bc

THE TASTE OF ORANGE

book_age18+
499
IKUTI
2.1K
BACA
dark
badboy
drama
sweet
bxg
coming of age
friendship
self discover
friends with benefits
stubborn
like
intro-logo
Uraian

Harapan itu seperti hembusan angin yang terasa namun tidak dapat dilihat apalagi di sentuh. Sama halnya dengan keinginan orang tua pada sang anak yang tak kasat mata seperti hembusan angin.

Jims Park, anak dari pasangan Park Jee Min dan juga Nora Clark yang bersih keras untuk mematahkan stereotype mengenai "buah jatuh tak jauh dari pohonnya". Hidupnya 180 derajat berbeda dari gaya hidup kedua orang tuanya. Ditengah pergaulan bebas yang ia nikmati jauh dari orang tuanya, seorang perempuan datang dan melelehkan kebekuan hati seorang Jims Park yang terkenal bengis.

Sifat pahlawan yang terkubur dalam-dalam dari diri seorang Jims Park tiba-tiba membobol pertahanan saat Lee Soo Young membutuhkannya. Wanita yang menjadi target bully di Kampus ini membuka pintu baru bagi Jims Park untuk mengecap segala rasa yang awalnya tidak pernah ada dalam hatinya.

Bisakah Jims Park dan Lee Soo Young menemukan kemanisan dalam bulir-bulir buah jeruk yang jatuh dari pohon bukan pada saat musim panen?

