Aruna duduk dengan anggun dalam balutan gaun malam tertutup berwarna baby blue. Bagian atas bajunya memiliki ruffle bertumpuk sampai ke batas perut yang entah sengaja atau tidak membuat kesan bahwa ia memang sengaja menyembunyikan perutnya. Sementara Gyan di sampingnya memakai kemeja atasan berwarna navy dan celana bahan Chanel tanpa gasper, terlihat kasual namun bergaya. Ia menyukai cara Aruna memilihkan pakaian untuknya.
“Kamu bohong, ini bukan acara minum teh keluarga.”
Gyan berbisik pelan ketika memasuki sebuah lahan super besar dan ia bahkan tidak tahu ada tempat seperti ini di Surabaya—ke mana saja dirinya? Apa karena Gyan banyak menghabiskan waktu di Sidoarjo dan Malang? Gyan sebelumnya tinggal di sana dan baru pindah ke Surabaya sejak menikah dengan Aruna.
Di taman belakang rumah ini—kelihatan begitu, ada puluhan–ah, mungkin ratusan manusia bertebaran di dalamnya. Mereka bahkan secara pasif tidak Gyan kenali. Tapi orang-orang yang datang ke sini pasti bukan orang biasa, ia meyakininya, entah kenapa.
“Runa! Ealah ... Nduk, Nduk ...” Dua orang wanita paruh baya dengan nada suara yang dibuat-buat tampak melihat kehadiran Gyan dan Aruna lalu mulai berjalan mendekat.
“Mereka itu tante dari pihak ibu.” Aruna berbisik pelan lalu dengan cepat memberi salam pada kedua bibinya, memberi ciuman di pipi dan saling memeluk.
Dua wanita itu tersenyum pada Gyan. “Jadi ini dia, ya ampun ... saya kira kita ndak akan pernah ketemu. Namanya siapa? Gyan, kan?”
Salah satu dari mereka menyapa dengan agresif sambil menyebut nama Gyan dengan pelafalan GIAN yang keras dan tidak repot-repot menyembunyikan tatapan menilai serta menyelidik Gyan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Membuat pria itu tersenyum kaku dan merasa kurang nyaman.
“Apa kabar kalian? Jadi, sekarang tinggal di mana? Kita ini Nduk, benar-benar ndak dateng waktu pernikahan kalian, Bulek menyesal sekali. Maaf ya.”
“Nggak apa-apa, Bulek.” Aruna tersenyum ramah. “Kami sekarang tinggal di Sambikerep.”
“Kalian tinggal di perumahan? Cluster? Atau apartemen?”
“Di ... rumah,” jawab Aruna ragu sambil tersenyum canggung. “Rumah yang dihadiahkan mertua.”
Para bibi itu tertawa cekikikan. “Ya ampun ... syukur Nduk, kami dengar mertua kamu orang yang baik dan berkepribadian luar biasa, ada artikel wawancara motivasinya di internet. Bulek senang kamu diperlakukan penuh kasih sayang.”
Entah maksudnya menyindir atau apa, tapi Gyan merasa ganjil dengan perkataan dua wanita itu. Ia tidak bisa ikut tersenyum atau tertawa seperti mereka.
“Nah Gyan, jadi Aruna bagaimana kalau di rumah? Apa dia baik? Makannya rewel? Apa dia mengerjakan pekerjaan rumah sendiri?”
Pria itu mengernyit. “Kita kerja sama,” ujarnya kikuk.
Salah satu dari mereka tersedak dengan mata membulat. “Yang benar? Kamu ngapain aja?”
“Saya membersihkan lantai dua, langit-langit, buang sampah …”
Kenapa juga ia harus memberi informasi seperti ini kepada mereka? Apa gunanya?
“Wah, rumahnya dua lantai! Saya seneng mendengarnya. Pasti rumahnya bagus. Bulek boleh ke sana lain kali?”
“Boleh.” Gyan menjawab sekenannya, ia agak tersinggung karena kalimatnya dipotong barusan.
Aruna tidak sedang melihatnya, perempuan tampak menikmati sepotong red velvet yang ada di meja terdekat dan memutar-mutar garpunya dengan fokus.
