Hanya dua hari setelah Aruna dan Gyan resmi pindah ke rumah baru mereka, ada surat panggilan yang tertuju ke alamat itu. Surat pemanggilan dari sebuah tempat bernama Shinena. Gyan tidak tahu itu apa, tapi ia bisa melihat jika Aruna mengenal dari mana surat itu berasal.
Di rumah baru ini mereka tetap tidur bersama, di kamar utama. Karena dua kamar lain ada di lantai dua. Masing-masing dari mereka terlalu malas untuk naik ke sana dan tidak ada yang mau mengalah hingga keduanya berdesakan di kamar utama saja.
Selama itu juga Aruna sendirian di rumah, membuka internet dan belajar dari banyak artikel maupun ulasan orang lain tentang mengurus sebuah rumah, mencuci pakaian dan menyiapkan makanan. Belum lagi membuang sampah, menyetrika dan berbelanja kebutuhan pangan. Aruna sangat awam, dia belum mengerti apa yang sebaiknya lebih dulu dikerjakan, ia banyak mencari tahu dan membaca agar bisa membagi waktunya dengan baik. Apalagi ketika surat itu datang dan ia kembali diminta bekerja, Aruna harus pintar-pintar membagi waktunya.
“Kamu masak?” Gyan bertanya padanya, karena di meja dapur mereka ada berbagai masakan yang sudah matang siap santap.
“Aku yang masak nasinya,” jawab Aruna singkat.
“Ah, maaf karena aku belum memberi kontribusi apa-apa sejak kita pindah.” Gyan menjelaskan.
“Nggak apa-apa, kamu bawa semua barang dari Sidoarjo sendirian.”
“Aku cuma bawa koper yang isinya baju lah, bukan hal besar. Ehm, ini enak, apa ini namanya?” Gyan rupanya berdiri sambil mencicipi makanan yang terhidang di meja. “Boleh aku makan?” Ia bertanya pada istrinya, yang mana izin itu ia ucapkan tadi saat sebelum mencicipi makanan yang terhidang di sana.
“Ayo kita makan bersama,” ajak Aruna mengiakan. Ia mulai menata mangkuk-mangkuk lauk di meja yang lebih luas untuk disajikan.
“Di mana kamu beli semua ini? Rasanya cocok, kita bisa makan makanan ini setiap hari.”
Aruna tersenyum kecil sambil menyendok makanan untuk diletakkan di piring Gyan. “Di restoran keluarga tidak jauh dari sini, aku dapat referensi dari internet.”
“Kamu pergi beli ke sana?”
“Mereka punya layanan pesan antar.”
Gyan membulatkan mulutnya tanda mengerti. Sejauh ini Aruna cukup baik dalam berkomunikasi, tidak sediam di awal. Belakangan ia mau berbincang, apalagi ketika Gyan tidak sengaja melakukan hal konyol dan memalukan. Gadis itu bisa tertawa juga dan tidak canggung membantunya berbenah.
“Omong-omong surat apa itu tadi?” Gyan bertanya ketika melihat kertas itu terlipat rapi di samping istrinya.
“Surat pemanggilan kerja, aku sempat diistirahatkan dan sekarang diminta untuk bekerja lagi.”
“Kamu bekerja?” Gyan mengerutkan alis. Dia pikir Aruna adalah jenis orang yang sangat feminim, seperti kakak kandungnya Hauna. Gadis-gadis kaya seperti mereka hanya mau hidup enak tanpa bekerja, semua fasilitasnya disediakan dan ditanggung penuh. Sementara para anak laki-laki bekerja dan membangun serta mempertahankan sumber mata pencaharian mereka demi kelangsungan dan kesejahteraan hidup keluarga.
Aruna mengangguk, tangannya sibuk menyendok dan menyuap.
“Di mana kamu bekerja?”
“Di anak perusahaan keluargaku,” jawab Aruna singkat.
“Sebagai apa?” Gyan tidak menyerah.
“Aku seorang penjahit.”
