Beberapa perawat lelaki langsung datang mengerubungiku. Memegang tubuh ini kuat-kuat. Mengunci tanganku dari belakang. Aku mencoba memberontak, tetapi tidak dengan segenap kemampuan. Sebab ini hanya sebuah akting. Terlalu capek jika harus mengeluarkan sekuat tenaga, sementara dalam hati aku ingin tertawa. Rupanya mereka tertipu dengan manipulasi yang kulakukan. Bermodal wajah merah padam serta geraman dan amukan, para perawat itu tergugah untuk mendekat. Tubuhku langsung diseret menuju sebuah ruangan, yang di sana sudah ada suster Selly yang bersiap dengan sebuah alat suntik di tangannya. Aku sedikit kaget ketika melihat suntikan itu. Sebenarnya apa yang bakal dilakukannya? Untuk apa ia harus membiusku, jika memberiku waktu untuk melengang bebas di luar? Aku masih tak mengerti. Ketika

