Brian mendekati Olla dan dirinya mulai mendekati bibirnya Olla dan cup. Satu ciuman melekat di bibir Olla. Olla terdiam sesaat. Dirinya seperti masuk ke dalam lemari es yang dingin. Tubuhnya membeku. Bola mata Olla tertuju kepada Brian yang menyesap bibirnya dengan lembut. Olla perlahan mengikuti apa yang Brian lakukan. Dia tidak munafik dengan semua ini.
Olla meletakkan tangannya ke atas kepala Brian dan dirinya mulai menyesap bibir Brian. Keduanya saling menyesap satu sama lain.
"Kamu setuju kalau begitu," jawab Brian yang mengangkat Olla ke ranjang.
Olla yang diangkat hanya menundukkan kepalanya. Olla terbawa suasana dan dirinya segera mengaitkan kaki di pinggang Brian.
Perlahan tubuh Olla diletakkan di ranjang. Brian naik ke atas tubuh Olla dan melepaskan satu persatu pakaian Olla sampai polos. Kejadian malam itu terulang lagi. Brian mulai tidak bisa mengontrol dirinya ke Olla.
"Kita mulai. Kali ini kamu sadar karena tidak pengaruh dengan obat," jawab Brian.
Olla lagi-lagi mengikuti apa yang dikatakan oleh Brian. Olla pasrah karena dirinya sudah menjadi istri harus melayani suaminya. Terlepas Brian anggap dia istrinya atau tidak. Tapi, tetap Olla berharap Brian anggap dia istri karena jika tidak maka sudah dipastikan dia hanya dianggap wanita penghangat ranjang.
"Kita mulai." Brian mulai melakukan pemanasan ke Olla.
Seluruh tubuh Olla di kecup Brian. Brian memberikan rangsangan kecil untuk memanaskan tubuhnya Olla agar lebih b*******h lagi. Sentuhan kecil Brian membakar hasrat Olla.
Keduanya mulai melakukan hubungan layaknya suami istri. Brian perlahan memasukkan adik kecilnya ke inti Olla dan dirinya mulai bergerak dengan pelan. Pinggul dimainkan sesuai irama yang lembut dan harmonika mengiringi setiap gerakkan Brian hingga tercipta suara indah dari Olla. Yang menambah semangat Brian untuk melakukan penyatuan.
"Ehm, lakukan sekarang." suara Olla mulai bergema di seluruh ruangan kamar yang kedap suara.
"Sabar, aku sedang menikmati apa yang sedang aku lakukan," jawab Brian yang masih terus berpacu dengan irama yang dia ukir sendiri.
Keringat bercucuran, napas yang tersengal tidak membuat Brian berhenti. Brian terus mengikuti alunan dan gerakkan yang halus dari sebuah penyatuan yang sah dimata Tuhan.
Dengan kecepatan yang maksimal, Brian akhirnya mengeluarkan kehidupan yang akan menjadi pemenang di dalam kehidupan rumah tangga mereka.
"Akh," teriak kemenangan Brian karena bisa menuntaskan hasratnya yang dia tahan.
Napas keduanya naik turun, Brian dengan lembut mengusap sisa keringat Olla dan perlahan mengecup bibir Olla perlahan.
"Terima kasih, Olla," ucap Brian dengan suara lembut dan Olla menatap Brian yang perubahannya 360° Fahrenheit. Bukankah itu luar biasa.
Olla merasakan kalau Brian menganggapnya istri. Dari sentuhan lembut Brian dan juga bola mata Brian penuh keteduhan yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
Dengan perasaan takut dan waswas Olla memberanikan diri untuk menyentuh Brian. Pipi yang kokoh, hidung yang mancung membuat Olla ingin sekali menyentuhnya.
"Kamu menyukaiku?" tanya Brian dengan percaya dirinya mengatakan kalau dirinya menyukai Brian.
Olla melotot dan terdiam sesaat mendengar pertanyaan Brian. Tangan yang sudah melekat di pipi Brian terhenti di sana dan keduanya saling menatap tanpa ada yang memutuskan untuk berpaling.
"Menyukaimu?" tanya Olla dengan hati-hati.
