“Ya ....” Ia mencoba tersenyum dalam getir, menatapku iba. Menggerakkan tubuhnya kembali padaku. Tak jadi membuka kenop pintu. Ia mengusap pipi yang telah basah dengan kedua telapak tangan, mengerjapkan mata. Lantas, kembali mendekat. Kuangkat tubuh duduk tegak, menatapnya dengan sungguh-sungguh. Ia menjatuhkan tubuh pada pojok ranjang yang kutempati. Kuberikan tatapan sayu pada Papa, agar ia sedikit punya rasa belas padaku. “Aldi minta satu hal, tolong jangan menolak. Akan kujalani semua rangkaian proses ini tanpa membantah, asal Papa memberi yang kuinginkan.” Dahinya mengerut, “Apa?” Aku memajukan tubuh sedikit condong di hadapannya, lalu berucap. “I need my phone.” Ia tercengang sebentar. Lantas meneguk ludah kemudian melenguh, menurunkan bahunya yang sedari tadi tegang. “Ng