Gyan mengerucutkan bibirnya, entah kenapa untuk ukuran seorang anak gadis kaya, si pendiam ini terkesan banyak merendah. Dia tidak pernah mau terbuka soal apapun, apalagi soal keluarganya dan uang mereka. Dia tidak seperti orang kebanyakan yang bangga atas kepemilikan sebuah perusahaan atau berasal dari klan berpengaruh dan golongan konglomerat. Aruna seolah menutupi identitasnya rapat-rapat.
“Kamu jahit … baju?” Gyan bertanya lagi, entah kenapa dia menyosor gadis itu terus-terusan.
“Ya.” Lagi, Aruna menjawabnya singkat dan sukses membuat Gyan tidak mau kembali bertanya.
Sepertinya memang ia tidak perlu tahu, toh Aruna juga tidak pernah kepo pada hidupnya. Benar, Aruna tidak pernah mencoba ingin tahu atas apapun dan juga tidak kelihatan ingin memberitahukan sesuatu. Dia benar-benar menjaga agar hubungan pernikahan mereka hanya sebatas itu. Benar-benar terbatas.
“Aku yang cuci piring.” Gyan buru-buru bangkit saat Aruna selesai makan dan mencoba membereskan mangkuk-mangkuknya. Tentu saja Gyan tidak boleh membiarkan istrinya melakukan hal-hal di rumah sendirian bukan?
“Bisa memangnya?”
Gyan tersenyum dan menepuk d**a jumawa. “Aku kuliah di Cardiff dan tinggal di flat murah, sangat terbiasa dengan tugas rumahan.”
Aruna tampak memandangnya penuh kekaguman.
“Kamu kuliah di mana?” Gyan sendiri heran kenapa dirinya tidak berhenti-berhenti menanyakan soal Aruna sementara gadis itu tidak pernah repot-repot ingin tahu apalagi kembali bertanya.
“Di ... London,” jawab Aruna pelan, agak ragu-ragu.
“Wah, kita kuliah di negara yang sama. Kampus mana, Runa?” Gyan tergelak. Sejak kapan pula ia memanggil gadis itu dengan sebutan, Runa? Seolah mereka sudah sangat akrab sekali.
“Aku belajar menjahit dari sana,” jelas Aruna merasa tidak nyaman dengan suara tawa Gyan barusan. Apa maksudnya, kan?
“Oh ya, sepertinya gelar penjahit itu tidak sesederhana kedengarannya.”
Gadis itu tidak menjawab lagi, ia buru-buru berlari dan Gyan bisa mendengar suara keran terbuka yang menyamarkan suara Aruna tengah memuntahkan kembali semua makanan yang baru saja ia telan. Tiba-tiba Gyan juga merasa mual, mungkin hanya sugestinya. Apa Aruna selalu seperti itu setiap habis makan?
“Kamu tidak apa-apa?”
“Tidak apa-apa.” Aruna menggeleng pelan sambil membuka kulkas. Ada air mineral dan jus buah yang siap ditengtidak olehnya.
“Kamu sungguh tidak apa-apa?” Gyan kembali bertanya.
“Aku baik-baik saja.”
“Serius?”
Aruna mengangguk pelan dengan kepala tertunduk, tangannya berpegangan pada meja. “Maaf,” ujarnya lamat-lamat.
“Maaf?” Gyan membeo.
“Pasti jijik sekali, ya.”
“Muntahan kamu?”
Gyan tidak habis pikir apa yang dikatakan gadis ini setelah semuanya. Dia meminta maaf karena sudah muntah akibat mengandung anak Gyan? “Hei jangan bilang begitu lagi, ya? Kamu lagi berjuang sekarang. Tidak apa-apa.”
Gyan mendekat ke arahnya dan mengangsurkan serbet bersih karena tidak ada tisu di sana, membantu Aruna menyeka wajahnya yang basah terkena bilasan air keran.
Entah kenapa diperlakukan seperti itu membuat Aruna meleleh, ia menoleh pada Gyan yang benar-benar khawatir melihat ke arahnya. Kalau dihitung mungkin hanya 2 kali Gyan memergokinya muntah-muntah. Sementara ia bahkan bisa muntah sehari 4 sampai 5 kali. Mungkin jika mendengarnya sesering itu Gyan tidak akan berkata baik seperti sekarang. Pasti dia merasa jijik juga. Aruna tersenyum tipis.