Brian terdiam dan segera bangun dari tubuh Olla. Tanpa sepatah kata pun.
Olla terpaku tangannya menggantung di angin tanpa ada pegangannya. Dia bingung apakah dia salah bicara? Padahal, dia hanya bertanya seperti itu. Tapi, sikap dingin Brian kembali berubah. Sorot mata yang dia lihat tadi tidak lagi bisa dia lihat di sana.
"Apa aku salah?" tanya Olla pelan tapi masih didengar oleh Brian.
Namun, Brian tidak menjawab dia masuk ke dalam kamar mandi dan segera mandi. Sedangkan Olla hanya berbaring dengan tubuh polosnya menatap pria yang baru saja merangkai percintaan mereka dengan indah.
Olla mulai sedih dia merasa kalau dia hanyalah penghangat ranjang Brian. Ternyata, dia dijadikan wanita malam yang setelah puas ditinggalkan dengan sejumlah uang sedangkan dia tidak.
"Jika itu yang kamu pikirkan akan aku terima, tuan," ucap Olla dengan suara lirih dan air mata yang dia tahan dipelupuk matanya jatuh di sudut matanya.
Olla bangun perlahan dan memakai pakaian. Tidak lupa Olla mengganti seprei agar rapi dan tidak ada bekas percintaan. Setelah itu, Olla keluar dan duduk balkon menatap malam.
"Ternyata permainan tadi sudah membuat langit gelap dan sepertinya akan turun hujan. Hujan pertama di mana aku sudah menjadi istri seorang pria bernama Brian Wilson. Tuhan, berikan aku kekuatan untuk melangkah jangan berikan aku kerikil nantinya karena aku tidak mau terluka cukup luka masa lalu saja," jawab Olla dengan berurai air mata.
Olla trauma dengan luka masa lalu saat dirinya ditinggalkan ibunya. Ayahnya datang bersama wanita hamil dan mengakui ke ibunya kalau dia menghamili wanita lain dan bukan hanya itu saja ada seorang anak perempuan juga ikut bersamanya yang usianya diatas dirinya.
Wanita yang dibawa ayahnya ternyata sudah dinikahi oleh ayahnya tanpa ibunya ketahui. Alasan ayahnya simpel, karena ibunya sakit-sakitan dan yang membuat ibunya makin terluka tidak ada cinta selama hidup berumah tangga. Bukankah itu hal yang menyakitkan.
Sejak badai rumah tangga itu terjadi, cobaan demi cobaan dia dan ibunya rasakan. Yang awalnya dirinya bahagia kini hancur dengan satu kata tidak ada cinta kalau pun ada cinta itu terpaksa. Dan yang lebih menyakitkan dirinya dituduh membunuh calon anak dari wanita itu. Padahal, dia tidak hamil tapi berpura-pura hamil. Ibunya meninggal karena membela dirinya dan kini ayahnya yang ikut meninggal karena didorong oleh ibu tirinya akhirnya meninggal karena sakit struk dan tidak diobati.
"Karma itu ada ternyata. Luka yang digoreskan sedikit oleh mereka akan diganti luka yang lebih dalam lagi," ucap Olla menghapus air matanya.
Tanpa Olla ketahui, dari balik pintu jendela menuju balkon seseorang mendengar apa yang Olla katakan. Tapi, dia memilih diam dan berlalu begitu saja tanpa ada sedikitpun berkata-kata.
Brian, dialah yang berdiri di dekat pintu tersebut. Brian yang selesai mandi melihat ada pakaiannya di atas meja.
"Dia siapkan aku ini?" tanya Brian lagi.
Brian terdiam dengan apa yang Olla lakukan. "Apakah tadi aku terlalu kejam dengannya?" tanya Brian lagi.
Brian memakai pakaian yang Olla siapkan dan setelah itu keluar untuk mencari Olla. Akan tetapi, tidak ada. Angin berhembus dari luar dan terlihat ada yang duduk di balkon ternyata Olla dan saat di dekati Brian mendengar suara Olla mengatakan sesuatu. Di situ lah Brian terpaku dab tidak menganggu dan memilih pergi.
