ENAM

1019 Kata
Sudah satu minggu dan Aruna baru berani menginjakkan kakinya keluar dari rumah dan dunia barunya. Itu juga berkat surat panggilan kerja yang mampir beberapa hari yang lalu, jika tidak, mungkin ia akan terus mengurung diri dan enggan keluar. Ia merasa aman dan nyaman, rumah baru yang dihadiahkan keluarga suaminya seperti tempat persembunyian. Di mana ia merasa tidak akan ada yang mengganggu ataupun berlaku tidak menyenangkan kepadanya. “Kamu sekarang Branch Manager yang baru.” Aruna tertegun mendengar perkataan kakak iparnya. Setelah ketahuan hamil di luar nikah dengan pria asing, keluarga besarnya secara terang-terangan mendepaknya dari jajaran orang penting. Aruna harus menelan bulat-bulat jika Shinena yang ia bangun dengan keringat dan air mata kini diberikan secara cuma-cuma pada kakak iparnya, Gending. Wanita itu adalah istri dari kakak kandung Aruna. Dulu tidak ada satu orang pun di keluarganya yang setuju ia terjun ke dalam bisnis ini, mereka selalu meremehkannya. Karena bisnis pakaian atau mode tidak sehebat bisnis keluarga besar mereka. Meski bukan pewaris utama, Aruna tetaplah anak perempuan Kamandayu satu-satunya yang tidak boleh hidup sembarangan dan salah arah. Namun perjuangannya membuahkan hasil, membangun sebuah brand hingga sebesar ini merupakan sebuah kebanggaan. Dan tak lama lisensi Shinena diterbitkan hingga menjadi anak resmi dari Key Enterprise di bawah pengawasan langsung Key Holding’s. Secara tidak langsung merk dagang Aruna juga dalam pengawasan keluarganya. Kemudian ini lah yang terjadi. Dia seorang pemilik, founder, desainer, dan partner semua pegawainya harus rela di depak secara tidak hormat karena skandalnya baru-baru ini. Kirana Sunari Kamandayu—ibu kandung Genyas, istri dari Komisaris Key Holding’s secara official memilih Gending, menantu kesayangannya, sebagai Direktur Utama Shinena. Aruna diistirahatkan untuk beberapa saat sampai masalahnya terselesaikan dan sekarang diminta kembali dengan posisi di bawah kaki iparnya. Lucu sekali karena mereka sadar jika Shinena tanpa Aruna berarti seperti komputer tanpa procesor, atau tubuh tanpa otak. Gending mungkin memiliki ilmu administrasi dan pemasaran yang mumpuni, tapi membangun dan menjalankan sebuah brand tidak terpatok hanya dengan pemasaran saja. Harus ada ide, revolusi, loyalitas dan cinta terhadap desain. Dan itu hanya dimiliki Aruna, bukan Gending. “Manajer, tidak apa-apa. Untuk kami semua, Anda tetap atasan yang kami hormati. Pikirkan ide-ide yang belum sempat kita realisasikan. Gaun untuk Celine Hwang dari Singapura dan yang lainnya.” Salah seorang pegawai mencoba menghibur, ketika mereka mendapati ruangan Aruna praktis berada di luar kantor utama. Wajah perempuan itu mendung, ada rasa tidak rela menghampirinya. Namun ia juga tidak mungkin meninggalkan Shinena dalam keadaan seperti ini, pamor dan nama baiknya sedang dipertaruhkan. “Selamat atas pernikahan Anda, Manajer. Kami ikut bahagia, semoga kandungan Anda juga sehat selalu.” Para pegawai itu menyalaminya, menyerahkan bingkisan dan sebuah buket bunga krisan. Aruna tersenyum penuh rasa syukur, meski dalam hatinya ia tetap tidak percaya bahwasannya klan keluarga ekslusif mereka membiarkan berita semacam ini menyebar dengan mudahnya. Atau kabar ini justru sengaja disebarkan oleh kakak iparnya? “Terima kasih,” jawab Aruna tulus menerima kebaikan mereka. “Kami yang akan menjaga Anda mulai sekarang.” “Nggih, sampean ndak boleh terlalu capek. Beberapa penjahit kita wes mahir dan bisa menjahit baju sebagus njenengan. Jadi Ibu Manajer ndak usah menjahit dulu, ya.” “Bu Manajer, jangan khawatir. Bagi kami Anda tetaplah pemilik tempat ini, Shinena bukan apa-apa tanpa Aruna Sunari. Kita anggap saja orang di