TIGA

1790 Kata
“Di rumah ini, semua kamar mengganti seprainya setiap hari. Kamu lakukan sendiri untuk kamarmu. Semua pekerja sedang sibuk dengan tugas mereka masing-masing.” Aruna tersenyum patuh dan mengiakan perintah mertuanya. Baru sehari ia jadi menantu di rumah ini dan Ibu Gyan tidak perlu merasa segan sama sekali. Aruna tahu dirinya tidak diinginkan. Tapi ia tidak pernah berpikir sejauh ini, ia tahu kehidupan pernikahannya akan berbeda namun drama dengan mertua? Oh ya ampun, itu terdengar mengerikan. Nyonya Tahir kemudian menatap punggung menantu perempuannya yang berlalu ke kamar, mengambil seprai dan sarung bantal juga selimut agar dibawa ke ruang cuci. Meski ia punya tukang cuci khusus tapi ia tidak akan membiarkan anak perempuan itu bersantai atau setidaknya bernapas di rumah ini. Aruna adalah jenis putri kerajaan, ia begitu teratur, sopan, berkelas dan anggun. Tipe yang terlihat sah-sah saja jika memiliki segalanya. Uang, keluarga harmonis, kecantikan, kehormatan dan harta yang luar biasa. Satu hal yang tidak akan didapatkan gadis itu, restu darinya dan kebahagiaan pernikahannya dengan Gyan. Tidak boleh ada manusia yang terlalu sempurna di dunia ini, meski mereka dengan mudah memilikinya. Harus ada keseimbangan yin dan yang, Ibu Gyan membantu Aruna agar hidupnya tidak terlalu sempurna agar semua berjalan seimbang. Setidaknya, itulah yang dipikirkan wanita itu. Tanpa sadar ia justru sedang membalas dendam, alih-alih merasa perlu menyeimbangkan hidup menantunya. Ia ingin membalas perlakuan mertuanya dulu terhadapnya. Tentu sebagai istri kedua hidupnya tidak mudah, apalagi ketika orang tua suaminya masih hidup dan berjaya. Ia menjalani kehidupan bak di neraka sebelum berhasil melahirkan Gyan ke dunia. “Aku akan membantu,” ujar Aruna pada seorang pekerja di dapur setelah ia memasukkan spreinya ke mesin cuci dan mencucinya. “Lakukan seperti ini,” kata pekerja itu memberi arahan tentang cara memotong bawang. Aruna menurutinya. Setelah mencuci Aruna juga harus membantu memasak, karena kata ibu mertuanya Gyan suka masakan yang dibuat di rumah. Aruna harus bisa memasaknya. Meski semua ini terasa begitu cepat, karena baru sehari setelah menikah Gyan harus kembali bekerja dan ia sudah harus menyesuaikan diri tinggal di rumah mertuanya dengan segala peraturan, toh Aruna bisa apa? Inilah konsekuensi atas pilihan yang ia ambil. Aruna sudah tahu jalannya pasti akan terjal dan tidak mudah. Ia harus bersama dan terikat dengan para orang asing ini, rasanya sangat tidak nyaman. “Ada kiriman untukmu di depan.” Tiba-tiba seorang gadis berambut pendek yang Aruna kenali sebagai kakak Gyan datang menghampirinya. Gadis itu tidak ramah sejak pertama kali ia datang, tapi tidak memperlakukannya dengan buruk juga. Aruna mengangguk dan memberinya seulas senyuman dan berlalu menuju ruang tamu. “Apa yang dilakukannya?” Nyonya Tahir tiba-tiba muncul setelah berusaha menguping. “Apa yang Ibu lakukan padanya? Menyuruh dia masak? Mencuci seprai? Kekanakan sekali.” Hara meyahuti dengan nada tidak suka. “Nenekmu dulu bertingkah lebih parah. Ck, sudahlah... ini untuk kebaikannya juga. Dia pasti belum belajar cara mengurus rumah dan memasak seumur hidupnya.” “Buat apa juga dia melakukan