chap-preview
Pratinjau gratis
CHAPTER I - KESIALAN ITU MEMANG ADA
Rasanya begitu dingin dibawah langit yang cukup gelap. Matahari seakan muak untuk muncul agar bisa menyinari musim dingin yang membekukan setiap jalan, atap rumah, pohon dan apapun itu.   Jims Park memantikkan ujung rokoknya dan menikmati rasa dingin. Wajah tampannya lumayan pucat tapi itu tidak merusak ketampanannya. Namun sayang, tatapannya begitu menakutkan.   Kepulan asap ia semburkan pada dua perempuan yang menatapnya dengan tatapan terpesona. Kedua perempuan itu batuk karena terkejut.   “jaga matamu bodoh,” Jims tidak suka diperhatikan, jika ia bisa menukar wajahnya yang sangat mirip dengan ayahnya, Park Jee Min, ia memilih untuk menukarnya dan hidup dengan tenang tanpa perempuan-perempuan menyebalkan di sekelilingnya.   Lelaki berambut jingga itu akhirnya sampai dan segera membuka jaket kulit milik Jeon Jeonguk, sahabatnya, yang kebesaran ditubuhnya.   “ck, kemana sih manusia bodoh ini,” Jims mencari kedua sahabatnya di ruang tamu, maupun halaman belakang tapi tidak ada. Ia pun meletakkan beer dan camilan yang sudah ia beli. Katanya mau mabuk sampai mampus tapi kedua kurcaci itu malah kabur. Pasti karena perempuan, tidak ada yang bisa membuat keduanya pergi dari sisi Jims selain perempuan cantik.   Berbeda dengan kedua temannya yang mata keranjang. Jims justru muak dengan perempuan-perempuan itu. Terdengar suara berisik di kamar mandi lantai atas saat Jims ingin tidur di kamar Taera saat ia buka ternyata kedua temannya dengan wajah bodoh mereka sedang bermain air dan jadilah Jims ditarik dan ditenggelamkan kedalam bath ub.   Jika sudah begini Jims hanya bisa pasrah dan berujung dengan tertawa. Jeon Jeonguk dan Kim Taera memang hanya tahu soal senang-senang, mau tidak mau, suka atau tidak suka, Jims tetap mengikuti tingkah konyol kedua temannya.   Ketiganya sudah basah kuyup, Jeonguk basah-basah mengambil beer dan menyetel musik kencang-kencang didalam kamar mandi yang memang cukup besar. Tidak perlu khawatir, rumah Kim Taera adalah rumah ternyaman sepanjang masa. Lebih pantas disebut istana karena apapun yang ia inginkan ada. Jangankan kolam renang, ruang game dengan playstation terbaru, komputer tercanggih pun ada.   Pesta besar sering mereka adakan di rumah ini. Itu mengapa ketiganya terkenal di Lordest. Kota ini memiliki kehidupan remaja yang sangat terbuka.   Setelah puas bermain, mereka semua berganti baju sesuka hati dikamar khusus pakaian lalu melanjutkan acara minum dan menonton pertandingan basket malam ini.   JeonGuk mengeluarkan kaleng-kaleng beer yang tersisa dari kantung plastik sedangkan Taera sedang sibuk dengan jagung buatannya di dapur. Sebenarnya ada banyak sekali minuman mahal tapi Jims menyukai beer-beer kaleng jadi dia membelinya sendiri tadi.   Pertandingan basket adalah hiburan terhebat. JeonGuk mengeluarkan sebuah gelas favoritnya yang sudah terisi nama-nama perempuan beserta nomor telfon yang sudah ia koleksi.   "NO NO NO!!! You have to stop this s**t man!" ribut Jims.   “Kapan kau akan melepas perjakamu Jims?” sebuah tonjokan diperut membuat Taera tak berhenti tertawa jika sudah menggoda Jims yang bahkan belum pernah ciuman.   JeonGuk merangkulkan tangannya pada pundak Jims, mereka berbeda satu tahun dan JeonGuk benar-benar seperti bayi padanya walau penampilannya jelas tidak, Jeonguk memiliki banyak tindikan beserta tattoo, "Hyeong kalau kau menang, aku yang akan mengambil alih, tenang saja!", rengeknya.   Taera meraup popcorn dan memasukkannya kedalam mulut Jeonguk.   "Biarkan Jims mencicipinya sendiri! Adiknya harus bermain didalam lubang kenikmatan sekali dalam seumur hidup," Taera tidak berhenti dengan mudah.   "Kau bosan hidup ya Tae?”   JeonGuk dan Taera tertawa saat melihat wajah Jims betulan marah, "Asal kau menang dan kartumu menjadi tanggungannya,” kata Taera menaikkan sebelah alisnya.   Taera dan JeonGuk mengeluarkan kartu milik mereka lalu mau tidak mau, Jims juga.   "Terserah!"   Pertandingan begitu seru. Mereka kerap kali berdebat, berkomentar sengit dan berteriak. Jika ada yang kena block dengan mulus, mereka akan saling mengejek. JeonGuk dan Taera selalu bertengkar seakan dunia miliknya berdua saja. Jims mulai mumet, ia pun keluar. Pergi ke balkon rumah.   