Wanita itu menangis sampai kepalanya terasa pusing. Tempat tidurnya berantakan dengan beberapa pakaian yang belakangan baru dibelinya. Sekarang semua tidak ada gunanya. Benar kata mereka, perempuan yang dipungut dari tempat sampah tetap akan jadi sampah meski sudah tinggal di dalam rumah mewah sekalipun. Ia menyesal sekali sudah menutupi perasaannya yang muncul belakangan ini, ia menyesal karena selalu mengingkarinya. Ia mulai menyukai gadis itu dan diam-diam menyayanginya. Tapi tetap bersikap keras dan sinis di hadapannya selayaknya para mertua kebanyakan. “Aruna…..” wanita itu menggumamkan nama menantunya dalam bisikan. Ia memandangi layar ponselnya, beberapa pesan dari di masa lalu Aruna terbuka, ia berulang kali membacanya. Hanya itu kenangan baik yang mereka miliki, hanya itu bukti