itu? Keluarganya memiliki lusinan pelayan.” “Berhentilah membantahku untuk membelanya! Dia memberi benefit apa untukmu? Dia justru sangat merugikan kita. Ngomong-ngomong apa kiriman yang ia dapat? Apa keluarganya mengirim hadiah?” Hara memutar mata, ibunya benar-benar matre sekali. “Koper pakaian, dia menikah dengan Gyan dan langsung ke sini tanpa membawa apa-apa, keluarganya mengirimkan barang pribadi saja.” Mayang Tahir tampak kecewa, anak perempuan dari keluarga kaya yang sama sekali tidak memberikan keuntungan apa-apa untuknya. Ia bahkan dibuang oleh keluarga besar Kamandayu sialan itu. Lihat saja, sampai detik ini tidak ada ramah tamah dan kunjungan apa-apa. Tidak ada hadiah atau apa, mereka malah mengirimkan koper putrinya tanpa memberitahu apa-apa, jelas sekali Aruna dibuang dengan cuma-cuma. Dan sekarang Gyan memungutnya, benar-benar menyebalkan. “Kita harus perlakukan sampah seperti sampah,” gumamnya geram. **** Ibu Gyan bohong, anak lelakinya tidak pernah makan di rumah. Pria itu langsung ke kamar ketika pulang bekerja, mengganti pakaian lalu berkutat dengan ponselnya berjam-jam. Aruna melakukan hal dengan sia-sia, ia hanya makan sendirian dan kemudian memuntahkan kembali makanannya. Semua orang lupa kalau dirinya tengah hamil muda, termasuk Aruna sendiri. “Kamu tidak apa-apa?” Aruna terhuyung sedikit ketika Gyan berada di pintu kamar mandi untuk melihat keadaannya. Gadis itu tersenyum dan mengangguk. “Kakakku bilang itu biasa terjadi pada perempuan hamil, apakah benar?” Aruna mengangguk. “Aku tidak apa-apa,” jawabnya pelan. Ia harus sering mengeluarkan suara karena jika tidak, ibu mertuanya akan berteriak dan memanggilnya si bisu, seperti tadi sore. “Kita istirahat saja,” ajak Gyan sambil menyibak selimut di tempat tidur, berharap Aruna terbantu karenanya. “Apa yang kamu lakukan seharian ini?” Ia kembali bertanya. “Aku hanya membantu beberapa pekerjaan pelayan.” “Apa itu?” Gyan mengernyit heran. “Memasak dan membersihkan ruangan, mencuci selimut dan seprai.” Terdengar aneh karena di rumah ini jumlah pelayan lebih dari cukup dan mereka memiliki tugasnya sendiri. Tenaga perempuan ringkih di sebelahnya ini tidak terlalu dibutuhkan tentu saja. “Kenapa kamu melakukannya?” Gyan sengaja bertanya, jangan-jangan gadis ini sedang diospek oleh ibunya, kan? “Aku bosan tidak melakukan apa-apa seharian.” Aruna menuju tempat tidur mereka, untung saja ukurannya super besar. Ia bisa menjaga jarak dari Gyan selebar mungkin ketika mereka tidur. Meski bukan kali pertama tidur bersama namun kali ini rasanya benar-benar canggung dan berbeda. Tidak ada waktu menyenangkan diantara keduanya. “Aku tidak mendapat cuti lebih meski baru saja menikah, maaf jika aku kembali ke kantor begitu cepat dan tidak bisa menemanimu di rumah. Kamu pasti merasa kurang nyaman.” “Aku tidak apa-apa,” sahut Aruna cepat. Ia memunggungi Gyan dan mematikan lampu di nakasnya. **** Gyan baru saja keluar dari kamar mandi dan tidak mendapati istrinya di tempat tidur. Ya, dia harus terbiasa dengan julukan istri itu, sekuat apa pun dirinya merasa canggung dan enggan menerima Aruna, gadis itu tetaplah istrinya. Ia segera bergegas ke ruang makan dan benar saja, Gyan mendapati Aruna sedang di sana bersama ibu dan beberapa pelayan yang menyiapkan meja makan untuk sarapan.  “Apa Bapak pulang ke sini?” tanya Gyan pada ibunya, hanya jika ayahnya pulang sang ibu mau repot mengurusi dapur dan ruang makan. Beberapa menu aneh untuk sarapan juga terhidang, maksudnya bukan menu yang setiap hari ada. Cenderung berlebihan. “Tidak, dia sedang tidak ingin bertemu dengan seseorang di sini.” Wanita itu menjawabnya ketus, sekaligus mengandung cibiran. Gyan melirik Aruna takut-takut jika istrinya itu merasa tersinggung oleh kalimat ibunya barusan. Namun yang terjadi adalah, gadis itu abai, dia sibuk sendiri dengan tumpukan piring dan deretan menu sarapan. Tidak terlihat mendengarkan sindiran barusan atau berusaha untuk peduli pada hal-hal di luar kesibukannya sekarang.  “Lalu kekacauan apa pagi ini?” lanjut Gyan. “Ibu menyuruh Aruna bangun pagi dan melakukan ini?” “Ya, kami sedang melatihnya jadi ibu rumah tangga yang baik.” Apa lagi ini? Gyan menggelengkan kepala sambil mengernyit. “Tidak perlu,” jawab Gyan buru-buru. “Dia tidak perlu melakukannya. Sungguh, Ibu sendiri tahu kan jenis hubungan yang kami miliki? Tidak perlu bersusah payah mendidiknya agar jadi istri yang baik untukku. Aku benar-benar tidak ingin melihat dia melakukan ini.” Mayang bangkit dari acara mengatur tatanan meja makan yang sebenarnya tidak diperlukan itu, lalu menatap Gyan langsung. “Kamu akan bercerai dengannya setelah melahirkan?” “Bu!” Dia hampir saja menghardik ibunya karena Aruna ada di sana—di tempat itu, ketika mereka berbincang sangat terang-terangan. Dan tepat seperti dugaan, gadis itu terpaku sambil memandang ke arahnya dengan sebuah gelas kosong di tangan, dan Gyan tidak mengerti sorot apa yang terpancar dari mata Aruna. Dia begitu lihai menjadi misterius dan bersembunyi di balik wajah pendiamnya.  “Yah yah… bisa ku tebak karena kamu bahkan tidak membawanya bulan madu barang sehari atau dua hari di hotel sebelum membawanya ke sarang penyamun ini. Aku cukup mengerti hubungan seperti apa yang kalian jalani.” “Itu tidak ada hubungannya,” tegas Gyan. “Semua asetku diblokir dan sedang dimurnikan, aku hanya sedang tidak punya anggaran lebih untuk itu. Aku seorang staf biasa sekarang.” Ibu kandung Gyan itu mengangguk-angguk dengan ekspresi acuh tak acuh. “Yah, tentu saja, kamu hanya staf biasa di perusahaan milik ayahmu sekarang, berkat seseorang.” Ibu Gyan melirik menantunya yang diam dengan wajah murung. “Ibu berhentilah.” Tebakan Gyan jelas sekali jika saat ini ibunya tengah menyatakan perang besar-besaran dengan Aruna. Gadis itu dibuat kelelahan, serba salah, disindir, disudutkan dan tidak nyaman oleh ibu mertuanya. Pasti Aruna merasa hidupnya bagai neraka belakangan ini dan Gyan tidak peka, karena istrinya memang bukan orang yang terbuka. “Aruna, ayo masuk kamar.” Gyan memutari meja makan dan menarik pelan tangan gadis itu hingga mengikutinya ke kamar. **** “Maafkan perkataanku tadi, perkataan ibuku. Aku sungguh-sungguh—” “Tidak apa-apa,” jelas Aruna pelan, memotong di tengah-tengah. Dia tidak semurung saat di ruang makan. Kali ini wajahnya lebih terlihat santai dan cerah. Dan diam-diam, Gyan mencuri helaan napas lega setelah mendapatinya.  “Aruna aku benar tidak tahu motivasinya apa.” Gyan membujuk gadis asing itu, entah untuk alasan apa. “Tapi aku akan lakukan sesuatu agar ibu tidak bersikap seenaknya kepadamu. Di depannya aku berusaha tidak kelihatan terlalu memihak, aku takut dia semakin marah padamu. Maafkan perkataanku tadi, ya.” Gyan memandang Aruna cukup lama, setidaknya wanita itu—Mayang Tahir, melahirkan anak lelaki begini baik ke dunia, Aruna bergumam dalam hatinya. Ia terpukau dengan sikap Gyan yang belakangan baru diketahuinya. Laki-laki itu memang diam, dia tidak banyak menuntut atau pun bertanya seperti yang Aruna perkirakan, tapi dia bisa sebaik dan selembut ini. Dia bahkan membela Aruna di depan ibunya.  “Aku tidak apa-apa,” jelas Aruna untuk kali kedua. “Jangan terlalu dipikirkan, aku baik-baik saja.” Gyan mengangguk pelan meski hatinya tetap tidak tenang, bahkan ia ragu pergi bekerja karena takut Aruna dikerjai lagi oleh ibunya. Namun Gyan juga bisa melihat jika perempuan di hadapannya itu berdiri kuat dan tampak bisa membentengi dirinya sendiri. Tidak mudah terpengaruh, sangat lurus dan rasional. Dia seolah paham jika diperlakukan buruk oleh mertuanya adalah hal yang biasa ia dapatkan. Dia memaklumi jika keberadaannya akan kurang disambut baik, Aruna mengerti betul posisinya dan sudah mempersiapkan hati untuk itu. Dia tidak selemah yang Gyan bayangkan. Tapi dia anak baik, bagaimana Gyan tega membiarkannya meski tahu dengan benar bahwa Aruna bisa mengatasi masalah itu sendiri? Bukankah, harusnya Gyan bertindak sebagai suami? Pelindungnya? “Permisi sebentar.” Sesaat kemudian Gyan bergegas ke kamar mandi, sedangkan Aruna menyibukkan diri dengan membereskan tempat tidur mereka, hal yang tidak pernah ia lakukan seumur hidupnya. Aruna cepat belajar, dia mulai melucuti seprai yang baru dipakai semalam dan akan menggantinya dengan yang baru. Kata mertuanya, seprai harus diganti setiap hari. Mungkin normalnya memang begitu, Aruna hanya tidak pernah tahu. “Runa,” panggil Gyan yang mana membuat Aruna menoleh ke arahnya. “Aku... boleh berangkat kerja?” Dia bertanya dan Aruna mengerutkan alis. “Aku akan segera urus izin, agar kita punya cuti dan menemani kamu adaptasi dulu di sini. Kenal lebih dekat sama keluarga ini.” Aruna mengangguk, ada lengkungan samar di bibirnya. Dan setelah itu, Gyan segera bersiap. Setelan kemeja bahan pas badan, celana kain hitam dan sebuah jam tangan melingkar di pergelangan. Dia terlihat menawan sambil menyampirkan ransel di bahu sebelah kanan. Yang herannya membuat Aruna berpikir akan satu hal. Pikirannya melayang pada obrolan di ruang makan tadi, apa maksudnya itu? Gyan hanya staf biasa di kantor ayahnya? Tapi bukankah dia seorang direktur manajer? Aruna dengan jelas melihat namanya terpampang di website dan majalah bisnis ternama sebagai Direktur Manajer Bank Gemarupa yang didirikan oleh Gema Tahir pada tahun 1990 dulu. Gyan Tahir—mereka menyebutnya, jelas-jelas tercatat sebagai pewaris sah dan satu-satunya putra pengusaha kaya raya tersebut. Bahkan Majalah Forbess menobatkan mereka pada urutan ke-5 sebagai orang terkaya di Indonesia dengan harta mencapai $5,9 (lima koma sembilan dollar AS). Apakah jabatannya diturunkan karena seseorang? Apakah seseorang itu adalah dirinya? Aruna bertanya-tanya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN