“Silakan,” ucap dokter di hadapanku seraya merentangkan tangan pada kursi kosong di sebelah. Papa melirikku sesaat lalu duduk dan menatap dokter di hadapan kami dengan mimik serius. “Bagaimana, Dok?” tanyanya seperti ingin tahu hasil dari wawancara kami berdua. Dokter itu tersenyum lagi, lantas membuka beberapa lembar kertas di depannya dengan membolak-balik halaman. Seakan tengah menyimpulkan apa yang sudah kujawab beberapa menit lalu. “Mm ... semua tampak normal dan baik-baik saja. Tak ada hal serius yang bisa memastikan jika dia tertekan sesuatu.” Tak ada senyum yang terselip dari bibir Papa yang kulirik tepat di sampingku ini. “Benarkah? Apa perlu dilakukan tes penunjang lainnya?” Dokter berkacamata itu menatap kami bergantian. “Ada.” Ia mengangguk. Alisku bertaut semakin runcin