Cukup lama Olla berada di tempat tersebut. Olla memilih masuk dan saat dirinya masuk ke kamar terlihat Brian duduk dengan memegang tablet androidnya.
"Mandi dan setelah itu kita turun makan, cepatlah," ucap Brian ke Olla tanpa sedikitpun melihat Olla yang berdiri di depan pintu keluar menuju Balkon.
Olla mengangguk dan pergi dari hadapan Brian. Brian melirik dari sudut matanya dan terlihat Olla berjalan ke kamar mandi.
"Hah, aku kenapa seperti ini. Kemarin aku cari dia tapi sekarang sudah ketemu kenapa bersikap seperti ini. Ada apa ini," gumam Brian mengusap dadanya yang entah kenapa sakit dengan sikapnya ke Olla.
Brian terus mengusap dadanya dan setelah sedikit tenang dan menunggu Olla cukup lama, Brian mendapatkan telpon yang tidak ada namanya dan di saat Brian menjawab Olla sudah selesai mandi melihat Brian menerima telpon dan dirinya berdiri tanpa mengeluarkan suara.
"Halo, siapa in?" tanya Brian dengan datar.
"Lupa dengan aku?" tanya si penelpon yang membuat Brian terdiam.
Sudah lama dia tidak mendengar suara ini. Dan Brian tanpa diminta senyum mulai tersenyum untuk pertama kalinya dilihat Olla dan senyum Brian sangat manis dan entah kenapa Olla mulai jatuh cinta untuk pertama kalinya dengan Brian hanya karena senyuman yang Brian perlihatkan.
Seolah-olah senyum itu untuk dirinya padahal senyum itu untuk si penelpon dan entah siapa yang bisa membuat Brian tersenyum seperti itu.
"Alangkah baiknya senyuman itu untukku. Tapi, sayangnya senyum itu bukan untukku." Olla terus menatap Brian yang tersenyum dan kadang tertawa kecil dan itu renyah sekali.
Olla keluar dari kamar tanpa menoleh ke Brian. Olla tidak mau menganggu Brian yang mungkin ingin bicara serius dengannya. Saat pintu terbuka, satu kata membuat Olla terdiam dan hatinya yang tadinya mulai mencintai Brian kini hancur dengan kata-kata dari Brian.
"Pasti aku akan menikahimu. Apa kamu tidak percaya padaku. Aku pria setia yang menepati janjiku. Wanita lain tidak bisa merebut hatiku," ucap Brian tanpa rasa bersalah.
Tangan Olla yang memegang handel pintu bergetar. Dirinya tidak menyangka kalau Brian berkata seperti itu. Dan di dalam pikirannya Olla sudah melabeli dirinya kalau dia hanya wanita malam penghangat ranjang sang Billionaire.
Olla melangkahkan kakinya dan berjalan perlahan keluar dan menutup pintu samar-samar Olla kembali mendengar perkataan Brian yang makin membuat hatinya sakit hingga tanpa terasa air matanya kembali jatuh.
"Kenapa Olla? Kamu terluka dengan kata dia? Kamu bodoh untuk jatuh cinta dengan dia. Dia tidak pantas denganmu. Lebih baik kamu pergi, dia hanya jadikan kamu wanita yang menuntaskan hasrat gairahkan. Dia lelaki yang tidak menghargai kamu buat apa kamu bertahan demi menjauh dari kakak tiri dan ibu tirimu. Lebih baik pergi, harga diri lebih baik dari apapun."
Suara hati Olla mulai memperngaruhi dia untuk pergi. Daripada mencintai pria yang hanya menikahi dirinya dengan tujuan penghangat ranjang saja. Lebih baik, hidup sendiri tanpa harus melihat luka yang akan membuat dirinya trauma.
"Olla, kamu kenapa?" tanya seseorang yang menyentuh pundak Olla hingga membuat Olla terkejut dan buru-buru menghapus air matanya perlahan agar tidak ada yang tahu jika kini hatinya terluka karena pria yang di dalam kamarnya itu.
Olla berbalik dan mulai tersenyum lembut ke arah orang yang menegurnya.