Aku dipaksa keluar dari ruangan Bagus, masih dengan teriakan dan penolakan berontak yang terus saja membuatku kian terlihat benar seperti orang tak waras. Papa mengikuti kami dari belakang. Memastikan aku benar-benar dibawa oleh mereka. Puluhan pasang mata di sekitar rumah sakit menatapku dengan pandangan tak mengerti. Ada yang berbisik pada teman di sebelahnya, ada pula yang tampak takut, sebab aku terus meronta tak karuan. Tangan-tangan para petugas itu begitu lihai. Menarikku dengan sabar tetapi kuat pada cengkeraman. Seperti memang sudah sangat terlatih menghadapi manusia seperti aku. Sampai di depan halaman rumah sakit, sebuah mobil sudah dipersiapkan menanti kami. Pintu sudah dibuka sempurna, menunggu agar kami segera masuk. Aku menoleh ke belakang sebelum benar-benar masuk ke d