dalam sana itu tim marketing yang baru. Shinena akan tetap berpusat pada pemilik aslinya.” “Ssh ... hati-hati kalau bicara, Direktur kita yang baru itu agak aneh. Dia suka menyebarkan rumor.” Mereka banyak membicarakan hal lain dan bersahut-sahutan. Aruna agak sedih menerima kenyataan jika sekarang kakak iparnya menyimpan rasa benci dan marah. Itu praktis karena dia sudah empat tahun menikah dan belum memiliki anak sampai sekarang, sementara Aruna akan memilikinya dalam waktu dekat. Gending benci ada orang yang melampaui kesempurnaan hidupnya. Dulu ia dan Aruna memiliki hubungan yang baik, tapi sejak mengetahui adik iparnya hamil dan menolak menggugurkan kandungannya ia berbalik marah. Aruna sudah pasti akan jadi sasaran amukannya di tempat kerja. Padahal baru saja ia mendapatkan hari-hari yang damai. “Saya pamit ke toilet dulu.” Aruna undur diri dari kerumunan pegawainya menuju toitlet terdekat. Trisemester pertama merupakan waktu yang melelahkan di mana selain mual dan muntah ia juga sering ke kamar mandi untuk buang air kecil. Dari artikel yang ia baca, rahimnya mulai membesar karena di dalam sana ada kantong janin dan menekan kandung kemih. “Ah … Bu Manajer.” Seseorang menahan langkah Aruna untuk pergi, sampai ia berbalik lagi. “Jadi begini … pintu toilet kita sekarang pakai finger print. Anda belum punya, kan? Waktu kami bikin itu Ibu belum masuk kantor lagi, sepertinya sementara Anda harus pakai toilet di lantai bawah. Apa perlu saya antar?” Aruna mengerutkan alis, untuk dua detik pertama merasa tidak percaya pada pendengarannya. Sejak kapan ada toilet yang harus diakses dengan finger print? Bukankah berlebihan? Apakah mereka menyembunyikan sesuatu di sana? Tidak, bukan? Kekonyolan yang sangat tidak bisa diterima akal sehat. Aruna menaikkan kedua bahu lalu menggeleng pelan dan berputar arah mencari toilet yang lain di gedung ini. Semoga saja yang diakses dengan finger print hanya toilet di lantai ini. “Perempuan itu serius menindas adik iparnya, aku baru tahu apa tujuannya sekarang waktu mengumpulkan semua orang agar kunci toilet mereka pakai finger print. Dia tahu kalau orang hamil akan sering ke kamar kecil.” Sepeninggal atasannya, beberapa pegawai itu berkerubun dan mulai mencari topik untuk dibahas bersama. “Dia jahat sekali.” “Yah lihat saja mukanya, nyeremin, nggilani.” “Ndak tahu Mas Keenan kelilipan jenglot mungkin waktu ngawinin perempuan ini.” “Benar-bener, dia tuh melahirkan anak saja ndak bisa, wataknya jelek. Mereka ini jodoh-jodohin anaknya ndak lihat bibit bebet bobot apa, ya? Sing penting jumlah aset dan kekayaan.” “Tapi lho saya kaget juga, ini Bu Aruna keliatan kalem kenapa tiba-tiba hamil terus dikawinin diam-diam? Kira-kira kayak apa ya laki-laki yang dikawininnya itu?” “Katanya cuma orang biasa sampai Komisaris kasih hukuman koyok ngene, dia sampai didepak dari perusahaan sendiri dan dijadikan manajer biasa.” “Sstt … wes wes, ndak usah gosip terus.” “Kembali bekerja!” Suara teriakan Gending yang hanya beberapa meter dari mereka menginterupsi dan membuat semuanya bubar kembali ke meja masing-masing. Meninggalkan sejumlah gosip dan tanya yang menggantung di udara, yang entah akan menemukan jawabannya atau tidak. …  Hai, ini Vinn. Salam kenal. Maaf ya jarang menyapa di lapak ini. Ada sedikit yang mau diluruskan perihal kesalahan/typo di awal cerita. Kebetulan ini on going jadi agak riskan kalau diedit makanya aku sampaikan di sini saja. Setting tempat Aruna dan Gyan bertemu pertama kali adalah Bali, bukan Maldives ya. Mohon maaf untuk kesalahan yang terjadi. Selamat membaca kisah Gyan dan Aruna kembali, kita akan update setiap hari, semoga kalian betah ya. Sampai jumpa lagi! 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN