TUJUH

1194 Kata
“Kinerjamu payah! Benar-benar buruk!” Aruna tersentak kembali ketika ia ingat kalimat yang dilontarkan kakak iparnya di kantor tadi siang. Sudah beberapa hari ia kembali bekerja dan baru hari ini ada interaksi dengan sang ipar. Klien mereka dari Singapura, sosialita Celine Hwang memesan sebuah gaun dari Shinena seharga lima ratus ribu dollar. Tidak usah dibayangkan seperti apa gaunnya, proyek itu merupakan sesuatu yang Aruna kerjakan sendiri dengan tangannya tanpa bantuan siapa-siapa. Ia dan Celine berteman baik, namun gaun itu akan dipakai untuk kunjungan resmi ke mansion keluarga bangsawan Inggris yang akan jadi suami Celine. Sialnya, gaun itu belum selesai sampai hari ini. Dan itu semua adalah salahnya. Kondisi tubuhnya sangat tidak stabil, Aruna bisa tiba-tiba muntah mencium wangi baru kain-kain dalam ruang menjahitnya. Belum lagi ia harus naik turun tangga menuju toilet di lantai satu untuk buang air. Waktunya begitu tersita dan bahkan gaun itu belum jadi setengahnya. Dia pulang ke rumah dengan keadaan nyaris kolaps, terbaring di ruang keluarga tidak berdaya. Mungkin seharusnya ia tidak menerima dulu tawaran kembali dari Shinena, tapi memikirkan Celine membuatnya terluka. Gaun itu bagaimana pun caranya harus ia selesaikan sebelum deadline tiba. Gaun itu harus dikirim ke Singapura segera. Atau ke Inggris? Kemana pun lah Celine memintanya. “Kamu sudah pulang?” Aruna mendongak ketika melihat suaminya keluar dari kamar utama. Ia tidak tahu jika Gyan sudah di rumah. Pria itu bahkan belum mengganti kemejanya, dan ia tampak kusut masai. “Kamu sudah makan malam?” Aruna bertanya. Biasanya mereka akan makan masing-masing setelah pulang bekerja atau memesan layanan pesan antar. “Aku udah makan, kamu?” “Aku juga,” jawab Aruna bohong. Kemudian Gyan duduk di ujung sofa, dekat kaki istrinya. Bisa dilihat jika lelaki itu menjalani hari yang berat. Aruna ingin sekali bertanya, tapi nampaknya diri sendiri juga sedang merana. Bagaimana bisa ia menjadi pendengar yang baik untuk Gyan? “Malam ini biar aku yang cuci baju,” ujar Gyan tiba-tiba. “Tidak apa-apa, biar aku saja.” “Kamu kelihatan kurang sehat.” “Aku baik-baik saja.” Kemudian hening. Gyan tahu Aruna membohonginya, bagaimana mungkin wajah pucat itu tidak menjelaskan kondisinya? Aruna terlihat sangat payah. Gadis itu tidak pernah terlihat lemah dan kini terbaring menyedihkan di sofa ruang tengah. Namun dirinya sendiri juga tak kalah lelah. Banyak hal yang terjadi di tempat kerja dan itu membuatnya tertekan. Gyan tidak peduli pada olok-olok para karyawan lain tentang rumor dirinya dan tentang pelepasan jabatannya. Ia hanya muak mengerjakan sesuatu yang bukan keahliannya. Gyan melakukan beberapa kali kesalahan dan sifatnya bisa saja fatal. Dan dia tidak terbiasa hidup seperti itu. Ia minta dipindahkan ke bagian lain namun Yudna berkilah jika posisi yang kosong hanya ada di tempatnya sekarang. Divisi yang berbeda tidak memerlukan pegawai lain. Gyan sangat benci berkutat dengan kertas dan angka-angka. Ia tidak suka. Gyan tidak mau mengurusi keuangan perusahaan sekaligus mengatur pembayaran yang dipakai untuk mengurus rumah besar, mansion ibunya di Sidoarjo dan tagihan-tagihan kartu kredit kedua kakaknya. Ia benci melakukan itu. “Weekend nanti, aku akan lap semua jendela, gosok lantai kamar mandi dan bersih-bersih di lantai dua.” Gyan membuka kembali obrolan mereka sambil menengadah untuk melihat ke atas, ke lantai dua yang dimaksudnya. Dan tempat itu hampir tidak pernah disambangi manusia. Aruna meliriknya. “Kalau begitu aku mau menyetrika semua pakaian kerja kita dan mengganti seprai di kamar.” Gyan mengangguk setuju, sepertinya bukan ide buruk. “Yah, biar aku yang mengerjakan pekerjaan berat.” Ia tersenyum sambil menepuk d**a. “Aku juga mau traktir kamu makan siang yang enak, kamu mau apa?” “Apa saja, tapi rawon setan yang pedas sepertinya enak.” “Oke, rawon setan. Ingatkan kalau aku lupa,” ujarnya. “Nanti setelah gajian kita makan sesuatu yang enak di luar. Kamu mau?” Gadis itu menggeleng lemah. “Aku lebih suka layanan pesan antar.” “Runa ... ayolah!” “Aku tidak mau muntah di restoran.” Ah tentu saja, kenapa Gyan malah baru ingat soal itu. Aruna kan sedang mengandung anaknya, perempuan itu muntah setelah makan dan sekarang tampak begitu pucat. Apa mungkin ini karena kehamilannya juga? “Maaf aku lupa soal itu.” Aruna hanya tersenyum menanggapinya. Di dunia ini yang setiap hari mengingat dirinya sedang hamil adalah Gending, sang kakak ipar. Wanita itu begitu dengkinya hingga selalu berusaha membuat Aruna tertekan atau kecapaian. Mungkin tujuannya untuk membuat Aruna kelelahan malah parahnya adalah keguguran. Selebihnya tidak ada orang yang benar-benar ingat atau pun peduli tentang kehamilan itu, bahkan Gyan—suaminya sendiri. Dan meski itu adalah alasan kenapa sekarang mereka tinggal di sini, menikah, hidup bersama, Gyan sepertinya tidak pernah ingat kalau akan ada seseorang sebentar lagi yang di antara keduanya. Aruna harus hidup dengan kenyataan pahit seperti ini sejak dia dan Gyan bertemu tiga bulan yang lalu dan menelan semuanya bulat-bulat. **** Sudah jam sepuluh malam dan Gyan melihat Aruna masih di ruang tengah, memegang sepotong kain berwarna putih gading dengan banyak bebatuan di atasnya. Gadis itu menjahit satu persatu batu di atasnya dengan tangan, beberapa batuan itu diambil dari kotak kecil dengan merek terkenal yang Gyan hafal. Lampu sorot berwarna putih diletakkan dekat—benar-benar sangat dekat dengan tangan Aruna, jarum jahitnya juga potongan kain yang ia pegang. Pekerjaan yang membutuhkan ketelitian tingkat tinggi, keahlian juga keterampilan yang mumpuni. Aruna duduk di bawah sofa ruang tengah, dengan meja kecil yang sepertinya bisa dilipat, mungkin Gyan harus berpikir untuk membuatkannya ruang kerja khusus nanti—saat anggaran belanja mereka sudah jelas posnya. “Apa itu baju pesanan?” Gyan membuka obrolan. Aruna berdehem pelan. “Ya.” Gadis itu menjawab singkat. Harusnya ia menggunakan semacam mesin jahit untuk membuat baju, bukan? Oke baiklah jika profesi Aruna memang seorang penjahit, seperti pengakuannya. Tapi Gyan tidak tahu jika menjahit seperti inilah yang dimaksud olehnya. Gyan mengikuti gerak tangan Aruna yang untuk kali kedua mengambil sesuatu di dalam kotak perhiasan Cartier dan menyematkannya pada ujung jarum dengan benang tipis. Kemudian tangannya dengan super hati-hati mengambil jarak beberapa milimeter agar perhiasan itu menempel sempurna dengan benang di atas bajunya. Gyan bahkan sampai menahan napas melihat Aruna melakukan itu. Dan jujur saja melihat hasil kerja Aruna, ia terpana. Meskipun laki-laki, Gyan memiliki selera berbusana yang baik. Dia baru saja melihat gaun paling cantik seumur hidupnya hari ini. Aruna terbatuk, dengan buru-buru ia memasukkan kembali gaun itu ke dalam kantong parasut di dekatnya, kemudian membuka sarung tangan karet berwarna putih yang ia kenakan dan membuangnya ke tong sampah lalu berlari ke westafel. Dan setelahnya muntah dengan hebat. “Hei … hei ...” Gyan terkejut mendapati hal itu secara mendadak di hadapan matanya. “Kamu baik-baik saja?” “Ya.” Aruna kembali muntah hingga air matanya keluar dan tangannya gemetar. Gyan panik. “Kamu sakit? Kamu baru selesai makan?” Gadis itu menjauh dari westafel dan mengambil beberapa tissue dalam kotak terdekat. “Aku selalu muntah setelah menjahit beberapa lama. Tidak apa-apa.” “Kamu harus ke dokter.” Gyan bersikeras. “Tidak. Aku tidak apa-apa.” Rasanya Gyan jengkel sekali mendengar ucapan tidak apa-apa itu. Kalau dihitung sejak pertama kali mereka menikah, berapa kali ia mengucapkannya? Dan makin lama itu terdengar seperti omong kosong saja. “Kita ke rumah orangtuaku Jumat malam nanti, ada acara minum teh dengan keluarga besar.” Tiba-tiba Aruna menginterupsinya, aneh dan lucu mendengar perempuan itu tiba-tiba bicara hal seperti ini. “Ke rumah orangtua kamu?” Gyan terpana sebentar. Rasanya ia seperti dapat undian sabun colek mengingat keluarga Aruna super tertutup dan bahkan tidak pernah diceritakan oleh putri mereka kepadanya. Apakah ini adalah kesempatannya untuk dekat? Tapi buat apa juga Gyan ingin dekat dengan mereka? Mungkin karena Aruna super misterius makanya Gyan jadi penasaran setengah mati pada keluarga yang terkenal dengan sebutan Kamandayu itu. “Aku harus pakai baju apa?” Aruna tersenyum kecil sambil mencuci tangannya di westafel terdekat. “Mau aku bantu pilihkan?” tawarnya murah hati. “Tentu, aku percaya kalau selera penjahit pasti sangat bagus.” ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN