Suster Selly menyunggingkan senyum. Kubalas senyumnya dengan lirikan nakal. Ia terkikik sembari terus menjalankan tugasnya memenuhi gelas-gelas kosong di hadapan para pasien. Kami bak dua orang pembohong yang bersandiwara di balik topeng kepalsuan. Aku mencoba untuk percaya pada suster itu, meski tentu saja tak bisa sepenuhnya. Sebab aku belum mengenal betul siapa dirinya. Apa ia benar bisa diunggulkan? Yang aku pikirkan hanyalah bersikap sebaik mungkin, memberi tanda normal dan positif, agar dokter dan tenaga medis di sini tahu jika aku tak seperti mereka-mereka yang kini berada di samping dan depan mejaku. Aku benar-benar tak habis pikir, seorang pemuda dengan segala kesempurnaan hidup sepertiku, bisa-bisanya terkungkung di sini bersama orang-orang yang hampir tak bisa diajak komunik