“Aruna? Gusti … setelah sekian lama akhire ketemu. Apa kabar? Gimana kandungannya? Sehat?”
Kali ini datang lagi gerombolan lain bahkan sebelum yang dua tadi pergi dari hadapan mereka. Kali ini ada dua orang lagi wanita gemuk setengah baya dan tiga orang pria sebaya mereka dalam gerombolan. Gyan memberi salam sekenannya.
“Kami ini teman-teman dari orang tua Aruna. Salam kenal ya, Mas Gyan. Sapa saya kalau nanti kita ndak sengaja ketemu di jalan.”
Pertanyaan Gyan sudah terjawab.
“Runa baik-baik saja, kami sehat.” Aruna membalas pelukan mereka sambil berbincang, melupakan red velvet cakenya barusan.
“Lagi pada ngobrolin apa, omong-omong?”
“Ah, biasa ... kami cuma tanya-tanya soal kehidupan pengantin baru. Kayakne seru, mereka ndak punya asisten di rumah dan gotong royong bersih-bersih setiap sudutnya”
“Yang benar?” tanya seorang perempuan bertubuh gemuk. “Ya ampun! Mas Gyan, saya mohon maaf sekali kalau haru bilang ini, tapi Aruna lagi mengandung, saya harap dia ndak terlau capek, ya? Oh ngomong-ngomong berapa usia kehamilannya?”
Gyan membatu, ia tidak tahu. Dan pertanyaan terakhir itu ditujukan padanya. Gyan menoleh pada Aruna namun gadis itu tidak sedang melihatnya dan malah terkesan menghindarinya.
“Menginjak tiga bulan,” kata Gyan pada akhirnya. Tidak mampu menutupi raut wajah ragu serta tidak yakin yang terlukis di wajahnya. Ia menarik napas dalam-dalam, merasa enrginya terkuras.
Gyan banyak bertemu dengan orang, tapi tidak dengan orang-orang seperti ini, entah keluarga macam apa yang tengah didatanginya malam ini.
Seumur hidupnya ia tidak pernah merasa kerdil selain diintimidasi oleh istri tua ayahnya. Baru para wanita ini yang berhasil membuatnya muak sekaligus malu bersamaan—tanpa alasan yang jelas.
“Kalau begitu kami pamit dulu, ya, Nduk? Kalian pasti belum ketemu sama Bapak Ibu, kan? Saya dengar malam ini mereka merayakan Gending yang memegang jabatan baru di Key Fashion. Ayo ke sana, kasih selamat kakak iparnya.”
***
Key Fashion? Entah sejak kapan ada nama itu di antara banyaknya anak perusahaan milik keluarga mereka. Aruna membangunnya dengan nama shinena bukan Key Fashion. Dan bagaimana mungkin ia bertemu muka dengan kakak iparnya hari ini? Justru dia adalah orang yang paling ingin Aruna hindari setelah ibu mertuanya.
Aruna duduk di sembarang tempat dan mengabaikan Gyan yang sejak tadi kebingungan, terkejut, canggung dan lain-lain di sebelahnya. Pandangannya lurus ke depan melihat ibu kandung yang ia rindukan tengah bercengkrama dengan sang ipar. Sementara ayah Aruna berdiri tak jauh dari mereka.
“Kita tidak ke sana untuk menyapa mereka?” Gyan membuyarkan lamunannya. Aruna merasa bersalah pada pria di sampingnya, ia tidak pernah memberitahu Gyan apa-apa dan pria itu tidak mempersiapkan diri untuk datang ke sarang serigala.
“Aku mau melihat ibu dari kejauhan saja.”
Gyan tahu perempuan ini merindukan ibunya sebanyak yang tidak bisa ia katakan. Aruna bahkan tidak pernah kemari sejak hari pernikahan mereka, tidak pernah ada komunikasi yang terjalin di antara keduanya. Ibu Aruna masih sangat marah dan muak melihatnya.
Rasanya cemburu melihat sang ibu bercengkrama dengan iparnya.
“Aruna, aku boleh izin pamit ke sana sebentar? Aku melihat ada teman yang kukenal di sana. Aku mau menyapanya.”