“Kamu istirahat. Biar aku yang beres-beres.”
“Aku tidak apa-apa.” Aruna menegaskan.
“Kamu baru saja muntah, perutnya pasti tidak enak. Ayo ke kamar, aku antar.” Gyan sudah bermaksud untuk menggiringnya berjalan sebelum Aruna menahannya lagi.
“Mas... Gyan,” panggilnya ragu dan Gyan mematung di tempat. Bukankah ini pertama kalinya Aruna menyebut nama itu? Memanggil Gyan seperti itu? “Aku tidak apa-apa.”
“Tapi aku khawatir,” jawab Gyan buru-buru. “Aku khawatir padamu,” lanjutnya lagi.
Aruna berdeham, membuang pandang dan merasa wajahnya panas, kenapa juga Gyan harus mengatakan itu? Apakah dia tidak tahu hati perempuan begitu mudah tersentuh?
“Oh .. oke, lagi pula besok aku harus mulai kerja. Terima kasih, ya.” Gadis itu buru-buru pergi meninggalkan Gyan dan masuk ke kemar.
Gyan bisa melihat wajah Aruna memerah. Apa gadis itu marah kepadanya? Apa dia mengatakan hal yang salah? Gyan tidak mengerti.
Ia kembali pada mangkuk-mangkuk kemudian menyedot debu di karpet dan sofa ruang keluarga. Lalu ke ruang mencuci dan di sana pakaian-pakaian sudah berderet rapi di atas gantungan jemuran. Beberapa bahkan sudah rapi disetrika. Aruna yang melakukannya.
Gyan bergegas ke kamar dan mengingat koper-kopernya yang belum ia bereskan. Pria itu menyelinap ke balik tempat tidur dimana walk in closet mereka terpampang nyata. Semua pakaian sudah keluar dari koper dan bergantung rapi serta beberapa ada yang dilipat. Aruna melakukannya lagi sendirian, padahal dia sedang dalam fase muntah-muntah itu. Gyan merasa tidak tega membayangkan gadis itu mengerjakan ini semua. Sementara ia hanya pergi pagi pulang sore dari tempat kerja tanpa berkontribusi apa-apa.
Jauh di dalam lubuk hatinya, Gyan tidak pernah menginginkan hal ini terjadi. Pernikahannya yang mendadak, kepindahannya ke rumah sederhana ini, posisinya yang sekarang turun drastis sebagai staff berpangkat rendah.
Namun menjalani hidup dengan perempuan bernama Aruna Sunari Kamandayu itu juga tidak membuatnya merasa keberatan. Dia benar-benar gadis yang baik, dia tipikal orang yang paling susah untuk dibenci. Aruna akan tetap baik meski pernah disakiti sengaja atau tidak. Dia membuktikan itu dengan bersikap terhadap ibunya Gyan.
Orang sebaik ini, mana mungkin dibenci kan? Terlebih, tampilan fisiknya enak dilihat. Gyan tidak pernah ingin membahasnya tapi ia adalah laki-laki normal, makhluk visual. Gyan pernah mencumbu Aruna dengan sangat b*******h di Bali waktu itu dan tidak bisa mengabaikan wajah cantiknya yang tentu saja menjadi aset terbaik setelah apa yang diakukan gadis itu pada tubuhnya.
Dan saat ini, memandangi wajah Aruna yang tidur lelap dalam pencahayaan yang temaram membuatnya tersadar tentang betapa cantiknya perempuan itu. Gyan hanya sering mengabaikannya dan berusaha keras menggunakan akal sehat agar tidak tumbuh apa pun di antara mereka berdua.
Aruna begitu memesona. Gyan harap bayi mereka kelak mirip dengan gadis itu saja agar kekaguman semacam ini akan diterima oleh anaknya juga. Dia harus memukau seperti ibunya.
…