EMPAT

688 Kata
Kabar cepat berembus dan untungnya Gema Tahir segera mengambil tindakan. Tidak lama setelah beberapa aduan sampai ke telinganya, ia segera memerintahkan Yudna, putri sulungnya untuk membelikan Gyan dan Aruna sebuah rumah tempat tinggal. Mereka harus hidup sendiri mulai sekarang, bahkan Ayah Gyan menambahkan beberapa ketentuan yang harus anaknya patuhi jika mereka keluar dari mansion istri keduanya di Sidoarjo. “Rumahnya kecil,” gumam Gyan di telepon pada kakak tirinya. Wanita itu yang membelikan dan memilihkan rumah ini, rumah yang akan ditinggali keduanya agar bisa keluar dari sarang penyamun itu. “Yah, mau bagaimana lagi, cuma itu hadiah yang bisa mbakyu kasih,” jawab Yudna sambil terkekeh pelan. “Aku yakin Mbakyu punya uang lebih dari cukup untuk beli seratus rumah jenis ini di Surabaya.” Gyan bisa mendengar kakak tirinya tertawa cekikikan di ujung sana, apa lagi rencana mereka sekarang? Gyan bertanya-tanya. Tapi ini ide luar biasa baik karena dengan begitu ia bisa membawa Aruna jauh dari ibunya. “Rumah itu ada 3 kamar, 2 kamar mandi dan ruang keluarga yang besar. Kamu harus bisa menakar kemampuan buat mengurus rumah tangga dan sebuah rumah. Itu cukup ideal kalau melihat berapa penghasilan kamu sekarang. Oh iya, Bapak bilang kamu tidak boleh pakai pelayan. Kalian harus urusi rumah berdua. Latihan jadi orang susah.” Yudna tertawa keras meledeknya. Gyan segera mematikan sambungan telepon karena merasa sangat jengkel pada kakaknya itu. Bagaimana bisa di usianya yang sematang ini dia masih harus diatur oleh mereka? Gyan bahkan tidak diberi pilihan lain. Sejak lahir hidupnya sudah diatur dan sampai sekarang itu masih berlanjut. Dan Yudna selalu saja menikmati saat-saat ketika ia mengolok jabatan Gyan di kantor sekarang—seorang staff biasa dengan gaji minimal pula. “Kamu suka rumahnya?” Gyan akhirnya beralih dan berhenti mengabaikan gadis yang bersamanya sejak tadi. “Rumahnya bagus.” Komentar itu membuat Gyan tersenyum tipis, dia–gadis itu, pandai mengganti ungkapan atas perkataannya. Gyan menarik pelan lengan istrinya dan mulai memasuki rumah yang akan mereka tempati. Ada sebuah sofa panjang berwarna abu-abu di tengah—begitu mereka masuk, di hadapannya terbentang sebuah televisi besar, dan di belakangnya terdapat dua pintu bersisian. Tidak jauh dari sana ada sekat sebatas d**a yang ternyata berfungsi sebagai meja pantry bar dan juga pembatas dengan area memasak. Di sebelahnya pintu kamar mandi, terdapat bathub dan water heater—lumayan juga. Akhirnya Gyan menemukan nilai plus dari rumah ini. Semuanya dirancang modern dan minimalis, khusus untuk sepasang manusia yang sibuk dan tidak punya pelayan yang membantu pekerjaan rumah. Di kamar utama ada sebuah ranjang dengan kasur besar tanpa dipan, langsung tersambung dengan walk in closet dan ada toilet kecil di sebelahnya. Dinding salah satu sisi kamar adalah sebidang kaca transparan yang menampakkan pemandangan terbuka. Di atas masih ada dua kamar lagi dan Gyan maupun Aruna belum ingin melihatnya. Mereka sama-sama terlanjur nyaman berdiam di kamar ini. “Aku suka rumahnya,” ujar Aruna tiba-tiba, memecah kesunyian di antara mereka. “Aku senang kalau kamu suka.” Gyan tersenyum. “Kamu mau kita pindah sekarang?” “Apa?” “Kita tidur di sini saja malam ini. Lagi pula semuanya sudah tersedia, besok aku ke Sidoarjo dan ambil barang-barang kita. Kamu di sini saja.” “Aku harus pamit pada ibu mertua.” Aruna bicara tiba-tiba, tampak tidak terima. “Tidak perlu terlalu sopan padanya.” Gyan mendecih. “Dia bahkan memperlakukan kamu dengan buruk.” “Tapi tetap saja—” “Aku bawa kamu ke sini agar kamu merasa lebih tenang dan nyaman.” Aruna terdiam, Gyan selalu mengeluarkan kalimat yang tidak ia sangka-sangka. “Tapi syaratnya.” Dia menjeda sesaat, melirik Aruna dengan ekor matanya sambil menyunggingkan senyum samar. “Di rumah ini kita tidak boleh pakai pelayan, asisten atau semacamnya. Bahkan baju harus dicuci sendiri, tidak boleh dibawa ke laundry. Kita harus gotong-royong dan kerja sama. Kamu tidak apa-apa?” Aruna mengangguk patuh. “Aku tidak apa.” “Kamu sepertinya sudah tahu soal itu.” Gyan tersenyum sambil memiringkan kepala. “Apa?” tanya Aruna bingung. “Tidak boleh ada pelayan di rumah ini.” Aruna tampak kebingungan. Lalu dia menggeleng. “Aku hanya diberitahu oleh ibu, bahwa setelah menikah dan keluar dari rumah maka semua fasilitas tidak berlaku lagi. Bahkan saat aku tinggal di rumah sendiri pun, aku tidak akan bisa mempekerjakan pelayan dari yayasan mana pun.” “Hah?” Gyan terperangah. “Kenapa orang tua kita menerapkan visi yang sama sebagai hukuman ini?” Pria itu setengah tertawa. “Tapi aku serius dan penasaran, Aruna, memangnya orang tua kamu bisa melakukan itu? Mengontrol kamu sampai sebegitunya?” Memangnya bisa, ya? “Ya.” Aruna mengangguk. “Bagaimana caranya?” Gyan sangat penasaran. “Mereka bisa melakukannya?” Aruna menjawabnya dengan serius. “Ya. Mereka bisa melakukannya.” Mereka bisa melakukannya.   ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN