Kulihat wajah sopir lelaki itu dari kaca spion di atas dashboard. Ia turut melirik dan tersenyum. Kubalas senyumannya dengan tawa lega. “Terima kasih sudah membantuku,” ucapku yang langsung dibalasnya dengan acungan jempol. “So, where we going now?” Aku terdiam sesaat. Memikirkan bakal ke mana aku harus pergi. Tak mungkin aku pulang dan menemui keluarga. Mereka bakal kaget dan membawaku kembali ke rumah sakit itu tanpa peduli apa pun alasan yang kuberikan. Apalagi Papa. Uang yang diberikannya bisa-bisa diambil kembali jika tahu semuanya hanya demi ini. “Kita sudah hampir di pertigaan jalan. Aku harus belok ke arah mana?” tanyanya lagi yang membuatku kian gelagapan bingung. “Mm ... ke kanan,” jawabku asal saja. Setidaknya jalan ke kanan tidak menuju ke daerah sekitar rumah. Aku mem

