“Kakiku ... kenapa dengan kakiku, Pa?!” Bagus berteriak kencang. Kian membuat kami serba salah. Apalagi Pak Darma. Ia memeluk erat anak semata wayang yang kini wajahnya memerah. Antara ingin menangis dan marah. “Kenapa Papa tak minta izin dulu padaku? Kenapa, Pa?” Matanya berkaca-kaca dalam dekapan tubuh Pak Darma. Lelaki paruh baya itu tak mengeluarkan suara sedikit pun. Hanya isak lirih yang ia tahan sembari terus memeluk erat anak yang meronta dalam dekapannya. Tenggorokannya bergetar, dengan tubuh yang turut gemetar, menahan tangis. Meski tentu saja, air matanya tak dapat dibendung. Luruh begitu saja mengiringi kesedihannya mendapati kondisi sang anak yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. “Tidak, Pa. Tidaakk!!” Keharuan memenuhi ruangan ini. Bahkan kulirik Lucky mengusap ujung