Jims menyulut api pada ujung batang rokoknya, entah sudah berapa batang yang ia bakar. Tiba-tiba ada yang melemparkan jaket. Taera menatapnya tajam, "pakai b******k! rokokmu tidak membuatmu menjadi hell boy."   "huh bawel," gerutu Jims dan Taera pun kembali masuk. Ia menaruh rokoknya ditepi dinding namun tak sengaja ia menyenggol rokok itu dan terjatuh saat sedang menyampirkan jaketnya... "aishhh", kata Jims kesal karena rokoknya itu masih baru namun seseorang berteriak dari bawah.   Jims langsung melongok dan ia mendapati sepasang mata menatapnya dengan marah sembari memegangi kening. Jims terkejut, tanpa ragu ia turun dari balkon lantai dua itu seperti ia adalah maling handal yang dengan mudah memanjat tembok.   Setelah menghadap pada perempuan yang menatapnya dengan bingung karena Jims langsung lompat, Jims langsung menarik tangan perempuan yang memegangi keningnya itu. Jims mengatupkan bibirnya saat melihat luka bakar pada kening perempuan itu yang berada persis di antara kedua alisnya. Seketika Jims tertawa karena merasa luka itu malah lucu.   Dengan mengejutkan perempuan itu memukul pundak Jims dengan keras dan cukup sakit. Persis seperti pukulan Taera ketika Jims mengganggunya saat sedang menelfon kekasihnya dengan menyebutkan nama perempuan lain.   "kau gila ha? membuang rokok sembarangan, kau fikir udara dingin ini membuat rokokmu mati hanya dengan kau lempar", bicara perempuan itu sangat galak, tatapan matanya sangat lurus pada wajah Jims yang datar.   "diobati sajakan bisa," Jims memutar bola matanya dengan malas. Gerak-geriknya tak menunjukkan bahwa ia harus melakukan lebih pada wanita galak didepannya, ia sudah kena pukul.   "apa kau bilang? mudah sekali! wahhh memang benar, kalian semua gila ya! Kufikir sudah betul aku menjauhi kalian walau bekerja disini tapi ternyata sama saja."   Jims langsung tersita perhatiannya, "kalian? apa maksudmu?"   "Tanggung jawab atau ..."   Jims mengambil langkah mendekat ke perempuan dengan potongan rambut pendek itu, "atau apa ha? apa yang mau dilakukan perempuan sepertimu? Kau bekerja disini tapi kau melawanku, kau mau mati ya?"   Perempuan ini sama sekali tidak mundur saat Jims benar-benar sudah dekat dengannya sekarang, "Mati ditanganmu? Kau fikir, kau itu pencabut nyawa?"   Jims menghela nafasnya, ia langsung menyambar tangan perempuan ini dan menariknya masuk kedalam rumah, tentu tidak mudah karena perempuan ini berontak. Karena suaranya yang cukup kencang, Taera keluar dan cukup terkejut karena untuk pertama kalinya Jims membawa perempuan. Taera tidak pernah tahu siapapun yang bekerja dirumah ini. Taera merubah pandangannya dengan tatapan konyol.   Terlambat, Jims sudah tidak bisa menghindarinya saat si mulut ember—Taera – sudah mengaum. Tanpa pikir panjang lagi, Jims langsung menyeret perempuan itu agar cepat menyelesaikan urusan mereka.   "YAKKK KAU MAU MATI YAJSADNAUDHIEU,” si perempuan tetap saja berontak, ia dimasukkan ke dalam kamar majikannya. Bagaimana ia tidak takut.   Jims menutup mulut perempuan itu dan menyudutkannya dipintu, sepertinya perempuan itu terdorong lumayan keras walau satu tangan Jims ada dibelakang kepalanya dan yang satu lagi berada dimulutnya, karena perempuan itu terdiam. Untuk pertama kalinya ia bisa mencium aroma tubuh seseorang sebegini dekatnya.   "diam disini jika kau tidak ingin infeksi dan ini sudah malam jadi tidak mungkin pergi ke rumah sakit. Paham?" Tatapan mata mereka bertemu dan Jims tidak ingin penolakan lagi kali ini.   Jims mengunci pintu dibelakang perempuan itu dan menarik kuncinya sementara ia mencari kotak P3K yang memang ada disetiap ruangan di rumah ini.   Namun siapa yang tidak khawatir jika kau dikunci oleh teman dari majikanmu yang terkenal bengis di Kampus. Belum lagi luka bakar yang besok akan menjadi bahan hangat untuk membuatnya semakin diolok-olok. Pikiran wanita itu terlalu luas sekarang.   Jims duduk ditepi ranjang, ia menatap perempuan yang masih berdiri didepan pintu, "cepat bodoh nanti lukamu keburu infeksi!!"   Setelah perempuan itu duduk dengan gusar, Jims membersihkan pinggiran luka perempuan itu terlebih dahulu dan itu cukup membuat si perempuan melejit kesakitan.   Jims sudah biasa mengurus-ngurus luka karena ia, Jeonguk dan Taera hobi memacu adrenalin dengan melakukan taruhan basket jalanan. Tak jarang berakhir dengan pertengkaran dan mereka tidak suka ke rumah sakit kecuali jika salah satunya sudah hampir mati.   "apa kau tidak tahu ada kata maaf?"   Jims hendak membuka plester, ia menatap perempuan itu lagi, "kata maaf tidak bisa menyembuhkan lukamu bodoh!"   Perempuan itu menekuk alisnya, ia merebut plester dari tangan Jims dengan kasar dan berdiri menghampiri meja rias. Ia memasang sendiri plasternya. Lalu ia kembali menoleh pada Jims.   "memang tidak bisa tapi setidaknya itu yang membedakanmu dari hewan!"   Jims menyunggingkan senyumnya dan memiringkan kepalanya sembari menatap perempuan, "Jika aku hewan, maka aku tidak akan peduli denganmu dan sudah menggigitmu padahal kau hanya pembantu dirumah ini!"   Perempuan itu memutar matanya dengan jengah lalu ia mendekat kepintu, "buka!". Jims pun menurutinya dan mereka berdua cukup terkejut melihat dua lelaki yang salah tingkah berada didepan pintu. Perempuan itu menerobos keluar, ia bahkan mendorong JeonGuk yang badannya jauh lebih besar darinya. Jims hanya menggedikkan bahunya saat ia diberondong banyak pertanyaan.   Perempuan aneh.   _______________________________________________   Rasa makan siang di sekolah ini sebenarnya sangat lezat dibandingkan makanan diasrama yang selalu berbahan dasar dari makanan yang tak segar. Namun sekeliling Lee Soo Young tak membuat indera perasanya bekerja dengan baik. Sebelum ada luka dikening, hidupnya memang sudah sial. Ditambah dengan luka ini tentu membuat ia semakin terlihat konyol.   Memiliki kulit putih dan mata sipit sudah membuat Soo Young lelah. Soo Young seorang perempuan berdarah Korea. Ia tinggal di asrama panti sosial karena kedua orang tuanya hanyalah pekerja buruh di Lordest. Tidak bisa kembali ke Korea Selatan yang merupakan negara asal kedua orang tuanya. Mereka butuh dana besar untuk membuat dokumen dan pulang. Belum lagi hutang yang melibat kedua orang tuanya.   Hal yang bisa Soo Young syukuri adalah mendapat beasiswa penuh di kampus ini. Soo Young memang terlihat tomboy dan tak peduli dengan penampilan tapi otaknya adalah favorit para dosen disini. Namun apapun yang ia lakukan, ia hanyalah perempuan Asia miskin yang tidak tahu diri bagi orang-orang seumurannya.   Di Lordest, tingkat diskriminatif masih begitu tinggi. Tidak jarang orang bisa melihat sekelompok anak muda sedang memalak di gang sempit. Itu hal yang sering terjadi pada Soo Young. Lee Soo Young masuk kedalam 10 persen anak tidak beruntung di Kota Lordest.   Sekarang, sudah berapa tissue dilempar dimejanya. Jijik? tidak, sudah biasa. Ia hanya melempar tissue itu kebawah dan lanjut makan. Setidaknya ia tidak boleh sakit karena sehabis sekolah Soo Young akan bekerja disebuah restaurant yang cukup ramai pengunjung.     Rasis didaerah ini bukan hal yang aneh. Soo Young tak ingin menyalahkan siapapun walau sesekali ia bertanya pada Tuhan, kapan ia bisa kembali ke Negaranya jika memang disana ia bisa merasa aman.   "Noona!".   Tiba-tiba seseorang duduk disampingnya, mengejutkan Soo Young saat melihat wajah famous ini didekatnya. Hal itu tentu membuat semua orang terkejut. Joo JeonGuk dengan riangnya tersenyum pada Soo Young.   Pria bergaya brandal tapi tampan itu membuat otak Soo Young bekerja dengan cepat.   "kau bicara denganku?", Soo Young menoleh kemana-mana dan JeonGuk tetap tersenyum menatapnya.   "sudah kuduga, kau pasti wanita yang unik", JeonGuk menopang dagunya. Soo Young tidak mengerti maksud lelaki ini.   "kau gila ya? kita tidak kenal."   JeonGuk menyolek dagu Soo Young, "kekasih Jims Hyeong akan menjadi kekasihku juga."   Mendengar namanya saja membuat Soo Young mendidih apalagi kata-kata JeonGuk dan sikap centilnya, Soo Young mengusap dagunya seakan tangan JeonGuk meninggalkan kuman, "aku bukan kekasih Jims-mu itu dan apa? aku juga akan menjadi kekasihmu, kau gila?"   JeonGuk tertawa, "buy one get one, bukankah itu asik?"   Soo Young berdiri, bisa-bisa ia kesurupan dan menusuk mata bulat JeonGuk dengan garpu jika ia melanjutkan pembicaraan bodoh ini. JeonGuk hanya tersenyum saat Soo Young menoleh, bahkan ia melambaikan tangannya pada Soo Young.   ______________________________________________   Tubuh Soo Young terbentur tembok. Darah segar mengalir diujung bibirnya. Ia tahu pasti ini yang ia dapatkan karena JeonGuk menghampirinya dikantin. Tanpa kedatangan JeonGuk saja sudah sering baginya diperlakukan tidak adil.   "bisa-bisanya perempuan miskin sepertimu berharap bisa berkencan dengan JeonGuk", ucap wanita berparas cantik tapi tidak dengan kelakuannya yang brutal.   Rambut Soo Young dijambak ke belakang lalu perempuan itu menampar Soo Young bolak balik. Setelah ia puas, Soo Young pun dilempar. Sekujur tubuhnya sakit. Soo Young terkapar ditanah. Ia berusaha bangun namun sulit. Walau beberapa kali ia diperlakukan begini, ia tak bisa kuat seperti mutan. Bahkan ia tetap tak bisa beristirahat hanya karena luka. Ia tetap harus bekerja.   Soo Young merambat ke arah tembok dan berusaha duduk lebih dulu. Ia mengambil handphonenya, hadiah dari ayahnya saat ia berumur 15 tahun. Memang handphone ini tak bisa dibandingkan dengan brand terbaru atau terlama ditahun ini tapi Soo Young tetap bisa memakai kameranya yang buram untuk mengecek bagaimana lebam pada wajahnya. Rasanya begitu sakit dan perih. Dengan terseok-seok Soo Young bangun dan pergi menuju restaurant tempatnya bekerja.   Ia berjalan sembari menunduk dan bergegas ke kamar mandi. Ia tidak ingin pemilik, yang bernama Jonathan Sander Lee, mengetahui bahwa karyawan sekaligus sahabatnya ini terluka lagi.   Jonathan atau biasa dipanggil John itu memang orang baik yang selalu menganggap Soo Young adalah sahabatnya. Namun Soo Young tidak merasa pantas bisa menyandang sebagai sahabat jadi bagaimanapun Soo Young tetap memperlakukan John sebagai bosnya. Wanita berambut pendek ini tidak percaya masih ada "orang baik" di kota Lordest.   Cermin toilet menampilkan wajah Soo Young yang babak belur. Luka-luka ini bukan hanya lagi karena dirinya yang dibully tapi juga karena para lelaki menyebalkan yang entah mengapa tiba-tiba masuk kedalam hidupnya. Salahnya karena mengambil pekerjaan membersihkan kolam rumah mereka semalam, taunya malah ini yang dia dapatkan.   Soo Young menatap dirinya lekat-lekat dan memberitahu bahwa dirinya dan kedua lelaki itu berbeda walau mereka terlihat sama-sama seperti orang Asia. Bukan lagi karena ras tapi ini juga menyangkut denga harta. Mereka memiliki segalanya tapi Soo Young tidak punya apapun. Soo Young tidak mau berhadapan dengan mereka atau siapapun itu.   Setelah hari itu, Soo Young berlagak seperti mencuri sesuatu jika melihat JeonGuk. Entah kenapa setelah kemarin, anak lelaki itu sangat terobsesi dengannya. Padahal Jims saja seperti tidak melihat bahwa ada Soo Young di matanya.   Jika berpapasan dengan JeonGuk, Soo Young akan bersembunyi. Seperti saat ini, ia sedang berjongkok dibalik pot besar.   "Boo!"   Soo Young terlonjak, JeonGuk menemukannya.   "got you babe!"   Soo Young langsung memberikan kelima tangannya diwajah JeonGuk. Posisi ini sungguh aneh, JeonGuk berdiri sembari menunduk sedangkan Soo Young berjongkok dan meraup wajah JeonGuk dengan tangannya.   "kau akan membunuhku, kumohon. aku bukan kekasih Hyeongmu, tolong percayalah bodoh!!!"   JeonGuk menyingkirkan tangan Soo Young, ia pun ikut berjongkok.   "kalau begitu jadi pacarku saja. Mau?"   "Gukkie!!! jangan main-main terus", seseorang berteriak dan itu adalah Jims. Soo Young menatap Jims seperti meminta petolongan.   JeonGuk tersenyum lalu ia terlihat menatap Soo Young dengan aneh.   "kenapa banyak lebam diwajahmu?" JeonGuk menarik lengan Soo Young, dengan cepat menarik jaket Soo Young dan benar dibalik jaket tebalnya, banyak lebam.   "Gukkie!!!", Jims memanggil lagi tapi ia terlihat tak ingin menghampiri keduanya.   Soo Young berusaha menarik dirinya namun JeonGuk langsung menarik lengannya. Membuat dirinya terseok-seok mengikutinya. Jims terlihat terkejut dan ia pun menuruti kemana temannya membawa si perempuan galak itu. Jims tentu masih ingat perempuan yang JeonGuk sedang tuntun secara paksa. Pembantu rumah Taera.   ___________________________________________________ To Be Continued

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Kali kedua

read
222.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
237.3K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
21.8K
bc

TERNODA

read
203.9K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
195.7K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.4K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
23.6K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook