Aku melirik pergerakan Lucky dari ekor mata. Meski berpura-pura sibuk dengan ponsel. Di balik kacamata hitam yang diberikan Pak Revan. Aku terus awas pada ketiga kawan yang tampak curiga di sana. Lucky memang sebenar sahabat. Ia tak pernah lupa dengan menu favorit yang selalu kupesan tiap kali datang ke kafe-kafe langganan kami. Aku sadar jika salah. Harusnya tadi kuganti dengan menu lain agar tak sampai menimbulkan kecurigaan padanya. Tetapi, setelah sekian lama berada dalam kungkungan gedung yang membatasi segala gerakku, rasanya begitu rindu dengan hal-hal di luar sini yang biasa kulakukan untuk menyenangkan diri. “Eh, kabar Aldi gimana, ya?” Suara lantang Geisya membuat mataku kembali melirik mereka. Ada debar dalam d**a saat ia menyebut namaku. Kenapa ia tiba-tiba membahas tenta

