Hampir saja aku membalas chat itu. Ia pasti sedang tertawa lebar. Puas sebab tahu aku benar-benar kalah. Terjerat dalam jebakan. Siapa pun dia, aku yakin dia orang yang punya tujuan yang sama dengan Doni. Meski berpikir sekeras mungkin, tak gambaran apa pun tentang siapa wanita yang mengerjaiku ini. Namun, saat otak mulai menyerah bibirku tak sengaja berucap. “Rania?” Nama itu meluncur begitu saja pada mulut ini. Apa benar dia Rania? Gadis binal yang kutemui bersama Doni kala itu. Bisa jadi! Apalagi, keduanya tampak akrab dan tahu tentang kehidupan masing-masing. Aku tak boleh bertindak gegabah. Ia pasti telah matang dan mempersiapkan semua ini jauh sebelumnya. Ia tampak paham betul dengan kehidupan dan lingkunganku. Aku tidak menyimpan nomornya. Tidak juga men-setting sosmedku dengan

