi.. nanti mamah akan bantu kamu juga..”
“Oke...”
***
Pagi yang di janjikanpun tiba, keluarga Brian sudah berkumpul semua di meja makan.
“Pah.. selesai sarapan Brian mau bicara 4 mata..”
“Bicara apa..?”
Brian hanya diam tak menjawabnya, suasana di meja makan sedikit dingin. Selesai sarapan mamah Anita memberi kode kepada 2 anaknya Gita dan Minzy untuk segera masuk kekamar.
Gita dan Minzy mengangguk bersamaan.